esok

"Love on the low, love everywhere I go
And I can't face that all I need is right where I belong"

sebelum terbunuh ragu
untuk sejenak, rasanya surga tak pernah jauh
terasa damai di antara gemuruh
jua terasa nyaman dalam riuh

atas ribuan langkah yang terhentak
jua atas jutaan kata yang terlontar
dijadikannya sebuah bayang abadi yang mengakar
karena tak ada yang bisa lupa bagaimana manisnya nektar

sayang, di dunia ini tak ada yang abadi
bahkan hal terkuat yang kita sebut afeksi
karena cepat atau lambat semua bingar akan menjadi sunyi
dan disini kan tertulis pundi-pundi diksi dari berbagai asumsi

kau tahu, aku selalu sering membatu dalam heningnya malam
betapa sulitnya tertidur agar terbangun untuk bermimpi indah
dikoyak-koyak sepi dibawah cahaya bohlam
hingga sepertiga malam terakhir mata merendah

jika esok tak datang lagi
maka disini kan tertulis semua yang dunia takuti
takut akan mutu
takut akan waktu
takut akan sendu
dan rupanya aku sendiri yang kan melihat dunia beradu
dalam rancu, intuisi berkata bahwa akhir sudah di dekat pucuk

ah bagaimanapun untuk ibu
hal terindah yang pernah diberi oleh sang waktu
seorang malaikat yang selalu memberi cinta dan restu
mohon ampun ibu,
nadi ciut ini tak pernah berani mengungkapnya secara langsung
jadi tertulislah olehnya kata puitis oleh tinta hitam di Hari Ibu
yang tak pernah tersampaikan dan memudar seiring waktu

apa tujuannya untuk hidup?
bukankah tujuannya utama untuk hidup adalah membalas jasa sang ibu?
dan mendapat kemuliaan berupa hal lain adalah bonus
tapi apa si keras kepala ini masih yakin akan pilihannya?

ah ingat si keras kepala itu tempo hari,
nyaris mati berbekal peti
apa ia berani lagi?
padahal tujuan utama ia di dunia belum tercapai

ah rasanya kita tak akan pernah mengerti
sampai kapan nyawa ini akan terus terisi
seberapa lama detak jantung kan kunjung beroperasi
cukup hanya tahu bahwa ketidakingintahuan terkadang sering kali mendahului

ah bagaimana bisa kita tidak membicarakan satu hal yang pasti
yang membuat kita berubah dari sebuah kata menjadi arti
yang berhasil merajut ratusan paragraf tanpa henti
terima kasih kawan-kawan, dia, dan mereka yang abadi

hanya ingin memberi tahu kepada dunia
tak ada yang tahu kadar ketulusan jiwa
maka tataplah matanya dan dengarkanlah ucapannya
bukankah sangat sulit melihat noktah dalam keadaan gelap?

jika esok tak datang lagi
berharaplah kita tak akan berakhir sia-sia
pada lantunan doa
dalam usaha kita yang bergelut dengan rima

ingatlah setiap malam kita merendah
memohon segala hal terbaik dan bertadah
berserah diri dan memohon jauh dari mafsadah
percaya, tak ada yang sia-sia dan kan indah bak lantunan merdu kasidah

setiap malam kita hanyut
dalam retorika yang mati
apa kita akan berani?
atau kita akan kembali?

bukankan kau tahu sendiri?
dalam puisi harakiri
darah yang mengalir dari tubuhnya ini
diartikannya sebagai diksi-diksi yang dipaksa mati

jika esok tak datang lagi
semoga dunia kan berakhir dengan damai.

"I lay down now
There's someone's journey in the streets
Who gotta keep a piece, peace
I lay down now
As I lay me down to sleep
I pray to God I rest in peace"

(asap rocky & joe fox, pharsyde)

Popular posts from this blog

hutan

Obituari - "Di belakangmu" - Lembar Empat