Mewawas diri

Pemberontak, kau angkuh dan sedikit congkak serta lidahmu akan sejatam mata pisau yang di pakai berburu para hama di hutan kematian. Kelak akan datang padamu Sang Maut, ia akan menyeretmu dengan rantai berapi hitam. 

Namun, sebelum itu akan datang bidadari yang cantik parasnya, berkerudung, dan anggun. Ia menawarkan air yang segar dari mata air pegunungan dalam perjalananmu di padang pasir di Timur sana.

Bilamana kau meminumnya maka selamatlah engkau. Sang maut tidak akan datang secepat itu bersama bala tentaranya hanya untuk menyeret seorang pemberontak.

"Nona, aku sudah tidak menenggak minuman sejak satu bulan kebelakang, tak ada satupun manusia di muka bumi ini yang peduli untuk memberikan sedikit saja kebaikan, lantas untuk apa aku meminum air yang kau tawarkan? Kau tak mengenal aku, juga kau tidak pernah bertemu dengan aku, mengapa engkau menawarkan aku?"

Bidadari itu pun hanya terdiam, tidak ada satu katapun keluar selain senyuman cantiknya.  Tanpa kata, diminumlah air yang ditawarkan oleh bidadari tersebut.

"Nona, aku sudah siap menghadapi Sang Maut, juga berserta penghakiman yang akan Ia lakukan, aku sudah siap menerima apapun itu nona, tapi saat perjalananmku mengembara, kau baik memberikan aku minuman, sudah lama aku tidak merasakan kebaikan, dari manusia." saut sang pemberontak.

"Berikan tanganmu, sudah datang waktumu untuk berhenti mengembara. Mari ikut aku, pergi ke langit kejutuh" kata sang bidadari.


Popular posts from this blog

hutan

Obituari - "Di belakangmu" - Lembar Empat