amarah, lembar satu
Semoga untuk kesekian kalinya dapat dimengerti
Karna hidup terus meredup
Dan tiap malam hanya jadi pertanyaan
Mengapa begitu sulit untuk mengerti orang lain?
Yang menyandarkan bahu
Namun harus tertabrak ego yang membatu
Amarah adalah jalan terakhir
Dan jalan terakhir tak berbuah hasil
Amarah pun padam
Lalu membuka jalan yang baru
Namun jalan baru masih berakhir buntu
Tak apa,
Itulah sebenarnya dirimu
Yang selama ini terkubur
Dan terbuka oleh waktu
Amarah tak mau menampakan diri
Ia sudah mati dan dikremasi
Lalu bereinkarnasi menjadi kecewa
Kecewa adalah luka
Dan luka mencari obat
Obat enggan untuk datang
Obat tak akan datang
Bila hidup ternyata hanya menawarkan dua jalan
Tinggalkan atau ditinggalkan
Hidup akan terus meredup
Dan hidup akan begini saja