Posts

Showing posts from July, 2017

Obituari - "Bahagia" - Lembar Tujuh Belas

Asap melambung dari goa jiwa-jiwa nelangsa. Sebuah euforia yang datang dari alam sadar Menggelitik bagian dalam diri hingga tertawa Hingga rindu yang datang mulai terbakar Aku suka saat tiap aksara yang terlontar tak menjadi baku Terasa seru bagi kita para pengelana waktu Meminggirkan kisah pilu yang menjadi benalu Seakan semua terasa cepat berlalu Hidup dan bahagia Hanya itulah yang aku rasa Jika hidup di dunia dapat selalu seperti ini Aku mau hidup seribu tahun lagi Hari-hari di kota istimewa Menikmati segalanya bersama senja Belajar tertawa dan bahagia Menghilangkan segala duka lara Terbuai dalam buih-buih kebahagiaan Menolak sirna dalam dekapan Usai sudah hari kita bergembira Singkat bagai fatamorgana di gurun sahara Kata terakhirku mungkin Terima kasih dan semoga ini bukan yang terakhir Mungkin tak semudah memandang cermin Tetapi tolong jangan berakhir nugs.obituari.lembartujuhbelas.230717

Obituari - "Damai" - Lembar Enam Belas

Duduklah disini bersamaku Menikmati langit yang bercampur rindu Membunuh sepi dari asap kesepianmu Sama seperti yang terucap di waktu itu Apa kau pernah membedakan? tentang para pemuja kedamaian dan yang bukan dari kata-kata yang lebih terbuka dan suara nyaman dalam telinga Apa kau pernah membedakan? Tentang sebuah hal yang mereka bilang berlebihan Dari mereka yang tak tau apa-apa dan hanya memaki aksara Aku menyukai perbincangan Dari segala macam pemikiran Dari berbagai macam kalangan Terutama orang-orang yang ku sebut kawan Yang aku rasa disini damai Ingin ku habiskan waktu hingga selesai Hingga tembakau yang kita hisap sudah usai Dan kita kembali diterpa badai Kau tahu sama seperi mereka Silakan temui aku dalam suatu perbincangan Niscaya akan selalu ku coba, membuat kopi yang kau pesan tak sepahit kehilangan Untuk tembakau terakhir kita Di saat terakhir kita di kota istimewa Menggabungkan semesta dan segala isinya Melupakan beban dan hingar untuk sementara...

Obituari - "Esensi" - Lembar Lima Belas

Mereka bilang pada akhir dunia kau akan mengerti, tentang semua hal-hal yang selalu menghampiri. Esensi, sebagai inti dari segala yang terjadi. Semakin lama aku semakin mengerti. Bukan tentang aku, tapi tentang kalian. Pernah mereka bertanya apa aku ingin hidup seribu tahu lagi, aku hanya menjawab tidak. Aku inginkan hidup yang singkat, aku ingin segera berakhir, mereka yang hidup disana sangat nyaman, sedangkan aku? aku kadang hanya merintih tanpa aman. Aku tak pernah mengerti sepenuhnya tentang aku, pikiranku kadang serumit salju yang turun di gunung merbabu, absurd. Bahkan tak pernah ada salju di gunung merbabu, lagi-lagi, rancu. Tetapi semakin lama aku di sini, aku semakin mengerti. Mengerti tentang kalian, dan aku mengerti tentang aku. Dan aku kadang mengerti betul tentang aku, yang aku inginkan hanya meretas surga dan hidup di sana selamanya. Untung saja, keinginan kejiku kadang dikabulkan Tuhan dan membuat aku sedikit bersyukur, tentang hari ini dan kemarin. P...

Obituari - "Penjuru" - Lembar Empat Belas

Di segala penjuru pasti memiliki ujung yang saru. Tak ada yang abadi, meski kau sangat ingin menggengam hingga akhir diri. Semua kan pergi suatu saat nanti, yang ada hanya diri sendiri, kecuali yang memang sejati karena ditempatkan di sini, di sisi. Tapi apa yang sejati akan berakhir pergi? iya atau tidaknya, aku selalu berharap tidak karena pada akhir waktu, aku tahu sesuatu yang pantas untuk digenggam, bahkan bila itu merenggang nyawa sekalipun. karena pada akhir waktu, disitulah semua aksara terlontar, untuk abadi atau untuk terakhir kali. pada akhir waktu, disitulah aku sendiri merenung. pada akhir waktu, berharaplah kita ada ditempat yang seharusnya kita berada. pada akhir waktu, berjuanglah saat kita tidak lagi di penjuru yang sama. pada akhir waktu, tetaplah di situ. pada akhir waktu, aku kan tetap seperti dahulu. dan pada akhir waktu, aku tetap akan disini, bila kembali. jangan pergi, bukankah kita abadi? atau hanya pikiranku saja? nugs.obituari.lembar...

Obituari - "Gama" - lembar tiga belas

Gama, mereka mengartikannya sebagai perjalanan yang tidak dapat dilalui secara acak. kau tahu? hidup ini tak seperti gama yang mereka katakan. hidup ini tak menentu, kita tak pernah tahu. dan kau tahu? kita selalu dapat memilih untuk melewati sebuah jalan dimana saja, kau pasti tahu, selalu ada pilihan disetiap jalan yang kita pilih. hanya saja kita tak pernah tahu konsekuensi yang ada. baik atau buruk, bukahkan itu kejutan saat hidup di dunia? dalam sebuah kotak para manusia berpesta di tengah malam. ada waktu dimana ramai mulai goyah dilanda bosan karena ramai tempat itu tak menjanjikan kenyamanan lagi. yang ku tunggupun sedang berbincang disana, ah tak butuh aku rupanya. lebih baik tak ku ganggu, tak enak hati disana merebut ramu. nanti ada saatnya untuk giliranku. keluarlah dari sebuah kotak ramai itu, mencari hening sementara waktu. dan sebagian dari mereka pun mulai gundah, dan mencari hening yang sama. berbincang kita diatas kabin gelap, melihat pemandangan lua...

Obituari - "Arah" - Lembar Duabelas

Atas ratusan lembaran polaroid yang ku biarkan melebur pada tepi jalan. Atas ribuan langkah yang tercetak abadi pada garis-garis khayal. Atas banyaknya tragedi yang termuat dalam lukisan aksara. Obituari sebagai coretan seorang pengelana waktu Tanpa atau dengan aksara duka, tetap menjadi kilasan makna yang tak terlupa. Akan fananya arah dalam hidup. Tetaplah menjadi tegap dari kesabaran Hingga suatu saat nanti, semuanya kembali  pada musi semi. nugs.obituari.lembarduabelas.010717

Obituari - "Analogi" - Lembar Sebelas

Ketika kali pertama matamu ku jadikan percaya bahwa kau memberiku tempat teduh dari lelah yang tak kunjung berkesudahan. Aku terus percaya tentang itu, tak ada keraguan yang pernah terselip didalamnya. Kau pikir kenapa aku mau terus bersamamu? karena aku percaya padamu dan aku ingin setiap langkah yang ku lewati terdapat dirimu didalamnya. Lantas kenapa aku tidak menyelam lebih dalam lagi? karena aku belum yakin. Kau pikir kenapa hanya sebagian orang saja yang berenang di laut lepas? karena mereka takut akan resikonya, sebab sejatinya hanya ada dua jawaban yang ada, yakni mereka berenang dengan tenang sambil menyelam dan menikmati indahnya terumbu karang dan segala macam-macam biota, atau tenggelam terseret arus dan dimangsa para hiu ganas dan berakhir naas. Kau tahu mereka yang cermat akan dua hal itu takkan mau menggambil resiko itu sampai mereka siap, jadilah mereka menghabiskan waktu di tepi pantai, menikmati deburan ombak yang jua tak kalah menyenangkan, dan mengagumi inda...

Obituari - "Menunggumu" - Lembar Sepuluh

Ada detik yang menembakan peluru logam hingga waktuku berlubang pada tengahnya Hingga jiwaku tak lagi tahu harus bersikap apa pada detik-detik yang jatuh Adakah sebuah kegaduhan yang tercipta berantai-rantai sebab kelalaianku dalam dimensi waktu? Jika memang ada, Kita harus bertemu, dan biarkan kuperbaiki kesalahan itu Wahai warna yang tercampur akan ragu, Aku akan menunggumu sampai kita bertemu nugs.obituari.lembarsepuluh.210617.

Obituari - "Pulih" - Lembar Sembilan

Di tengah keramaian aku terus merasa sepi, terasa asing walau banyak dikenal berbagai manusia. Terasa gulana walau hiburan didepan mata. Sial, apa tidak ada yang baik bagiku saat ini? Sesak pikiranku, memikirkan nasib yang kian merandu. Nasibku yang terasa terombang-ambing oleh orang lain. Mereka ingin itu. Tapi apa yang ku mau adalah hal yang bertentangan dengan mereka. Bimbang Mungkin ini sudah takdir Aku hanya berharap bahwa ini yang terbaik dan mereka bisa menerima itu. Ah, sudahlah aku sudah cukup gundah dibuatnya. Aku ingin segera pulih kembali!   nugs.obituari.lembarsembilan.200617

Obituari - "Mudita" - Lembar Delapan

Kau tahu? Malam itu aku begitu membatu dalam heningnya malam, semua yang aku takuti sekarang akhirnya terjadi. Mulai dari harapan tinggi diri sendiri yang belum bisa aku wujudkan dan harapan tinggi orang tua yang aku kecewakan. Sekarang apa? aku hanya berdiam menulis prosa ini, meratapi apa yang ada sekarang. Kau tahu? malam itu sungguh berat. Aku rasa usahaku rasanya sia-sia sekarang dan aku sudah kehilangan waktu. Sekarang apa? semua lampu sudah mati dan aku mati rasa. Kau tahu? Aku berawai karena semesta tidak memberiku kesempatan walau aku sudah sekarat. Kau tahu? Aku bingung Kau tahu? Aku tersenyum dan air mataku terjatuh sekali. Apa aku ini? senangkah atau sedihkah? Kau tahu? Aku bingung Kau tahu? Semua orang sedang berpesta sekarang, kecuali aku, aku hanya diam disini sambil meratap dan menulis prosa entah apa, karena yang ku tahu, menulislah yang membuat diriku lebih baik. Untuk sejenak menulis membuat aku sangat kecewa tetapi selanjutnya dapat ku lupakan. Kau tah...

Obituari - "Ibu" - Lembar Tujuh

Ibu, hal terindah yang pernah diberi oleh sang waktu seorang malaikat yang selalu memberi cinta dan restu seorang pelindung terpaan sang bayu Maaf ibu, nadi ciut ini tak pernah berani mengungkapnya secara langsung jadi tertulislah olehnya kata puitis oleh tinta hitam di Hari Ibu yang tak pernah tersampaikan dan memudar seiring waktu Maaf ibu, untuk kali ini belum berhasil diri memetik jambu walau sudah usaha diri menggebu dan engkau malah memberiku tebu Engkau pasti kecewa Tapi aku sudah berusaha Mungkin suatu saat nanti diksi kan berbeda Menjadi lebih indah penuh aksara Aku tahu karna ku sedang kecewa Sederhana, Ku kecewa kau pasti lebih kecewa Tapi beginilah adanya Tapi engkau sendiri berkata Hal yang kudapati hari ini bukanlah apa-apa Sejenak kau menyuruhku untuk santai saja bagaimana bisa? Wahai ibu, Suatu hari nanti pasti Langitkan berbeda dari hari ini Aku janji Terima kasih ibu, untuk yang kesekian kali. nugs.obituari.esok.lembartujuh.110617...

Obituari - "Belum Selesai" - Lembar Enam

Sepertiga malam terakhir ini. Aku masih menatap harap yang tiba-tiba muncul dalam kepala. Selalu berkata pada hati kecil bahwa tak semua harap menjelma nyata. Hanya saja, semua tahu logika tak pernah menemukan cara untuk mengalahkan angan. Hanya saja, apakah yang kita lakukan selama ini sia-sia? Mereka selalu berkata bahwa usaha tak akan mengkhianati hasil kalau sudah begini bagaimana? Ah sudahlah Sudah tertutuplah celah   Lebih baik aku mencari tempat berkeluh Tempat untukku mengaduh Tempat menghapus semua peluh Aku hanya ingin kembali utuh Untunglah sekarang waktu menuju subuh Tak bisa terus menerus kecewa Untuk apa? aku belum selesai. nugs.obituari.lembarenam.180617

Obituari - "Serendipiti" - Lembar Lima

Secangkir kopi menemaniku disaat gundah merasuk kedalam kalbu di antara hingar bingar kendaraan kota kembang. Dengan sejumlah puisi yang terbuang sia-sia di jalanan, menjadikan saksi atas catatan pinggir jalan yang melebur jatuh bersama aspal. Aku selalu senang akan jutaan aksara yang terlontar dalam perbincangan pinggir jalan bersama manusia-manusia yang mengerti akan setiap aspek jagat raya dengan kopi atau sebungkus tembakau karena memang, tak semua manusia dapat mengerti. Mungkin ulasan itu hanya membuat aku tampak kotor. Biarlah, aku memang bajingan. Paling tidak aku tidak berakhir menjadi bajingan yang mati dengan tanda tanya di kepala. Sebab, seringkali aku menemukan hal-hal yang membuatku berkaca atas obrolan singkat dengan manusia yang aku sebut kawan. Biarlah, akan ada waktunya kita semua berakhir. Berakhir untuk berbicara seperti itu dan mulai menyusuri sesuatu yang nyata, sesuatu yang membunuh kita perlahan, lebih dari aksara. Sampai kita menyadari bahwa kita hanyal...

Obituari - "Di belakangmu" - Lembar Empat

Aku selalu berdetak di detik yang tidak dapat berkutik. Untuk kesekian kalinya, aku tenang dan aku tertawa, di belakangmu. Kadang-kadang aku juga bosan dengan dunia, sehingga aku mencari sebuah pelarian, lagi. Ternyata bisa aku temukan disini, mungkin aku harus berterima kasih? Atas senyum seindah senja yang jauh dari mata, yang tak pernah berubah. Ah rasanya menyenangkan untuk menggapai yang tak terjankau dalam hal lain. Aku harap kau jangan mundur, maju pun rasanya tak perlu, hanya cukup selalu disitu, hingga aku merasa bahwa surga tak pernah jauh. nugs.obituari.lembarempat.dibelakangmu.081016

Obituari - "Renjana" - Lembar Tiga

Hariku tiada yang berubah. Masih terus terbayang-bayang akan suara nestapa masa depan. Berkutat dengan suara lantang acap kali pulang ke rumah bukanlah suatu hal yang mudah. Aku inginkan perubahan, aku inginkan hidup yang lain, hidup seperti ini tidak enak, terlalu ramai dan terlalu tegang. Aku butuh tenang, aku butuh damai, adakah seseorang yang bisa mematikan volume kehidupan ini? Tak ada lagi senyum yang ku lihat sekilas. Semua ini rancu dan aku mulai berpikir siapa yang patut disalahkan. Semua ini rumit, sehingga aku mulai hilang di antara andai dan jika. Aku keluar dan mencoba tertawa kepada lamunanku yang selalu berlari dengan nostalgia. Dimana aku sebagai seorang bocah bersama teman-temannya, melakoni hari seperti anak-anak pada umumnya. Tenang dan damai, bersenda bersama teman sebaya. Menolak mengingat berapa piring pecah yang pernah terjadi di dalam dapur berlantai abu. Pagiku tiada berubah, tetap menjalani rutinitas, bergelut dengan angka dan kata. Malamku tiada berubah...

Obituari - "Senandika" - Lembar Dua

Tak ada yang lebih egois dari berdialog dengan diri sendiri. Pura-pura tuli akan suara-suara semesta di sekitarnya, pula membuta saat kerumunan didekap ramai. Tetapi rasanya memang sudah seperti itulah adanya. Memenuhi lubang kognisi dengan dengan aksara imaji, berekonstruksi , memahami apa yang tidak dan harus dilakukan sendiri. Kepalaku beku saat tak bisa meraih inti, walau hangat mentari tetap menyinari. Bak mencari persamaan arti antara teh manis dan kopi pahit. Apakah mereka itu satu hal yang sama? Semua ini rasanya hanya masalah analogi dan perspektif, bukankah begitu puan? Lihatlah seruput nyaman lewat lembut bibirnya, terasa kuat manis yang puan rasakan saat meminum teh manis itu. Berbeda dengan tuan, pahit kopinya terasa hebat, tetapi ia tidak mengeluh tentangnya. Kenapa? Teh manis dan kopi pahit, apakah mereka itu sama? Apabila jawabannya adalah iya, apakah bisa aku samakan hal itu dengan kehidupan ini?  karena yang ku tahu, semua manusia itu selalu menjalani ha...

Obituari - "Aku" - Lembar Satu

Aku adalah rintikan malas yang menghujam langit, yang menjadikan pelangi abu sebagai seluncuran mimpi, yang menunggu datangnya garam-garam pencair uap dan jatuh melayang-layang di atas ribuan awan hingga aku terhempas oleh kupu-kupu biru, terjerat pada kail petani angan dan diam. Diam, karena menulis hanya menghabiskan tenaga juga degupan jantung yang terbuang sia-sia. Diam, karena waktu hanya merengek pada ksatria bukan pada pecundang sastra.   Aku adalah sang titik yang berada diantara ribuan kata. Kata yang  tidak akan pernah menjadi kisah hidup di dunia. Aku juga adalah sang rembulan yang berada diantara jutaan bintang. Walau mentari kalahkan sinarku, aku tetap tersenyum sepanjang malam. Aku adalah aku, hidupku yang penuh hal semu, walau nampak begitu nyata. Aku adalah lungkrah, yang bersembunyi di balik tawa. Sebuah peninggalan noda peperangan masa lampau, yang membuat melankolis kehidupan selalu muncul setiap saat. Dalam bias-bias yang samar, aku hanyala...