sedikit hal yang tidak ingin kamu ketahui tentang harapan
21.10 harusnya aku belajar, sebentar lagi berbagai ujian akademik datang, harusnya aku berhenti menulis, tapi sayangnya aku tidak bisa fokus kalau masih ada benalu yang hinggap di angan.
meluapkan emosi dalam bentuk kata adalah salah satu caraku melawan sendu. walau akhirnya aku hanya berakhir tidur bukan mempelajari pelajaran yang seharusnya aku lakui saat ini.
suatu waktu ada sesuatu yang tiba di antara fajar dan sunyi. semacam kasih rengkuh tiada ragu. erat, memantapkan jiwa. semacam setitik cahaya yang rela jatuh dari mega-mega langit. menyelinap di antara kekata, berharap aku akan menemui paragraf baru. sesuatu yang kalian dan mungkin aku sebut dengan harapan.
dulu aku juga orang yang sama layaknya orang normal kebanyakan, percaya bahwa takdir itu pasti sudah ditentukan dan cita-cita dengan tekad yang kuat pasti akan terwujud, menjadi suatu hal yang lebih dari kata harap.
berbagai motivasi yang ada membuat tekad lebih bulat lagi, seakan percaya bahwa semua pasti akan dapat digenggam walau semesta sekalipun. sampai suatu waktu aku menyadari bahwa segala ucapan baik terkadang hanya bualan semata. kadang bibir merah itu hanya mengatakan apa yang ingin kita dengar. bukan kenyataan dalam realita.
katanya, demi sebuah kenyataan, tak cukup hanya mendengarkan perkataan malaikat, kadang kita harus mendengarkan setan agar mendapat sebuah kenyataan kongkrit dalam dua sisi yang berbeda. dan aku, aku mulai percaya dengan perkataan itu.
tak ada manusia yang sempurna katanya, semua manusia pasti pernah dan akan mengalami suatu kegagalan. tak terkecuali aku dan aku percaya bahwa harapan atau cita-cita hanya sebuah bualan semata, harus kau ingat bahwa mimpi tak akan jadi kenyataan, mimpi-mimpimu cepat atau lambat akan sirna karena kau hanya bermimpi sedangkan aku berhenti bermimpi dan mulai menyusuri realita, bergelut dengan waktu. aku pun mulai menyadari, bahwa waktu hanyalah permainan yang pasti. kau mungkin boleh sekali-kali atau bahkan acapkali mengutuknya, akan sinarnya yang terlalu pekat. kau boleh sembunyi di antara sekat-sekat bernama ego, seolah kau paham tentang hakikat. kau boleh... untuk terus berusaha lebih hebat tapi kau harus ingat mimpi saja tak cukup untuk menaklukan waktu.
apa yang paling kau inginkan didunia ini? aku tahu keinginan kau dan mereka. kalian sama. untuk umur yang sebaya. memperebutkan kursi hangat merona. bagiku, rasanya tidak ada lagi. kalau soal kursi itu bukan sesuatu yang paling aku inginkan karena untuk soal itu pasti akan kugapai, aku tidak seperti kalian yang berandai-andai dan berkeinginan luas. yang paling aku inginkan di dunia ini, mungkin..... mungkin hanya istirahat. mungkin istirahat selamanya. lebih baik dari pada bersusah payah lagi. mungkin.
namun, yang harus kau tahu, hidup bukan melulu soal harapan dan cita-citamu, kau egois, bila tubuhmu kau paksa mengikuti egomu sendiri karena bila egomu sudah tinggi, segala sesuatu yang kau harapkan dari dulu akan sirna seketika ketika para pemuja kedamaian lainnya datang. hentikan egomu itu, walau sudah terlambat. berbahagialah selagi waktu masih mau berkompromi. selagi pensilmu masih mampu menggoreskan cerita. atau selagi kau membaca ini dan kau masih mampu menetra pada cahaya.
dan akhirnya kau lah yang akan menyesali sendiri, tentang segala ambisimu yang mejijikan itu. jijik, alam bawah sadarku berkata seperti itu ketika seseorang sudah berambisi dan dengan cepatnya melupakan kawan. siapa yang kau tinggalkan untuk ambisi busukmu itu? pada akhirnya jika kau gagal atau berhasil kau tak akan punya 'kawan' lagi. dan kau yang mengutuk mereka dalam ribuan katayang menyesakkan ruang di kognisimu. kau tak bisa menyalahkan orang lain, Tuhan, atau takdir. karena tanpa sadar lensa yang kau gunakan tidaklah sama satu sama lainnya. kau lebih mementingkan egomu, padahal kau bisa melakukan keduanya tanpa kehilangan keduanya pula. mimpi dan cinta.
tak ada gunanya bersedih lagi. hidup akan terus berjalan. berharap, bermimpi, boleh saja, tapi kalau kau tidak bergerak, mimpimu akan jadi mimpi saat tidur, sirna dikala bangun saat fajar datang. aku mungkin manusia biasa yang tidak tau takdir. tapi setidaknya aku mengerti arti berjuang. biarkan saja Tuhan yang mengatur, sebaik baiknya sutradara adalah Tuhan. tapi Tuhan tak akan mengatur dirimu kalau kau tak bergerak sekarang. hingga akhirnya kau tidak lagi ingat akan semua sakit dari penantian yang panjang itu, lagi.
21.51 aku mulai mengantuk, aku sudah terlalu banyak berkata. aku ingin tidur. belajarnya besok saja sudah.
meluapkan emosi dalam bentuk kata adalah salah satu caraku melawan sendu. walau akhirnya aku hanya berakhir tidur bukan mempelajari pelajaran yang seharusnya aku lakui saat ini.
suatu waktu ada sesuatu yang tiba di antara fajar dan sunyi. semacam kasih rengkuh tiada ragu. erat, memantapkan jiwa. semacam setitik cahaya yang rela jatuh dari mega-mega langit. menyelinap di antara kekata, berharap aku akan menemui paragraf baru. sesuatu yang kalian dan mungkin aku sebut dengan harapan.
dulu aku juga orang yang sama layaknya orang normal kebanyakan, percaya bahwa takdir itu pasti sudah ditentukan dan cita-cita dengan tekad yang kuat pasti akan terwujud, menjadi suatu hal yang lebih dari kata harap.
berbagai motivasi yang ada membuat tekad lebih bulat lagi, seakan percaya bahwa semua pasti akan dapat digenggam walau semesta sekalipun. sampai suatu waktu aku menyadari bahwa segala ucapan baik terkadang hanya bualan semata. kadang bibir merah itu hanya mengatakan apa yang ingin kita dengar. bukan kenyataan dalam realita.
katanya, demi sebuah kenyataan, tak cukup hanya mendengarkan perkataan malaikat, kadang kita harus mendengarkan setan agar mendapat sebuah kenyataan kongkrit dalam dua sisi yang berbeda. dan aku, aku mulai percaya dengan perkataan itu.
tak ada manusia yang sempurna katanya, semua manusia pasti pernah dan akan mengalami suatu kegagalan. tak terkecuali aku dan aku percaya bahwa harapan atau cita-cita hanya sebuah bualan semata, harus kau ingat bahwa mimpi tak akan jadi kenyataan, mimpi-mimpimu cepat atau lambat akan sirna karena kau hanya bermimpi sedangkan aku berhenti bermimpi dan mulai menyusuri realita, bergelut dengan waktu. aku pun mulai menyadari, bahwa waktu hanyalah permainan yang pasti. kau mungkin boleh sekali-kali atau bahkan acapkali mengutuknya, akan sinarnya yang terlalu pekat. kau boleh sembunyi di antara sekat-sekat bernama ego, seolah kau paham tentang hakikat. kau boleh... untuk terus berusaha lebih hebat tapi kau harus ingat mimpi saja tak cukup untuk menaklukan waktu.
apa yang paling kau inginkan didunia ini? aku tahu keinginan kau dan mereka. kalian sama. untuk umur yang sebaya. memperebutkan kursi hangat merona. bagiku, rasanya tidak ada lagi. kalau soal kursi itu bukan sesuatu yang paling aku inginkan karena untuk soal itu pasti akan kugapai, aku tidak seperti kalian yang berandai-andai dan berkeinginan luas. yang paling aku inginkan di dunia ini, mungkin..... mungkin hanya istirahat. mungkin istirahat selamanya. lebih baik dari pada bersusah payah lagi. mungkin.
namun, yang harus kau tahu, hidup bukan melulu soal harapan dan cita-citamu, kau egois, bila tubuhmu kau paksa mengikuti egomu sendiri karena bila egomu sudah tinggi, segala sesuatu yang kau harapkan dari dulu akan sirna seketika ketika para pemuja kedamaian lainnya datang. hentikan egomu itu, walau sudah terlambat. berbahagialah selagi waktu masih mau berkompromi. selagi pensilmu masih mampu menggoreskan cerita. atau selagi kau membaca ini dan kau masih mampu menetra pada cahaya.
dan akhirnya kau lah yang akan menyesali sendiri, tentang segala ambisimu yang mejijikan itu. jijik, alam bawah sadarku berkata seperti itu ketika seseorang sudah berambisi dan dengan cepatnya melupakan kawan. siapa yang kau tinggalkan untuk ambisi busukmu itu? pada akhirnya jika kau gagal atau berhasil kau tak akan punya 'kawan' lagi. dan kau yang mengutuk mereka dalam ribuan katayang menyesakkan ruang di kognisimu. kau tak bisa menyalahkan orang lain, Tuhan, atau takdir. karena tanpa sadar lensa yang kau gunakan tidaklah sama satu sama lainnya. kau lebih mementingkan egomu, padahal kau bisa melakukan keduanya tanpa kehilangan keduanya pula. mimpi dan cinta.
tak ada gunanya bersedih lagi. hidup akan terus berjalan. berharap, bermimpi, boleh saja, tapi kalau kau tidak bergerak, mimpimu akan jadi mimpi saat tidur, sirna dikala bangun saat fajar datang. aku mungkin manusia biasa yang tidak tau takdir. tapi setidaknya aku mengerti arti berjuang. biarkan saja Tuhan yang mengatur, sebaik baiknya sutradara adalah Tuhan. tapi Tuhan tak akan mengatur dirimu kalau kau tak bergerak sekarang. hingga akhirnya kau tidak lagi ingat akan semua sakit dari penantian yang panjang itu, lagi.
21.51 aku mulai mengantuk, aku sudah terlalu banyak berkata. aku ingin tidur. belajarnya besok saja sudah.