Posts

Showing posts from 2022

prakarsa

Tuhan yang baik selalu bertamu di penghujung tahun Apakah surga ada di tahun baru?

Pencarian - Lembar Tiga

Ada daun yang gugur di depan teras rumahku Yang telah lupa cara membaca harapan Dan warna kuningnya mengabarkan pecahnya dunia lewat gersangnya tanah Dalam pencarian,  aku berjanji dengan kesederhanaan Akan aku menangkan pertempuran dan mengatur takdir Beberapa hari kemudian, Ia ditemukan mati di tengah bait Di sudut jauh Di tempat bermula

Pencarian - Lembar Dua

Dalam pencarian Aku sedikit demi sedikit mendapat bisikan angin Di dalam kata pengantar dan daftar pustaka Aksara terampas dan dibuang dalam lembaran kertas Demi kepentingan dan tujuan pribadi Semua orang melakukan segala cara Ah! betapa munafiknya manusia Dulu aku hanya meminta untuk mati di tengah-tengah laut Diantar oleh ombak untuk dihancurkan gelombang dan tekanan Tapi kini aku berharap untuk tidur di ranjang rumah Tempat kuhabiskan sisa hidupku Lalu dikubur dalam timbunan tanah dengan namaku di atas nisan Ah! Kau tertawa Disetiap pengembaraanku dalam pencarian Aku bertanya, Bagaimana puisi menyelesaikan ini? Puisi menjawab, Tutuplah mata  Karena anjing-anjing bertebaran di beranda

Pencarian - Lembar Satu

Dari waktu ke waktu aku selalu dalam pencarian untuk memahami bahasa sunyi Yang tak dapat terbaca Yang tak dapat tercerna Yang tak dapat ditafsir Yang begitu sukar untuk dipahami Dari waktu ke waktu aku selalu dalam pencarian untuk memahami arti aksara Yang begitu naif Yang begitu bias Yang kadang berputar dalam ambiguitas Dari kata ke kata Dari frasa ke frasa Dari kalimat ke kalimat Dalam pencarian di tengah pikuk dunia yang tak pernah menawarkan kedamaian Dalam pencarian di tengah biadabnya rasa sepi Dalam pencarian yang tak pernah tahu dimana akhirnya Mungkin aku serupa Ahasveros Atau mungkin juga serupa Sisyphus Yang kudapati kematian mengikuti disetiap petang Namun angin mengajarkan rahasia langit Aku pun setia mengembara

anestesi

Suntik mati dan tak perlu sadar Katanya aku tidak terlahir untuk mengemis kepada manusia Apalagi menyembah berhala yang membutakan mata Tidak ada lagi kelam malam yang harus ditelan Tidak ada lagi detik yang jadi penyiksaan Gelap demi gelap Sebab maut sudah tidak lagi menggetarkan pikiran Setiap subuh tubuhku terjatuh Bisakah kita menginginkan untuk memiliki tanpa menderita?

pilihan

Maka biarkanlah segala perjalanan membesarkanmu Aku tubuh yang membasuh waktu Dan detak jantung yang memukul langit Begitu utuh dan bergemuruh Hingga hujan turun Dan tangan menadah tak sampai Lalu bertanya mengapa badai mengisyarakatkan amuknya

tragedi

Setiap aksara yang terukir memiliki arti Kadang menyejukkan hati pun kadang setajam belati Maka tertulislah segala peristiwa yang terjadi Entah sebagai sejarah atau sekedar menjadi pengingat diri Bahwa kenaifan dan tragedi dalam kehidupan memang benar terjadi Siapa sangka akan sejauh ini? Bait demi bait yang tak pernah tahu diri Yang terlahir tanpa kaidah dan komposisi Dan terlupakan di esok hari Bukankah kehidupan ini menarik? Dengan jutaan penyesalan, Ribuan waktu yang ingin kau putar, Namun kau masih mampu berdiri Binasalah segala kaum yang menilai Dan enyahlah segala penghakiman Karena tafsir adalah kebebasan Tanpa sadar

pekat benderang

Lelah adalah hal yang wajar Tapi menyerah bukanlah jalan keluar Resiko adalah ketidakpastian dalam mencapai tujuan Maka mitigasilah dengan baik Seperti pepatah berkata Jangan pernah berhenti belajar Karena hidup tak pernah berhenti mengajar

daftar pustaka

Riwayat dan sejarah tercatat Menjadi acuan bagi mereka yang tersesat Di dalamnya terkandung kebenaran mengenai asumsi dan presepsi Tempat dimana tak ada lagi praduga Lalu menjadi pemberhentian untuk mereka yang memenggal kata Untuk sekedar memakan tafsir ataupun meminum definisi Kesepadanan dan keseimbangan atas bahasan Dan akal akan saling menuduh siapa diantara keduanya Yang memberikan acuan dalam lekuk ingatan  atau hanya berakhir di dalam kertas dan panjangan kelas

kata pengantar

kata pengantar berawal dari kalimat-kalimat yang retoris terlalu bias dan penuh siasat pengenalan yang tak biasa dan cukup ambigu selayak menebak isi kepala dan kata yang dikeluarkan intuisi kata pengantar membawa sebuah pertemuan cukup singkat dan padat namun tak terlalu jelas waktu dan jarak menjadi tersangka yang memisahkan antara keberadaan dan kewajiban   lantas, siapa kita yang bercerita dan tertawa? yang bertukar isi kepala namun tak menambah beban yang bertukar kata namun tak bertukar kabar yang berbicara tentang masa depan namun tak terasa samar   lantas, apakah takdir akan memberi jawabnya? tentang hati yang mengeras, tentang kepala yang membatu, dan tentang pundak yang semakin lelah setelah kata pengantar, mungkin senyum akan memudar dan malam akan kembali dingin atau sebaliknya?

kelak

Kelak disana, akan dibuatnya rumah 2 lantai; dengan teras dan halaman yang singkat tanpa pengantar dan daftar pustaka  Disana, akan diwariskannya mobil juga motor mewah; dari kaleng atau botol plastik juga permata dan baling-baling ia pun sempat berjanji pada anak-anak; takkan mewariskan tongkat, belati, ataupun pedang agar tak akan pernah terjadi lagi perang

absolut

Pemaparan nilai absolut sangatlah kejam Mengingat bahwa waktu adalah satuan yang tak akan pernah bisa terulang Jika penghakiman adalah kesepadanan Maka tulang berulang tak akan retak dan berongga Lantas, mau kah kau untuk hidup seribu tahun lagi?

kesempatan

Manusia tak cukup hanya menerima satu kali kesempatan Manusia tak bisa tidak menerima permohonan maaf Jadilah seperti Tuhan Yang memberikan hambanya kesempatan Yang memberikan hambanya maaf Semua orang punya kesempatan Semua orang dapat berubah Bukankah seburuk-buruknya waktu adalah merenggut apa yang ia beri?

hujan, lembar dua

Hujan adalah doa-doa ibu Yang mengalir di muara paling dalam Yang membasahi tanah gersang di sepanjang jalan Yang menumbuhkan kehidupan disaat matahari terlalu lama tak terbenam Hujan akan senantiasa turun Dan bumi akan mengamini Hujan akan membesar Dan turun ke ujung hilir paling sempit Saat hujan reda, Bumi pun tersenyum dan kembali bersyukur

hujan, lembar satu

Aksara yang terbuang akan hanya mendapati ruang di sudut kamar paling gelap Jam dua pagi mata terpejam dan hawa mendingin Hujan membasahi loteng kamar yang usang dan penuh lubang Air yang menetes terasa dingin dan menusuk "Di jam 2 pagi ini turun hujan! Tanpa selimut dan semua terasa dingin!" Lampu mulai padam Hanya cahaya redup dari terang bulan dan kerlip bintang yang menyinari dinding yang bernoda Gravitasi sudah tiada dan dunia jatuh ke dasarnya Siapa sangka akan secepat ini terlelap dan terbangun disunyinya malam! Apakah ada yang ingin tertidur dan terbangun untuk seribu tahun lagi?

fate doesn't care about your plans

"In my shoes, just to see What it's like, to be me I'll be you, let's trade shoes Just to see what it'd be like to Feel your pain, you feel mine Go inside each other's minds Just to see what we find Look at shit through each other's eyes" Ambillah pensil dan rangkai tulisan ini di kertas Tak terbaca dan tak terbayang Penuh dengan coretan sebab gagalnya pilihan kata Siapa yang peduli dengan rima dan etika Sedari dulu harmoni hanya akan nampak saat adanya penghayatan Kata hanyalah tragedi Dan ia menjelma menjadi bencana Siapa yang peduli dengan luka tak bernoda? Ia hanya pulih bila keikhlasan datang Timur ini adalah arah tanpa jarum Idealisme hanya angan dan prinsip hanya pohon tanpa akar Lantas akal hanyalah penjara Serta manusia hanyalah binatang Buas dan berbahaya Baik dan penyayang Takdir adalah kutukan, Nasib adalah pilihan, Rencana adalah rawa, Pertanyaan dibenak adalah: Bagaimana ibu memejamkan mata?

seribu tahun lagi

Malam ini tidak ada perayaan! Kita mengubah rencana! Kita akan hidup untuk seribu tahun lagi! Dan kita akan membangun kerajaan untuk kalangan kita Kerajaan itu tersusun dari tulang dan tetesan darah Kerajaan itu akan kekal Disana kita akan membakar takdir yang gusar dan kutukan yang ada pada penglihatan kita "Fatum brutum, amor fati!" Pada akhirnya kita akan mencintai takdir Dan pada akhirnya kita akan pulang Tanpa pertanyaan pada pilihan Tanpa pertanyaan pada keberadaan

perayaan

"I wasted my time with these cigarettes And these ashes all I've got left Wash this old town Nothings left for me Washed down stream into the sea This big ol' river will kill us in time 'til then we'll drink it's weight In cheap beer and wine We can drink just as fast as the river is strong And we'll drink 'til we're gone. We'll drink 'til we're gone." - Lucero malam ini adalah puncak kemenangan, jadi jangan ada sedikitpun pertanyaan, mari bersulang!

kata terakhir

Apabila aku sudah tidak ada lagi Kenanglah prosa-prosa yang tercipta Ia lebih berharga Ia lahir dari perasaan dan kata-kata yang terpecah Ia dibesarkan dari perjuangan dan tangisan air mata Ia adalah riwayat dan tapak tilas yang tabah akan terpaan Ia akan selalu hidup dan menjadi pelajaran Suatu saat prosa-prosa itu akan menyatukan kembali orang-orang tercinta Suatu saat, di tempat dimana hukum waktu di dunia sudah tidak berlaku lagi

jam tua

"Aku akan mengejar waktu dan akan kupercepat kembali kehidupan yang lambat!" Terukir ambisi didalam nadi Berteriak diambang sekaratnya jiwa Jam tua di dinding sudah tak berputar lagi Di etalase baterai-baterai sudah usang dan tak lagi dapat dipakai Waktu melambat dan hidup mulai menusuk Detik demi detik Menit demi menit Jam demi jam Hari demi hari Minggu demi minggu Bulan demi bulan Tahun demi tahun Mata kembali terpejam dan waktu terasa cepat Terbukalah mata dan kembali melambat "Barangkali doaku terkabul Aku akan mempermainkan waktu! Hidup menusuk dan akan terus begini saja! Aku ingin kembali ke masa lalu! Dan aku ingin ke masa depan! Namun apabila masa depan menakutkan maka aku akan kembali ke masa sekarang Karena aku akan memperlambat waktu! Dan akan aku siasati kehidupan yang fana ini! Namun apabila masa depan begitu indah Maka aku akan mempercepat waktu! Karena aku tak ingin menikmati tajamnya belati!" Bukankah kau setiap saat berbicara tentang bagaimana waktu...

amarah, lembar dua

Esok, segalanya akan membatu dan penuh debu Dalam sujudmu hanya akan mendapati tubuh yang rubuh dan mudah terjatuh Namun akan ada yang terus mengalir ke hilir kebahagian Adalah doa-doa ibu Yang mengubah bencana menjadi keberuntungan Esok, tak akan ada lagi yang bertanya tentang silsilah atau asal muasal Di sisi kamar paling gelap Ia akan dibiarkan dan mematung di kedalaman kedinginan Namun, sesekali ia akan singgah di tengah gelapnya malam, gemuruh petir, dan air hujan Agar tak perlu lagi menahan seluruh tangisan Dan akhirnya ia membuka mata dan menatap segala yang menyangga

amarah, lembar satu

Semoga untuk kesekian kalinya dapat dimengerti Karna hidup terus meredup Dan tiap malam hanya jadi pertanyaan Mengapa begitu sulit untuk mengerti orang lain? Yang menyandarkan bahu Namun harus tertabrak ego yang membatu Amarah adalah jalan terakhir Dan jalan terakhir tak berbuah hasil Amarah pun padam Lalu membuka jalan yang baru Namun jalan baru masih berakhir buntu Tak apa, Itulah sebenarnya dirimu Yang selama ini terkubur Dan terbuka oleh waktu Amarah tak mau menampakan diri Ia sudah mati dan dikremasi Lalu bereinkarnasi menjadi kecewa Kecewa adalah luka Dan luka mencari obat Obat enggan untuk datang Obat tak akan datang Bila hidup ternyata hanya menawarkan dua jalan Tinggalkan atau ditinggalkan Hidup akan terus meredup Dan hidup akan begini saja

Obituari - "tanah" - Lembar Dua Puluh Satu

Hidup terasa terus meredup atau mungkin, Hidup akan terus begini saja Kau terjaga akan pikiranmu Ditidurkan oleh rasa lelah Kembali terbangun atas naluri Dipulihkan dahaga oleh air Dikenyangkan oleh makanan Tertawa atas kebahagiaan Disedihkan oleh duka Dan hidup akan terus begini saja, rasanya.