sebuah lagu, jam 20.02, malam ini

"Karma police, arrest this man
He talks in maths
He buzzes like a fridge
He's like a detuned radio
Karma police, arrest this girl
Her Hitler hairdo is
Making me feel ill
And we have crashed her party
This is what you get
This is what you get
This is what you get when you mess with us"
Angkara manusia dalam derajat hampa
Sendu diantara api dan murka
Dua tiga empat singa bertebaran
Pujangga hampa menghampiri kerumunan

Dari malaikat tak bersayap hingga setan kecil merangkak
Satu dan beberapa tikus kecil lari meninggalkan mereka
Di belakang mereka berlari kencang
Meninggalkan yang lain dalam amukan si raja hutan

Orang itu lari ketakutan dan tak mempedulikan yang lain
Tikus-tikus kecil mengikuti dibelakangnya
Memuji langkah hebatnya yang dilakukannya
Mengunjing kerumunan orang yang diam ditempat bersama
"Tenang semua, diam, jangan ada yang lari, siapkan batu atau dahan" saut lantang sang pujangga yang datang kekerumunan itu
"Bodoh, mana mungkin kita kan selamat"
"Iya benar"
"Hari ini mati sudah"
"Matilah kita"
"Seharusnya kita mengikuti dia, lari."
"Terlambat"
"Kita mati"

Hingar bingar keramaian
Kata-kata kelam terucap seolah tak ada harapan
"sudah percaya saja aku, paling tidak kalian tak mati sendiri saja sudah cukup" kata sang pujangga
Lingkaran manusia ditengah kumpulan iblis
Siap mengambil jiwa-jiwa pesimis
Mata tajan melihat gerak-gerik yang jauh disana
Terpancing langkah sang manusia hipokrit

Mereka akhirnya mengejar dia
Melupakan lingkaran manusia hina
Langkah tajam kan terlihat oleh elang
Tergapailah dia dalam genggaman berbalut arang
"Kenapa!!! Kenapa aku, di depanmu banyak mangsa" kata pelari ulung itu
"Ahhh tidak, kita harus lari, kita akan mati nanti" kata tikus-tikus kotor itu
Habislah ia tinggal belulang
Mampuslah raganya dikoyak tangan arang

Baunya sudah berbeda
Lebih busuk dari sungai itu,
Sungai yang ia tolak minum karena kotor
Di padang pasir, apa yang kau harapkan

Air saja tidak ada
Bersyukurlah kau dapatkan sungai kotor
Dahagamu kan hilang
Walau lambungmu penuh lumut berkuman

Untuk sementara
Sang pujangga pulang bersama kerumunan itu
Ke kota sambil bersulang tuak baru
Mabuk diantara kasih sayang

Sang pujangga pusing kepala
Ia hanya ingin tidur
Pergi ke pinggir jalan
Tidur diantara gelap dan bingar
, lagi.

Popular posts from this blog

hutan

Obituari - "Di belakangmu" - Lembar Empat