Obituari - "Masa" - lembar dua puluh

Waktu ini begitu singkat tuan
Namun aku dituntut untuk membuat setiap detiknya berarti
Baik atau buruknya siapa peduli?
Bukankah kita memang selalu hidup dalam pendapat dan asumi?

Dan sebelum waktu benar-benar habis
Mungkin hanya akan ada satu pertanyaan
Apa yang harus kukenang?
Yang pernah kulakukan atau yang kukhayalkan?

Sebab di sudut rumah kelabu kamar-kamar akan segera hilang
Menyesap penyesalan dari bulir air mata
Atau tersenyum malu melihat rangkaian aksara
Kutampung semua pertimbangan di pundi-pundi sukma
Sembari kuberi wewangian
Sebagai pengiring keranda
Karena waktu akan benar-benar usai

Demi sebuah kehormatan
Di pinggir surga
Setengah jiwaku mengidungkan kematian
Mengiringi dunia yang terseok-seok
Membawa sandiwara raga
Yang lama menjadi lakon
Sebelum dimulai adegan surga yang elok

Pada tiap-tiap bilah cahaya temaram yang sedang beristirahat
Akan ada suka cita dan katarsis yang bisa kita rasakan sesaat sebelum kita benar-benar terlelap

Semua bekas-bekas kekejaman realita seakan lenyap bersama tenggelamnya semburat senja
Di padang bulan terbuka, kita akan tertidur memeluk rerumputan tinggi bersama kekasih atau sahabat kita
Bersama-sama, kita akan berziarah ke sebuah mayapada yang dipenuhi kejenjaman
seakan ada mandalika raksasa yang meneduhi karavan kita di sepanjang perjalanan

Rangkaian lentera berisikan kunang-kunang muda dirangkai sedemikian rupa di sekeliling karavan kecil sehingga dari kejauhan ia tampak bercahaya
Membiarkan kereta berjalan otomatis dalam relnya
Dan kita kembali beristirahat dan terduduk di sofa marun yang empuk sembari menghabiskan isi jam pasir dengan candaan yang renyah dan kisah-kisah yang hangat

Saat kita terbangun, kedua mata kita tersengat jarum-jarum cahaya yang begitu menggelisahkan
Usai bangkit dari kedalaman waktu
Barulah kita ingat betapa besar perjudian yang kita selenggarakan dan betapa sedikit kartu yang kita miliki

Karavan kita tergoncang-goncang begitu memasuki wilayah baru
Kini sepanjang pandangan kita hanya tergelar permadani pasir dan halimun berdebu yang liar
Namun determinasi kita sudah bulat
Maka kala roda karavan kita mulai patah satu per satu
Kita sudah bisa menilik bayangan dunia dari sudut yang berbeda

Sekali lagi tuan,
Sebelum waktu benar-benar habis
Apa yang harus kukenang?
Yang pernah kulakukan atau yang kukhayalkan?

Popular posts from this blog

hutan

Obituari - "Di belakangmu" - Lembar Empat