Lamunan di ujung teluk
"lamunan di ujung teluk"
dalam lorong sepi bangunan itu, berjalanlah ia seorang diri ke tempatnya menenun waktu. Sudah tiga tahun lebih kiranya ia disini, pergi pagi mengharapkan sendu untuk menjadi sesuatu yang abadi, hingga nanti mencapai titik tertinggi. merangkai kata dalam degapan saru pena dalam buku tulis bersampul kuning. Sampai ia teringat bahwa waktunya tinggal beberapa minggu lagi, waktu yang kan terasa singkat untuk mencapai ujung garis, semuanya akan segera berakhir. Usai sudah lelah, untuk sesaat, hingga nanti ia bersulang di bawah awan biru sumringah.
sebelumnya dalam sekoci kecil ia terombang ambing, merasa bingung karena disini semakin lama hanya tersisa masamnya buah belimbing. Mau tidak mau, menjadi alasannya hidup karena tak ada jalan keluar dalam dekapan laut. Memang bukan rahasia umum bahwasannya semua insan tahu, tidak ada yang mudah dalam mengarungi ombak yang terus menggebu. walau begitu teruslah ia hidup karena semuanya sudah terjadi dan waktu tak kenal kata kembali.
tapi terjadinya semua ini ia yakini menjadi awal sebuah hal yang pasti, sampai ia tiba di ujung teluk, bertemu dengan surga kecil hingga ia lemas terduduk. menyadari bahwa semua ini patut disyukuri, hingga ia mabuk dalam dekapan aksara yang hakiki. Menikmati hingga suatu saat nanti semua mati dan dunia kembali sepi. hingga nanti kembali dalam sekoci kecil. pulang hingga menyadari ia sudah tenggelam dibunuh obsesi. pulang hingga ia menyadari bahwa ia sudah mati, sendiri. atau, semuanya tetap disini dan bersama mendengar nyayian burung di sore hari. hingga ia menyadari bahwa ia, dunia, dan semestanya adalah makhluk abadi.
9.32 WIB - harapan dan cita-cita
melewati hari, jutaan kali fajar dan purnama terlewati, hanya ia yang diam disini meratapi karena tak punya hal yang yang pasti untuk dicari. hidupnya ramai dan penuh hampa, ketidakjelasan mengakar dalam relung jiwa karena sejak ia mendapat musibah ia tak percaya dengan angan dan cita-cita. dalam derasnya aliran sungai ia percaya, analogi kehidupan adalah sesuatu yang harus diikuti, dinikmati, dan disesali. hingga suatu nanti ia menemukan sesuatu yang pantas untuk dicari karena hidup bukan hanya mimpi, kadang kala membuka mata demi sebuah realita adalah hal pantas karena tak pernah dalam sejarahnya ada lada yang tak pedas. demi sebuah realita, haruslah membuka mata demi sebuah cita-cita, ia terduduk di ujung teluk lagi, memikirkan apa yang sebenarnya ia paling inginkan di dunia.
ia terlelap lama dan seketika terbangun. menyadari yang paling ia inginkan di dunia adalah sebuah harta dan cinta. seorang pria dewasa harus bekerja dan motivasinya adalah cinta. inginkan ia cinta karena harta hanya akan membuatnya hampa, dan tanpa harta mampuslah ia dipecundangi dunia. sinkron, ia butuh sinkronisasi dalam kehidupannya.
hitam, putih, dan abu-abu. rasanya, untuk saat ini hanya monokrom yang ia punya sekarang, memahami bahwa dunia tak punya warna, hanya ilusi semata. yang ada hanyalah hitam untuk gulita, putih untuk bahagia, dan abu-abu untuk keduanya. ia butuhkan warna tapi bagaimana bisa ia menemukan warna di dalam gelap dan terang, ia butuhkan remang, bukan, ia butuhkan warna, warna yang sesungguhnya. yang katanya dapat membuat bunga edelwis layu itu ceria. segar kembali, hidup dalam suka di dunia. polikrom, mereka menyebutnya warna dunia, sesuatu yang lama ia cari tapi tak ia temukan, berharap suatu hari nanti warna itu datang menghilangkan penat dalam pelukan semesta.
ia dan mungkin semua orang di dunia membutuhkan suatu kesempurnaan dalam hidupnya, untuk melengkapi segala lubang dalam hidup mereka masing-masing. sulit didapatkan memang, tapi itulah arti hidup baginya, kau hidup kemudian belajar dan mencari sampai kau temukan sesuatu yang berarti dan layak untuk diperjuangkan hingga mati.
12.22 WIB - cinta
sedikit saja, untai perkata sederhana, sebagaimana sebuah dialektika yang terangkai dalam sebuah ruang dari balik pandang bersekat tandang. sering kali ia termenung dalam angan, mengagumi wanita disana. berbeda tanpa riasan, indah menatap mengalihkan dunia, senyum lugu membangkitkan layunya bunga edelwis di padang harap. ingat saat dahulu, sungguh semestanya tak acuh kepada wanita itu, indahnya dunia ia percaya hanya tercipta untuk dirinya sendiri, tapi kini seakan seluruh alam semesta dan jagad raya bersekongkol untuk memberi indah dunianya kepada wanita itu seorang.
berjuta kali mata mencuri indah pandangnya, sampai akhirnya ia mengakui bahwa ia sedang jatuh cinta, kepada seorang wanita, cantik nan anggun, ingin hasratnya memiliki wanita itu seorang karena ia percaya bahwa hanya wanita itu lah yang dapat memberinya tempat teduh dari lelah yang tak kunjung berkesudahan, hanya lewat tatapan wajah, hilang sudah lara dari dunia. indahnya jatuh cinta membuat ia berusaha terlihat sempurna, bahkan ia sampai tak mau untuk banyak berucap kepadanya, karena ia takut akan salah berkata, walau seharusnya tidak perlu dilakukan karena bila memang cinta, semuanya harus diterima, buruk dan baiknya untuk saling melengkapi sukma bersama.
walau semuanya tak semudah yang ia bayangkan, mengingat dunia bukan hanya persoalan cinta, banyak yang harus ia pertaruhkan bila hanya memikirkan cinta. akhirnya ia mengurungkan niatnya, menunggu sampai saatnya tiba, hingga suatu saat ia berucap kata demi kata menjelaskan semua, hingga sampai harapannya untuk kebahagiaannya dan wanita pujaannya itu bersama dalam surga semesta, berdua.
kemudian menyadarilah ia, bahwa tak hanya dia yang menyukai wanita pujaannya, bukan main, wajarlah banyak orang menyukai wanita secantik dia. dengan separuh hati, ia berjalan di lorong sepi, bermaksud mengajaknya berbicara, kemudian mendengarlah ia pada bisik-bisik samar neraka tentangnya. memang, benar rasa, tak semudah orang bicara, benar luka butuh lebih tersiksa. hingga angan bertanya, apa semua ini mungkin? ia termenung lagi di ujung teluk, memikirkan mungkin atau tidaknya, walau ia tidak peduli, cinta bisa memilih, tak ada yang tahu wanita itu akan memilih siapa, lagi pula, ia memilih untuk tidak terlalu berlarut tentang cinta, ia suka menjalaninya, hingga akhirnya ia terpanggang tinggal rangka. tapi dari semua hal itu, saat waktunya tiba, ia mungkin akan langsung bertatap muka bersamanya tentang hal yang lambat laun membunuhnya, hingga ia berkata 'bisakah kita pergi bersama?'.
15.20 WIB - akhir dari aksara
Ia kembali melamun di bawah kuningnya sinar fajar di tempat yang pernah mempertemukan ia dan mereka di usia tujuh belas tahun. melihat dunia seabu-abu warna seragam yang ia pakai. melihat dunia dari hal yang semua orang baru saja mengenal tetnang sesuatu yang menentukan akan kemana mereka beranjak.
mungkin akhirnya, ia dan mereka pergi belajar untuk kuliah, setelah itu mereka berkencan, dan kuliah lagi, sampai empat atau lima tahun mereka menuntut institusi untuk meluluskan mereka dan mereka bekerja mencari harta untuk biaya rumah dan nikahan.
terakhir ia masih hidup di usia 71 tahun dan masih bergaul bersama mereka sambil meminum arak dan tertawa dengan sungguhan kacang garuda. hingga dunia larut malam dan pulang mabuk sampai dimarahi istri-istri mereka. besoknya ia kembali ke garasi membetulkan motor harley tua yang ia dapat dari website barang bekas dan kemudian berkendara bersama, ia dan istrinya. atau semua itu tak pernah terjadi dan dunia sudah lama hancur ditelan lubang hitam dan lenyap. entahlah tak ada yang tahu. tak pernah ada yang tahu kapan dan bagaimana datangnya akhir, akhir dari seorang pengacak kata, akhir dari aksaranya.
23.21 WIB - hilang
malam hari ia masih di ujung teluk, meminum kopi yang ia beli dari kios murahan, ia memutuskan untuk berhenti karena tinta yang ada dalam penanya habis ia pakai menulis, hingga ia memutuskan pulang ke rumah dan tidur nyenyak. berharap hari esok datang lagi, melakukan hal yang biasa menjadi rutinitas atau dunia menjadi baik dan beberapa impian kecilnya terwujud.