Posts

Showing posts from March, 2017

Lamunan di ujung teluk

"lamunan di ujung teluk" 05.33 WIB - sebuah prolog singkat dalam lorong sepi bangunan itu, berjalanlah ia seorang diri ke tempatnya menenun waktu. Sudah tiga tahun lebih kiranya ia disini, pergi pagi mengharapkan sendu untuk menjadi sesuatu yang abadi, hingga nanti mencapai titik tertinggi. merangkai kata dalam degapan saru pena dalam buku tulis bersampul kuning. Sampai ia teringat bahwa waktunya tinggal beberapa minggu lagi, waktu yang kan terasa singkat untuk mencapai ujung garis, semuanya akan segera berakhir. Usai sudah lelah, untuk sesaat, hingga nanti ia bersulang di bawah awan biru sumringah. sebelumnya dalam sekoci kecil ia terombang ambing, merasa bingung karena disini semakin lama hanya tersisa masamnya buah belimbing. Mau tidak mau, menjadi alasannya hidup karena tak ada jalan keluar dalam dekapan laut. Memang bukan rahasia umum bahwasannya semua insan tahu, tidak ada yang mudah dalam mengarungi ombak yang terus menggebu. walau begitu teruslah ia hidup karen...

warna hari ini

2014, pertama kalinya aku tahu Perihal cara mengubah hitam menjadi biru Atau merah mejadi hijau Dengan sebuah cara yang tabu Lampu redup, satu bola pingpong, layar merah Serta suara statik memanah Kau mungkin sudah bisa menebak Hal gila untuk menerbak Tiga puluh menit Bersabar, diam dengan nikmat Berharap semua sirna dengan cepat Hingga akhirnya aku berada di mobil berkarat Aku hilang Di tengah kelinci bercorak belang Dan seorang gadis cantik tajam memandang Mengajak berdansa dalam tenang Semua rumit dan sederhana Aku tenggelam di lautan kata Dengan cepat berubah menjadi cokelat Dan kupu-kupu berubah menjadi lalat Semuanya bergoyang Menyuruhku untuk berpesta Hingga aku tak ingat ada dimana Semuanya sepeti realita saja Aku meminum vodka Dengan rasa coca-cola Aku melihat pemandangan Dengan awan berwarna merah muda Hingga aku bertemu dua wanita Dan aku terjun ke dalam gua Semuanya berwarna warni Hingga aku melayang tanpa gravitasi Lama aku disana Hingga ak...

let it go

"This that Fergenstein and I be down to let it go The semi or the tech, spray it at him then reload This that Fergenstein and I be down to let it go The semi or the tech, spray it at him then reload" Aku dengar setiap hari kata-kata semu itu, Kepadanya tentu Sebagian lewat perantara temanmu Karena kau merasa malu Nanti saja katanya Salah satu hal klise untuk menyembunyikan lara Dia saja sudah cukupku rasa Beban bertambah hingga dia hilang tiada Aku, mau itu Aku mau Aku yang dari awal sudah ada dijalan itu Dan kau baru datang ingin mengambil biru Aku.. Aku mau... Ah sudahlah... Aku bisa apa? Hal itu bahkan tak ada Aku yang hidup dalan ilusi ku Mengingkan hal semu Untuk dijadikan kenyataan Perlahan "The limb's never been so relaxed, ever It's lonely at the top; all this shrimp, nobody to share it with We ain't tripping though You all walking around with wrinkled silks, looking crazy Pay your dry-cleaning bill and a...

aku mati

aku mati. dalam jiwa dingin tak bernadi. rintik tajam hujan pisau belati. hitam legam gelap hati. aku mati. merah mata hingar kini, semakin sayu dan perih. pukul dua belas malam ini. aku mati. tak ada lagi puisi. yang ku cabik dalam inti. suara tangis wanita merintih. aku mati. tak ada histori. semua orang pahami. pemimpi tak pantas berlari. aku mati. sampai disini. tunggu, mungkin belum. aku mati. tunggu aku dilain hari. pasti. aku mati. siapa yang peduli? hilang suara lewat telinga kiri. sirna dengan nestapa ditelan bumi.

belum

Aku yang membebaskan jutaan kata dalam puisi tak bermakna yang harus terpaksa kembali bertebaran di ambang laut. Dengan hujan paku yang datang dari langit biru. Rintik air atau paku, semua tak tahu. Tapi yang aku tahu dengab hal yang terjadi sebelumnya bahwa ada langkah yang tak lagi biasa ku dekati saat menjauh, ada ribuan kata tak bermakna yang ku biarkan lusuh. Tapi sampai hari itu datang, aku belum selesai, karena semua sudah terlalu jauh. Bak jalan buntu di terowongan haru, sudah terlalu jauh untuk kembali ke belakang tapi aku bisa lewati tebing didepan yang menghadang, entah bagaimana caranya.

sembilan puluh menit

Aku tenggelam, dalam relung curam tak berdasar. Mataku merah dan berkantung lebar, terjaga hingga sepertiga malam datang. Tanganku perih, dipakai berkali-kali, menulis angka tak pasti. Tulangku retak, bersandar pada dinding besi berkarat. Sudah dua hari aku terjaga hingga pagi. Aku tak tidur, sungguh. Ketika aku memejamkan mata, aku seperti melihat angkasa dari kelopak mata yang tertutup rapat. Aku terlalu "paranoid", aku terlalu memaksakan, padahal semua tahu bahwa ini tak akan pernah mudah, tak pernah sedikit pun. Sembilan puluh menit, semua yang ditunggunya sirna. Melihat sulitnya sebuah perkara. Dusta, percuma, insomnia, tak berguna. Aku selesai, aku pulang dan menghilang dibawah awan gelap gulita. Lalu, untuk sekian kalinya hujan mengguyur semua. Aku hanya diam saja, menikmati suara dunia lewat media perantara biasa. Kala itu deras, membuat sunyi semakin mengeras. Dalam guyuran hujan deras, semakin nyaring sunyi merampas. Sepertinya dunia mendengar perihal k...