Obituari - "Mungkin" - Lembar Sembilan Belas

Kepada sajak-sajak yang bergemuruh dibawah mega
Akan ku coba menjelaskan seperti apa arti keikhlasan
Semua bak labirin di tiap lirih syair yang bergeming
Seperti gemericik hujan saat awan pun masih ragu mengugurkan anak-anaknya

Di tepian sepiku
Aku terus meragu
Menerima impian dan kenyataan 
yang bahkan kita masih tertatih-tatih untuk melupakan

Di bawah purnama yang tak sempurna cahayanya
Selembar kisah tetap terbuka di halaman yang sama
Dalam pekat kopi hitamku kala terjaga
Hening tak lagi berani membawa dahaga

Samar-samar masih ku cari caranya
Agar terbangun diantara garis harapan
Sama-samar kabut melingkupi mata
Terlihat di ujung jalan ia jelas masih ada

Lepas namun sedikit sunyi sedikit harmoni
Dalam diri yang diselimuti mimpi
Karena waktu pun berjarak tak memihak
Lambat laun warna muncul beranak pinak

Naluri berkata kepada kepala untuk cepat sadar
Bahwa tak selamanya kita selalu berjalan menyasar
Bahwa masih ada kesempatan kepada rasa dan asa untuk mengangkasa
Membawa takjub jauh indah pada mata

Kedua lengan ini laksana hari yang telah lalu
Terasa dingin dan kaku
Namun saat ini ia terbuka lebar
Keduanya saling berbicara
"tak mau hidup dalam penantian panjang."
"tak ingin abadi dalam pelarian selamanya."

Kedua kaki ini rekonstruksi untuk terakhir kali
Tak ada kata berhenti
Tak ada kata kembali
Terakhir kepada tujuan yang abadi
Keduanya saling berbisik
"berjalan kedepan adalah kunci."
"lurus dan tak ada kata kembali."

Semuanya melaju dan berlalu
Meninggalkan jarak dan lara yang begitu kaku
Semesta menyaksikan bagaimana waktu membentangkan alurnya
Hingga lembaran baru tertuliskan sebuah cerita

Hanya jiwa, semesta, dan dzat yang Maha segala yang tahu cerita sebuah perjalanan
Sehingga tak perlu bertanya kapan dan bagaimana
Karena perjalanan tak dimulai pada keberangkatan
Dan tak berakhir pada kedatangan

Langkah dan tujuan hanya media
Bagi seorang merpati untuk belajar terbang
Melatih diri untuk berkembang
Tanpa lupa jalan kembali pulang

Purnama kali ini lebih besar dari biasa
Bak menerangi pemimpi di gelapnya malam
Rasa seakan-akan terasa menjadi tenang
Dan logika merangkum segalanya dalam kenang

Popular posts from this blog

hutan

Obituari - "Di belakangmu" - Lembar Empat