Posts

Showing posts from 2020

esok

Ufuk barat telah menunjukan cahaya merahnya Petang tergambar dalam arloji hitam Semakin cepat detik kian berdetak Angin berbisik dalam keheningan ruang telinga Takdir adalah alamiah Dan nasib adalah peristiwa Mentaru itu fatamorgana Sedangkan purnama tetap pada tempatnya Setelah satu siklus matahari selesai Perjamuan sudah jadi tanah hara Air mata hanya jadi ampas perjuangan yang tersia Perlahan menyiksa setiap insan yang hendak mencari peruntungan Naas namun begitulah cara waktu bekerja Disisi lain, purnama tak diperbudak oleh kejamnya waktu Ia selalu menengok kesegala penjuru mata angin Memperhatikan lewat dinginnya ruang gelap Menyesuaikan tanpa ada kefanaan Menemani insan yang tak terlelap Barangkali memang kekhawatiran adalah hal yang alamiah Menghantui dari kepala ke kepala Mempertanyakan takdir dan nasib Purnama berbisik mengenai keyakinan Matahari menghempas setiap angannya Inilah kehidupan tuan! Dan sisi paling menarik dari keyakinan adalah dusta Hanya manusia yang mengkhianat...

esa hilang, dua terbilang

Peribahasa atau ungkapan perumpamaan atau pepatah bidal atau pameo Suatu yang alamiah tak perlu dihindari Alamiah adalah takdir Baik akan datang dan buruk tak bisa dihindar Hilang atau terbilang   Manusia hanya bisa berencana Namun alamiah tetaplah mutlak Kaki bolehlah cepat berlari Namun ia akan letih jua Bila hilang Nikmatilah cemas Telanlah pahit dan hiruplah segala asap kepedihanmu Walau tercabik di tangan dan kepala Jahitlah dengan benang amarahmu Minumlah segala air lautan yang sehambar sanubarimu Kelak kau tersadar dan tegar  Dan di kaki sendiri kau mampu berdiri Bila terbilang Nikmatilah suara alam yang syahdu Indah langit senja tak bernestapa Namun janganlah kau angkuh Kelak angin akan kencang berhembus Memunculkan hujan dari ufuk barat Kelak kau tertunduk dan tersadar Tersenyum meratapi hari di hilir

ego

Mungkin begitulah rotasi di semesta ini Antara kebenaran atau kesalahan yang berputar Pikiran manusia sangatlah naif Apalagi ketika berbagai sudut pandang bertabrakan Perjuangan demi perjuangan Manusia demi manusia Lembaran demi lembaran Akhirnya kita hanya berjuang demi orang yang berharga Naif tak dapat menyenangkan semua pihak Pemikiran yang ditelan oleh ego Hanya mengantarkan ke sisi lain dari muara Manusia memang tak pernah menang dari rasa kesepian

barangkali

Tuhan,  Barangkali ini doaku yang sekian Engkau kabulkan Izinkanlah hamba mengadu asa Tuhan, Perkara cinta Siapa jua yang pernah lelah Mengingat membahagiakan adalah tujuan yang mulia Tuhan,  Bilamana hamba berdoa Bantulah hamba untuk menjaganya Saat ia jauh dari genggaman Saat ia jauh dari penglihatan Saat ia jauh dari pengawasan Berikan ia selalu kebahagiaan Karena ia tak pantas bermurung Warnailah ia dengan segala keindahan Agar ceria selalu bersamanya Tuhan, Jadikanlah hamba manusia yang kuat Yang tak goyah bila tersambar petir Yang tak runtuh bila terpapar badai Agar hamba dapat menjaganya dengan sepenuh jiwa Mungkin sebatas menahan air mata yang rentan jatuh Hingga menghapus segala lara Tuhan, Tak lupa syukur terucap Karna sampailah hamba kepada dermaga Yang benar-benar menawarkan cinta

Nyatanya

Sejenak kita berhenti berharap, berhenti meratap, dan membiarkan Tuhan yang berkehendak.  Situasi baru, kondisi baru, toleransi baru, pandangan baru, dan jangkauan baru. Dalam analogi ukuran, tak pernah bisa kotak masuk dalam wadah segitiga, pun sebaliknya. Pikiran manusia memang rumit, atau memang sudah selayaknya? Atau memang keadaan yang merumitkan pikiran? Kehidupan kala pandemi, kaki-kaki dan tangan-tangan perkasa mendadak lumpuh, dan mulut-mulut mata pisau telah tumpul. Demi masa, izinkanlah aku bertanya, sampai dimanakah ini semua kembali seperti sedia kala?

Mewawas diri

Pemberontak, kau angkuh dan sedikit congkak serta lidahmu akan sejatam mata pisau yang di pakai berburu para hama di hutan kematian. Kelak akan datang padamu Sang Maut, ia akan menyeretmu dengan rantai berapi hitam.  Namun, sebelum itu akan datang bidadari yang cantik parasnya, berkerudung, dan anggun. Ia menawarkan air yang segar dari mata air pegunungan dalam perjalananmu di padang pasir di Timur sana. Bilamana kau meminumnya maka selamatlah engkau. Sang maut tidak akan datang secepat itu bersama bala tentaranya hanya untuk menyeret seorang pemberontak. "Nona, aku sudah tidak menenggak minuman sejak satu bulan kebelakang, tak ada satupun manusia di muka bumi ini yang peduli untuk memberikan sedikit saja kebaikan, lantas untuk apa aku meminum air yang kau tawarkan? Kau tak mengenal aku, juga kau tidak pernah bertemu dengan aku, mengapa engkau menawarkan aku?" Bidadari itu pun hanya terdiam, tidak ada satu katapun keluar selain senyuman cantiknya.  Tanpa kata, diminumlah air ...