Esensi
"Aku adalah rintikan malas yang menghujam langit, yang menjadikan pelangi abu sebagai seluncuran mimpi, yang menunggu datangnya garam-garam pencair uap dan jatuh melayang-layang di atas ribuan awan, terhempas oleh kupu-kupu biru, terjerat pada kail petani angan dan diam. Karena menulis hanya menghabiskan tenaga juga degupan jantung yang terbuang sia-sia. Karena waktu hanya merengek pada ksatria bukan pada pecundang sastra"
Beberapa bulan tak terasa sudah berlalu, rasanya tinggal sebentar lagi semester ini berakhir, tapi tetap saja, belum ada yang namanya tujuan untuk bersinggah ke tempat baru, karena setiap tujuan muncul, selalu saja ombak deras itu terus menghampiri seakan mencoba mengandaskan apa yang ada. Mungkin pada akhirnya yang harus dilakukan adalah mengikuti gelombang ombak itu sendiri tanpa memperhatikan keinginan diri sendiri. Ibarat perahu yang diterjang ombak, tidak banyak yang bisa dilakukan perahu selain menyerah pada ombak selagi terus mencoba untuk berjalan maju menuju tujuannya. Walau kenyataannya ini semua berbeda dengan analogi perahu yang diterjang ombak.
Rasanya ingin menangis jika melihat gambaran masa depan, dengan berbagai pertanyaan di angan, akankah mendapat kebahagiaan atau sebaliknya. Tetapi sayangnya, air mata terasa sudah mengering walau diterjang rasa lelah bertubi. Jadi lupakan, meksipun ada darah di mata, kebencian di hati, cinta di benak, itu semua tidak berarti lagi, hari-hari tetap sama, bahkan lebih kejam. Ketika hal itu datang kembali dan mendorong lebih jauh, ketika semua orang pergi dan hanya satu yang tetap tinggal, maka kata "persetan" lagi-lagi keluar dan sepi menjadi teman abadi karena tidak akan ada orang yang tahu rasa yang terasa.
Akan menjadi sebuah kebohongan bila diri ini tidak pernah berbicara tentang kematian. Mati, rasanya menjadi opsi yang sempurna bila semua hal berubah menjadi buruk. Tetapi sayangnya itu sangat berlawanan dengan apa yang sudah ditanam sejak kecil dan diyakini sejak lama. Tegar, mungkin juga merupakan opsi yang baik, ketika kematian bukanlah sebuah pilihan, maka tetap tegar dan melewati semuanya adalah hal yang baik untuk dilakukan walau selalu saja ada sesuatu yang harus dibayar, baik dengan hati maupun pikiran.
Esensi yang sesuai dengan ego dan sudut pandang, mungkin harus dimatikan untuk sejenak. Karena yang sudah terjadi, setiap menggunakan pemikiran berdasarkan esensi diri sendiri selalu saja gagal. Mungkin memang sudah seharusnya berjalan di jalan yang benar, dengan mengikuti segala perintah baik yang diberikan, karena walau hancur di dunia paling tidak bisa merasakan air segar di surga nanti.
"Aku adalah sang titik yang berada diantara ribuan kata. Kata yang tidak akan pernah menjadi kisah hidup di dunia. Aku juga adalah sang rembulan yang berada diantara jutaan bintang. Walau mentari kalahkan sinarku, aku tetap tersenyum sepanjang malam. Aku adalah aku, hidupku yang penuh hal semu, walau nampak begitu nyata. Aku adalah lungkrah, yang bersembunyi di balik tawa"