dingin, hangat, fajar, purnama.
dingin beku enggan menerima hangat dari tebalnya jaket hijau tua kemelam. Dingin memasuki rongga jaket kumal kelabu. Pejamkan mata saja, katanya. Kalau kau terlelap nanti semua rasa kan sirna. Tapi dingin kian menusuk ditambah dengan kosongnya ruang gelap mencekam.
Kerumunan datang membawa kabar. Baginda yang ditunggu tak kunjung datang. Hari ini semakin dingin, setiap detik menjelang sebongkah cahaya datang mendesak. Terlihat cahaya semakin kuat diluar sana. Dingin pun kalah, hangat kiat panas. Membakar wajar sang pujangga merana. Mehilangkan dingin ambang sirna. Menghilangkan kantup mata mengelak. Mendaki batu tinggi diantara semesta dan jagat raya.
Dari atas sini, dari atas sini elok. Aku bisa melihat malaikat dan setan berlalu lalang, indah gemulai bidadari menari yang membuat lamunan dalam indah yang bergejolak ditemani hangatnya fajar. Ah, lagi-lagi terjadi. Mungkin sebelum seribu kata terucap nanti, sebelum suatu hari saat aku menziarahi tanah khayal dengan menyanding wangi dari pucuk-pucuk bunga kaliandra, tetapi dingin selalu mencoba untuk datang, hingga akhirnya fajar sirna menghilang. Siapa sangka bila ini akan menjadi ujung dari perjalanan yang membekukan kata-kataku atas puisi yang kan segera sirna diterjang dingin tanpa hangat fajar.
aku, yang mengatasnamakan rindu di tepi pagi, dan aku yang mengatasnamakan engkau dalam sajak-sajak warna, agar bisa kubaca indahmu ditangis dan tawa, juga pada guratan pena, yang disana lahir bayi-bayi kata. sebentang harap yang dirajut dalam doa, akankah engkau datang dan menimang rindu itu agar tak sirna, hingga kita bersua?