Di bangku tunggu itu, jam demi jam Ada yang selalu silih berganti Tapi kenapa hanya kita yang terus menanti? Lorong matamu yang penuh keteduhan Menetaplah sebagai atapku
Aku selalu berdetak di detik yang tidak dapat berkutik. Untuk kesekian kalinya, aku tenang dan aku tertawa, di belakangmu. Kadang-kadang aku juga bosan dengan dunia, sehingga aku mencari sebuah pelarian, lagi. Ternyata bisa aku temukan disini, mungkin aku harus berterima kasih? Atas senyum seindah senja yang jauh dari mata, yang tak pernah berubah. Ah rasanya menyenangkan untuk menggapai yang tak terjankau dalam hal lain. Aku harap kau jangan mundur, maju pun rasanya tak perlu, hanya cukup selalu disitu, hingga aku merasa bahwa surga tak pernah jauh. nugs.obituari.lembarempat.dibelakangmu.081016
dingin beku enggan menerima hangat dari tebalnya jaket hijau tua kemelam. Dingin memasuki rongga jaket kumal kelabu. Pejamkan mata saja, katanya. Kalau kau terlelap nanti semua rasa kan sirna. Tapi dingin kian menusuk ditambah dengan kosongnya ruang gelap mencekam. Kerumunan datang membawa kabar. Baginda yang ditunggu tak kunjung datang. Hari ini semakin dingin, setiap detik menjelang sebongkah cahaya datang mendesak. Terlihat cahaya semakin kuat diluar sana. Dingin pun kalah, hangat kiat panas. Membakar wajar sang pujangga merana. Mehilangkan dingin ambang sirna. Menghilangkan kantup mata mengelak. Mendaki batu tinggi diantara semesta dan jagat raya. Dari atas sini, dari atas sini elok. Aku bisa melihat malaikat dan setan berlalu lalang, indah gemulai bidadari menari yang membuat lamunan dalam indah yang bergejolak ditemani hangatnya fajar. Ah, lagi-lagi terjadi. Mungkin sebelum seribu kata terucap nanti, sebelum suatu hari saat aku menziarahi tanah khayal dengan menyanding wan...