sudut pandang

Tuan, aku sangat muak ketika manusia sudah melalukan penghakiman tentang salah dan benarnya suatu hal, yang mana hal tersebut tidak ada dasar, haluan, acuan ataupun aturan yang mengatur.

Aku ingin hidup merdeka. Merdeka bukan berarti bebas melakukan sesuatu semaunya. Kemerdekaan bukanlah kebebasan, meksipun sekilas kedua kata tersebut identik adanya, tapi keduanya memiliki tujuan yang mana secara esensi berbeda. Jika bebas artinya tak terikat dengan nilai, maka merdeka memiliki arti bebas berbuat sesuai dengan dasar dan nilai yang berlaku. 

Ibarat makan, kau boleh memakan apapun yang kau sukai, tapi kau tak bisa memaksa tubuhnya yang sudah kekenyayang, itulah merdeka, sadar akan batasan tanpa dibatasi atau dikendalikan oleh orang lain.

Dan aku ingin merdeka, ku suarakan dengan gema disetiap sisi, dan aku bersedih, sebagian kecil dari kalian mengerti dan sebagian besar dari kalian menentang.


Aku ingin merdeka, namun aku ternyata terbatasi dengan perbedatan benar dan salah. Seakan menjadi sebuah polemik bilamana mempunyai suatu keinginan. Maka Tuan, bisakah kau ajari aku tentang bagaimana sesuatu hal bisa disebut benar atau salah?

Aku turun aksi apakah aku salah?
Lalu aku menolong seseorang yang teluka apakah aku salah?
Lalu aku memberi santunan apakah aku salah?
Lalu aku tertidur apakah aku salah?
Lalu aku terkena penyakit apakah aku salah?
Lalu aku terbangun apakah aku salah?
Lalu aku merokok apakah aku salah?
Lalu aku meminun kopi apakah aku salah?

Dan bilamana aku diam melamun apakah aku benar?
Lalu aku berpikir apakah aku benar?
Lalu aku terdiam di rumah apakah aku benar?
Lalu aku belajar apakah aku benar?
Lalu aku berkumpul dan berbincang apakah aku benar?
Lalu aku menyendiri apakah aku benar?
Lalu aku mendapat nilai ujian yang baik apakah aku benar?
Lalu aku tertawa apakah aku benar?

Aku ingin merdeka tanpa penghakiman.

Popular posts from this blog

hutan

Obituari - "Di belakangmu" - Lembar Empat