dua puluh satu manusia

Atas nama sebuah tempat di pusat kota
Dimana kita menapaki jejak pertama
Hamparan pohon terbentang yang memanjakan mata
Ditemani dengur hingar bingar kendaraan

sapuan angin terus mengibaskan aksaranya
Dalam degakap bait sajak dan baris prosa
Menggapai hari di sebuah tempat yang sama
Seonggok bunga tumbuh menumbuhkan mahkota

Tentang waktu yang tak bisa terulangi
Tentang luka yang selalu siap mengajari
Tentang kehilangan yang selalu saja melukai
Tentang tawa dan kehadiran yang selalu mengisi
Tentang kesempatan yang datang silih berganti
Tentang kegagalan dan pencapaian yang berarti
Tentang kenangan yang akan selalu mengabadi
dan tentang sebuah tanda tanya baru di esok hari


apakah langit yang memilih senja agar memiliki arti
ataukah senja hanya memasuki hari dengan apati?
waktu bayang senja yang hampir sempurna membias di langit
perhalan memerah laksana gelap dengan sengit
hanya menandakan suatu langkah pasti
yang cepat lambat akan berubah panti
sudah dua tahun rasanya kita disini
mengukir jejak yang perlahan tapi pasti

titik air jatuh menyerbu bumi
menyamarkan lukisan tuhan dikejauhan yang sunyi
tatkala sejalan perhalan meredupkan jalan
deras air semakin keras meruntuhkan padangan
rasanya sekejap hilang dan lenyap
akankah kita kan tertidur dengan lelap?

selagi kita masih mampu menetra pada cahaya
akan kah kita terus menggores cerita?
wahai dua puluh satu manusia
ingatlah waktu adalah permainan yang pasti
tak akan bisa kita terulang lagi
bukankah seburuk-buruk waktu adalah merenggut apa yang telah ia beri?


وَالْعَصْرِ – إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ – إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ –
“Demi masa (waktu). Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS.Al-Ashr:1-3)

Popular posts from this blog

hutan

Obituari - "Di belakangmu" - Lembar Empat