Paradoks



"Look, what if money wasn't part of success? would the people I used to be friends with never left? What if making a name didn't come with regrets? I think that fame's a pre-cursor to death: Death of a friendship, death of a family, death of a man. The misunderstood are always dead before 'they' understand"
- Spotlight by Machine Gun Kelly



Rasanya memang lelah mencari dan berlari dalam angan palsu, mereka menyebutnya paradoks, suatu situasi yang timbul dari sejumlah premis yang diakui kebenarannya yang bertolak dari suatu pernyataan dan akan tiba pada suatu konflik atau kontradiksi.

Setiap hari semua orang berusaha untuk mendapatkan apa yang mereka capai dan tentunya untuk mencapai itu mereka membutuhkan apa yang dinamakan uang. Uang memang bukan segalanya tapi segalanya butuh uang, itu adalah fakta yang terjadi di dunia ini dan kita pun akhirnya harus mengakui bahwa semakin bertambahnya yang kita dapat akan semakin berkurang. Kita sering berusaha untuk menambah apa yang kita miliki. Baik ilmu, harta atau jabatan. Lucunya, semakin kita menambah, semakin kita merasa kekurangan. Dan mungkin memang benar bahwa urusan dunia itu tidak akan pernah cukup dan tidak akan pernah terpenuhi.

Selama belasan tahun menimba ilmu, pada akhirnya yang harus dilakukan adalah bagaimana caranya bertahan hidup, bukan dengan rumus fisika atau matematika, tapi dengan uang! yap uang. Bertahan hidup di zaman milenium yang segalanya serba uang tentu berbeda jika dibandingkan dengan zaman dahulu kala, dimana semuanya masih tradisional dan uang bukan menjadi alat pembayaran utama. Uang menjadi tolak ukur kesuksesan seseorang, dimana mereka hanya berfokus pada besarnya upah yang akan mereka terima saat bekerja dari pada melakukan sesuatu yang menunjukan bahwa mereka adalah orang yang sukses walau tanpa melihat besarnya uang yang mereka hasilkan.

Semakin pesatnya perkembangan zaman pun membuat beban yang kita pikul semakin berat, tentunya semuanya akan semakin mahal. Apa mungkin hidup akan lebih baik jika tidak ada uang? Apa mungkin hidup akan lebih berarti jika tidak ada uang? Seandainya sekarang tidak ada uang di dunia, mungkin gua akan memutuskan untuk berhenti sekolah dan mencoba menjadi seorang penulis atau penyair karena gua menyukai hal-hal yang berhubungan dengan sastra. Tetapi sayangnya dunia tidak bekerja seperti itu dan mau tidak mau kita harus mengikuti apa yang dunia mau, menjadi seorang penulis atau penyair bukanlah sebuah profesi yang pantas di zaman milenium ini, hanya orang-orang beruntung yang berhasil menjadikan kedua hal itu sebagai sebuah profesi. Pada akhirnya, kita harus memilih sebuah profesi yang secara logika mampu untuk memenuhi kebutuhan kita untuk bertahan hidup, menjadi seorang dokter atau insinyur contohnya.

 Lalu apa tujuan hidup kita? apa pada akhirnya kita hanya menjadi orang yang diperbudak uang? Nyatanya sulit untuk mendapat kebahagiaan tanpa campur tangan uang, bahkan untuk meraih apa yang kita inginkan kita harus memiliki uang terlebih dahulu. Semua itu tidak akan pernah cukup, hal itu tidak akan pernah cukup. Tujuan hidup seakan-akan hanya untuk mencapai kesuksesan dengan tolak ukur materi, selanjutnya diselingi dengan hal-hal kecil lain yang membuat kita bahagia seperti cinta dan lainnya. Tapi bagaimana jika kita gagal? bagaimana jika kita tidak dapat meraih kesuksesan itu? entah bagaimana jadinya nanti, tidak ada yang tahu tentang itu. Mungkin pada akhirnya, hal yang paling bijak untuk dilakukan adalah berhenti untuk berpikir, menyerah pada takdir dan mengalir.

Disaat banyak orang lain yang menginginkan keabadian hidup, gua lebih memilih untuk mati lebih lama, tanpa surga dan neraka, pergi ke dalam kehampaan yang berisi udara kosong tanpa suara dan tanpa cahaya terang, jauh dari hingar bingar dunia yang penuh dengan kefanaan dan ketidakpastian, karena disana kita tidak perlu lagi memikirkan beban hidup dan selamanya dalam keabadian sunyi.

Popular posts from this blog

hutan

Obituari - "Di belakangmu" - Lembar Empat