sembilan puluh menit
Aku tenggelam, dalam relung curam tak berdasar. Mataku merah dan berkantung lebar, terjaga hingga sepertiga malam datang. Tanganku perih, dipakai berkali-kali, menulis angka tak pasti. Tulangku retak, bersandar pada dinding besi berkarat.
Sudah dua hari aku terjaga hingga pagi. Aku tak tidur, sungguh. Ketika aku memejamkan mata, aku seperti melihat angkasa dari kelopak mata yang tertutup rapat. Aku terlalu "paranoid", aku terlalu memaksakan, padahal semua tahu bahwa ini tak akan pernah mudah, tak pernah sedikit pun.
Sembilan puluh menit, semua yang ditunggunya sirna. Melihat sulitnya sebuah perkara. Dusta, percuma, insomnia, tak berguna. Aku selesai, aku pulang dan menghilang dibawah awan gelap gulita.
Lalu, untuk sekian kalinya hujan mengguyur semua. Aku hanya diam saja, menikmati suara dunia lewat media perantara biasa. Kala itu deras, membuat sunyi semakin mengeras. Dalam guyuran hujan deras, semakin nyaring sunyi merampas.
Sepertinya dunia mendengar perihal kesunyian yang semakin menyaring pada telinga jagat raya. Dia berkata pada insan berhati hitam, "aku tak membiarkan kalian hidup untuk berakhir menyedihkan!," katanya lewat bisikan alam.
"Buka kertas itu dan baca lagi! Aku tak membiarkan anak-anakku ditebang untuk jadi sampah sepertimu!" Lanjutnya.
Aku terdiam, aku hilang, aku pulang. Aku berjalan perlahan, menuju istana mewah nyaman dalam dekapan awan. Aku mulai melupakan sebagian, akhirnya temanku datang. Aku membiarkan ragaku terdiam karena kenyamanan, perkara keterbiasaan, aku menangis untuk tertawa perlahan. Oh, aku lupa, aku tak pernah bisa mengeluarkan air mata karena kutukan, padahal air mata adalah jawaban, untuk menyirami bunga agar terus bermekaran.
Terbalut dalam semua hal yang rancu akan kejelasannya. Aku hanya terdiam lagi. Mulutku yang terkatup kemudian terbuka. Berbicara dan berdansa dengan setan, karena tak ada satupun yang mau berhadapan dengan kegagalan. Melupakan sebagian yang ada, untuk sementara. Akhirnya, aku terlelap.
Sudah di alam mimpikah?
Pantas saja.
Semuanya begitu sederhana.
Semuanya begitu sederhana.
Masa depan indah dirasa.
Aku sebagai pria dewasa.
Aku sebagai penakluk dunia.
Aku yang berada di ujung semesta.
Aku sebagai pria dewasa.
Aku sebagai penakluk dunia.
Aku yang berada di ujung semesta.
Tapi apa hanya sekedar mimpi saja?
Kalau iya,
aku rela terlelap untuk selamanya.
Kalau iya,
aku rela terlelap untuk selamanya.
Aku tak bangun lagi.
Baguslah, dunia tak akan rugi.
Baguslah, dunia tak akan rugi.