Di bangku tunggu itu, jam demi jam Ada yang selalu silih berganti Tapi kenapa hanya kita yang terus menanti? Lorong matamu yang penuh keteduhan Menetaplah sebagai atapku
Kita membunuh waktu dan nasib yang sebentar lagi hangus Hidup jadi tidak hidup Jika melulu dibuntuti maut di tiap sudut Hidup memang fana Itu yang sulit aku terima Bencana dan keberuntungan Bencana adalah semacam kehilangan cintamu Dan keberuntungan menjadi kepakan sayap doa-doamu