Posts

Showing posts from 2019

sudut pandang

Tuan, aku sangat muak ketika manusia sudah melalukan penghakiman tentang salah dan benarnya suatu hal, yang mana hal tersebut tidak ada dasar, haluan, acuan ataupun aturan yang mengatur. Aku ingin hidup merdeka. Merdeka bukan berarti bebas melakukan sesuatu semaunya. Kemerdekaan bukanlah kebebasan, meksipun sekilas kedua kata tersebut identik adanya, tapi keduanya memiliki tujuan yang mana secara esensi berbeda. Jika bebas artinya tak terikat dengan nilai, maka merdeka memiliki arti bebas berbuat sesuai dengan dasar dan nilai yang berlaku.  Ibarat makan, kau boleh memakan apapun yang kau sukai, tapi kau tak bisa memaksa tubuhnya yang sudah kekenyayang, itulah merdeka, sadar akan batasan tanpa dibatasi atau dikendalikan oleh orang lain. Dan aku ingin merdeka, ku suarakan dengan gema disetiap sisi, dan aku bersedih, sebagian kecil dari kalian mengerti dan sebagian besar dari kalian menentang. Aku ingin merdeka, namun aku ternyata terbatasi dengan perbedatan benar d...

Dalam diam

Hening ini media kita bersua karena kata yang terucap sudah tak dapat lagi terdengar. Telinga sudah menolak suara yang terdengar dan akal sudah lupa arti aksara. Aman dalam diam karena tak perlu lagi khawatir akan penerimaan yang selalu manusia cari. Membuang jati diri demi derajat yang diagungkan, mengikuti arus karena yang berjuang akan mati, dihabisi keegoisan dan lenyap bersama kefanaan. Inginkan kebenaran sedangkan benaran tak pernah ada, Ia bersembunyi, nyaris musnah, tak terucap, tak terdengar, dan tak terjangkau. Kita semua aman dalam diam karena hanya itu yang absolut, kita semua menolak membuka mata dan memilih tertidur dalam mimpi. Realitas tak pernah ada, hanya mimpi yang nyata, halusinasi adalah satu, tak pernah ada takdir, tak pernah ada nasib, dalam diam kita nyaman.  Masalah tak pernah ada, selagi kita diam kita berada di surga, tanpa hujan dan tanpa  badai, hanya awan yang cerah dan angin yang damai. Diamlah kata-kata, tidurlah, manusia engga...

Pendosa

Aku ini pendosa, sebab aku menikam nurani demi kematangan jiwa, membakar mimpi demi meningkatkan keberanian, merobek intuisi demi mengendalikan akal. Kau pun pendosa, sebab kau menolak untuk menoleh peduli, menendang ikatan  demi derajat, membisukan bunyi untuk kenyamanan Lantas berdosakah aku bilamana tidak berjabat tangan dengan keegoisan sedang engkau menutup mata? Berdosakah aku bilamana tidak bersanding bahu meksipun kau memohon sedang engkau sendiri membiarkan aku diterkam buaya muara? Dan berdosakah aku bilamana berbincang dengan hening sedang engkau sibuk menyumbat telinga? Jikalau aku yang berselimut dosa ini keluar dari hutan dan pergi ke gua, masihkah aku berdosa atas persinggahanku? Dan aku membuat api untuk memasak butiran angan untuk kita santap lalu menolak kau makan, berdosa pulakah aku? Aku ini pendosa, maka bersujud aku dengan kerendahan, masih kah kau anggap hitamku ini pekat?Seolah daun gugur yang jatuh di tanah gersang, tak mau kah kau...

Pengabdian

Kelak sehabis pengabdianmu itu semua hal di dunia dapat menjadi milikmu, hal-hal yang tidak pernah orang lain sentuh pun akan kau dapatkan, dengan satu syarat, kau mengabdi dengan seluruh tumpah ragamu. Maka telah ku tumpahkan segala darah, ku singkirkan segala keluarga, ku bunuh hati dan rasa takut atas berbagai prasangka kehidupan hanya untuk pengabdianku. Sepadan kah? Kita membunuh diri untuk menjadi satu, kumpulan baru, keluarga baru, dan maksud tujuan baru. Kepada pengabdianku, maka aku tanamkanlah kepercayaan, bahwa pengabdianku tak akan sia-sia, karena aku merasakannya, hal yang berbeda, pengalaman yang berbeda, rasa yang berbeda yang mana apabila itu buruk mungkin sudahku tinggalkan sejak dari dulu. Tapi kau, apakah pengorbananmu sama dengan yang aku korbankan? Aku bunuh diriku dan yang ku kenal pun begitu dan ada juga yang lebih dari itu, lantas kau? Apa yang ingin kau korbankan untuk pengabdianmu? Pengabdianku, Tuhan sudah berjanji bahwa setiap perjalanan mahkluk ciptaan...

Untaian kata

Kata-kata adalah sebuah kehormatan yang tertinggi bagi ia yang memahami. Segala tipu daya, kebenaran, dan kebohongan menyelam dan berpadu didalamnya. Memahami adalah kunci untuk melihat kemurnian dari setiap aksara agar kita mengetahui setiap maksud dan tujuan yang tersirat. Kadang kala kata-kata menjadi senjata bagi kita untuk bertahan dan dengan kondisi seperti itu rasa-rasanya dunia ini tidak cocok bagi orang-orang yang mulia, semua adalah tentang muslihat, semua tentang bagaimana kita memainkan peran dan saling bertukar sumpah palsu. Pada dasarnya kebohongan dan kebenaran mempunyai rasa yang sama dan seiring manusia berkembang dengan meningkatkan kepadaian ia berkomunikasi. Pada akhirnya tidak akan ada yang tau kebenaran atau kebohongan kecuali diri kita sendiri. Kebanyakan manusia hanya berlomba untuk mendapatkan yang ia inginkan, hal ini bukanlah menjadi hal yang tabu lagi karena itu sudah menjadi sifat natural sebagai manusia. Kita tidak pernah puas dan sering kali lupa bersy...

Naif

Kita begitu naif Menjadikan berbagai angan di atas ranjang yang hangat Namun bertukar sepi dalam ruang yang hening Kita begitu naif Menemui jalan yang hilang namun terlelap dengan ketidaksadaran raga Hingga kita tenggelam ditelan angan dan membisu diiris janji Kita terlalu naif Meninjau berbagai hal dengan pikiran yang desulif Menipu sepi dengan pertemuan atau papasan semu Kita terlalu naif Namun kita dipaksa mengerti dengan berbagai lantunan birama yang terdengar Tapi kita harus mengerti bukan? Tak bisa kita kian tenggelam oleh kenaifan kita sendiri Barangkali semuanya sudah mengalir Maka mengalirlah deras hingga tumpah dari cawan netra Dan kita sama-sama membuka mata yang telah samar Menyingkirkan kenaifan yang kita buat dengan berkenan Memilih sisi dalam sisi yang tersisa 230119