Pendosa

Aku ini pendosa, sebab aku menikam nurani demi kematangan jiwa, membakar mimpi demi meningkatkan keberanian, merobek intuisi demi mengendalikan akal. Kau pun pendosa, sebab kau menolak untuk menoleh peduli, menendang ikatan  demi derajat, membisukan bunyi untuk kenyamanan

Lantas berdosakah aku bilamana tidak berjabat tangan dengan keegoisan sedang engkau menutup mata?

Berdosakah aku bilamana tidak bersanding bahu meksipun kau memohon sedang engkau sendiri membiarkan aku diterkam buaya muara?

Dan berdosakah aku bilamana berbincang dengan hening sedang engkau sibuk menyumbat telinga?

Jikalau aku yang berselimut dosa ini keluar dari hutan dan pergi ke gua, masihkah aku berdosa atas persinggahanku? Dan aku membuat api untuk memasak butiran angan untuk kita santap lalu menolak kau makan, berdosa pulakah aku?

Aku ini pendosa, maka bersujud aku dengan kerendahan, masih kah kau anggap hitamku ini pekat?Seolah daun gugur yang jatuh di tanah gersang, tak mau kah kau menyiram dahan dan akar untuk beberapa saat? Sedang engkau terus meminta buah? Pantas saja aku mati dengan kenaifan.

Aku ini pendosa, tolong aku atau biarkan aku, kan ku berusaha mencari jalan setapak yang kering untuk dipijak agar aku seimbang berjalan, tanpa lumpur penuh dengan kubangan kumuh yang memungkinkan aku terjatuh

Tolong aku atau biarkan aku, menanam bibit agar tumbuh dengan alaminya, tak usah kau panen biarkan ia berbuah dan jatuh sendiri dengan bibit-bibit lain yang berbuah lebih lebat, tak usah kau siram biarkan hujan menerpanya hingga tegap ia membesar, dan tak usah kau bersihkan daun yang gugur biarkan ia mengering dan terbang bersama angin, kecuali kau ingin berjalan di jalan setapak nan kering itu

Aku ini pendosa, dengan segala pemikiran dan tingkah laku, membayar darah dengan darah dan anggur dengan anggur.
Salahkah aku?

Popular posts from this blog

hutan

Obituari - "Di belakangmu" - Lembar Empat