Sedikit penjabaran waktu

"Ada yang tiba di antara fajar dan sunyi. Semacam kasih rengkuh tiada ragu. Erat, menenangkan. Semacam setitik cahaya yang rela jatuh dari mega-mega langit. Menyelinap di antara kekata, berharap ia akan menemui paragraf baru."
Jam 8.32 malam, disaat orang lain mungkin sedang belajar, mempelajari materi agar mereka menguasai saat-saat penting yang akan datang beberapa bulan lagi. Bahkan seseorang yang mempunyai otak jenius itu pun saat ini sedang mempelajari sesuatu, berlatih soal baru, berharap berhasil dalam ujian nanti. Sementara itu, seorang lelaki angkuh itu hanya berbaring di kamarnya dengan berbagai buku tebal disampingnya, tanpa dibukanya, dia pun hanya memejamkan mata dan menyalakan lagu lewat ponselnya.
Jam 9.05 malam, mata lelaki ini terbuka dan mulai meraih ponselnya. Dibukalah sebuah aplikasi olehnya dan mulailah ia menulis tulisan ini, tanpa menyadari bahwa ia sudah kalah selangkah dengan teman-temannya. Padahal nyatanya dia mempunyai banyak sekali waktu luang dari hari kemarin. Ketika teman-temannya mengikuti acara Seminar Lajur Misi, lelaki ini hanya diam di rumahnya, menolak untuk pergi karena dirasa membuang waktu. Sementara itu, dia hanya berbaring di kamarnya tanpa belajar apapun, tanpa membaca sedikit pun. Sementara teman-temannya yang baru saja selesai mengikuti seminar itu menambahkan niat mereka dengan belajar sehabis seminar agar mimpi mereka tercapai.
Jam 10.12 malam, lelaki ini mulai menyadari sesuatu, bahwa dia tidak akan bisa maju apabila terus bersikap seperti itu, bermalas-malasan, menyepelekan segala sesuatu.
Jam 10.16 malam, lelaki ini mulai berhenti menulis dan mematikan ponselnya. Diliriklah olehnya buku-buku tebal itu, mulai tangannya meraih salah satu buku yang ada. Dibacalah olehnya beberapa materi sambil berlatih soal.
Jam 11.23 malam, lelaki ini mencaci dirinya sendiri. Hanya sejam dia membaca buku itu dan rasa kantuk sudah menyelimuti dirinya. Memang masih ada esok hari, tapi dengan dua hari yang sudah sia-sia, dia berpikir bahwa esok hari akan sama saja, yang ada hanya dia menyia-nyiakan waktu, lagi.
Jam 11.35 malam, lelaki ini tertidur karena lamunannya sendiri, tak kuat menahan kantuknya dengan buku dan pena yang masih tergeletak di sampingnya. Lagi-lagi lelaki itu, aku.
"Aku mulai menyadari, bahwa waktu itu hanyalah suatu permainan yang pasti. Kau mungkin boleh sekali-kali atau bahkan acapkali mengutuknya, akan sinarnya yang terlalu pekat. Kau boleh sembunyi di antara sekat-sekat bernama ego, seolah kau paham tentang hakikat. Kau boleh... untuk terus berusaha lebih hebat, walau tahu esok hari kau akan berbuat hal yang sama. Tetapi, apa salahnya mencoba untuk yakin pada diri sendiri, bahwa esok akan lebih baik dari hari kemarin. Namun, sekali lagi, waktu adalah permainan yang pasti dan tak terulang kembali. Seburuk-buruk waktu adalah merenggut apa yang telah ia beri."

Popular posts from this blog

hutan

Obituari - "Di belakangmu" - Lembar Empat