esok
Ufuk barat telah menunjukan cahaya merahnya
Petang tergambar dalam arloji hitam
Semakin cepat detik kian berdetak
Angin berbisik dalam keheningan ruang telinga
Takdir adalah alamiah
Dan nasib adalah peristiwa
Mentaru itu fatamorgana
Sedangkan purnama tetap pada tempatnya
Setelah satu siklus matahari selesai
Perjamuan sudah jadi tanah hara
Air mata hanya jadi ampas perjuangan yang tersia
Perlahan menyiksa setiap insan yang hendak mencari peruntungan
Naas namun begitulah cara waktu bekerja
Disisi lain, purnama tak diperbudak oleh kejamnya waktu
Ia selalu menengok kesegala penjuru mata angin
Memperhatikan lewat dinginnya ruang gelap
Menyesuaikan tanpa ada kefanaan
Menemani insan yang tak terlelap
Barangkali memang kekhawatiran adalah hal yang alamiah
Menghantui dari kepala ke kepala
Mempertanyakan takdir dan nasib
Purnama berbisik mengenai keyakinan
Matahari menghempas setiap angannya
Inilah kehidupan tuan!
Dan sisi paling menarik dari keyakinan adalah dusta
Hanya manusia yang mengkhianati purnama
Mendekati mentari dan masuk dalam jeruji
Hari demi hari adalah buatan sang waktu
Ia dan mentari menjelma sebagai sumber kehidupan
Bermain kartu untuk sebagai undian
Takdir mana yang akan datang
Itu alamiah tuan!
Suatu saat ia akan datang
Dan nasib tak bisa dielak
Ia adalah peristiwa
Sekali jatuh ia akan bertindak
Baik dan buruk pun bak bermain dadu
Dipajang dietalase rokok dan ruang sempit
Namun bisa juga ia berenang dengan tenang ke hilir sungai
Esok,
Takdir mana lagi yang akan datang
Nasib mana lagi yang akan dipilih
Konon tuhan yang baik akan selalu datang dipenghujung tahun
Dan bila esok datang lagi