Obituari - "Analogi" - Lembar Sebelas
Ketika kali pertama matamu ku jadikan percaya bahwa kau memberiku tempat teduh dari lelah yang tak kunjung berkesudahan. Aku terus percaya tentang itu, tak ada keraguan yang pernah terselip didalamnya.
Kau pikir kenapa aku mau terus bersamamu? karena aku percaya padamu dan aku ingin setiap langkah yang ku lewati terdapat dirimu didalamnya.
Lantas kenapa aku tidak menyelam lebih dalam lagi? karena aku belum yakin.
Kau pikir kenapa hanya sebagian orang saja yang berenang di laut lepas? karena mereka takut akan resikonya, sebab sejatinya hanya ada dua jawaban yang ada, yakni mereka berenang dengan tenang sambil menyelam dan menikmati indahnya terumbu karang dan segala macam-macam biota, atau tenggelam terseret arus dan dimangsa para hiu ganas dan berakhir naas.
Kau tahu mereka yang cermat akan dua hal itu takkan mau menggambil resiko itu sampai mereka siap, jadilah mereka menghabiskan waktu di tepi pantai, menikmati deburan ombak yang jua tak kalah menyenangkan, dan mengagumi indah tenggelamnya matahari yang berbekas kuat di memori.
Aku pun begitu.
Aku bagai seseorang yang menunggu matahari tenggelam, aku ingin menikmati setiap detik yang tersisa hingga akhirnya kau tahu bahwa aku cinta.
Sebab lambat nanti kau akan pergi dari sini, tetapi percayalah aku akan terus merindukan saat-saat disampingmu.
Sampai saat itu datang, aku mau kau jadi yang tak berlalu.
Sampai saat itu datang, tetaplah jadi tempat teduh itu.
Sampai saat itu datang, tetaplah ada bagiku, karena kau sama seperti pemantik untuk menyalakan lilin dan warna pada hitam dan putih.
Semuanya tak akan lengkap.
Seperti itulah sekiranya.
Omong-omong, hingga saatnya kau pergi nanti, tetaplah dekat, sampai suatu saat kita bertemu kembali atau bahkan menjadi abadi?
nugs.obituari.lembarsebelas.300617
Kau pikir kenapa aku mau terus bersamamu? karena aku percaya padamu dan aku ingin setiap langkah yang ku lewati terdapat dirimu didalamnya.
Lantas kenapa aku tidak menyelam lebih dalam lagi? karena aku belum yakin.
Kau pikir kenapa hanya sebagian orang saja yang berenang di laut lepas? karena mereka takut akan resikonya, sebab sejatinya hanya ada dua jawaban yang ada, yakni mereka berenang dengan tenang sambil menyelam dan menikmati indahnya terumbu karang dan segala macam-macam biota, atau tenggelam terseret arus dan dimangsa para hiu ganas dan berakhir naas.
Kau tahu mereka yang cermat akan dua hal itu takkan mau menggambil resiko itu sampai mereka siap, jadilah mereka menghabiskan waktu di tepi pantai, menikmati deburan ombak yang jua tak kalah menyenangkan, dan mengagumi indah tenggelamnya matahari yang berbekas kuat di memori.
Aku pun begitu.
Aku bagai seseorang yang menunggu matahari tenggelam, aku ingin menikmati setiap detik yang tersisa hingga akhirnya kau tahu bahwa aku cinta.
Sebab lambat nanti kau akan pergi dari sini, tetapi percayalah aku akan terus merindukan saat-saat disampingmu.
Sampai saat itu datang, aku mau kau jadi yang tak berlalu.
Sampai saat itu datang, tetaplah jadi tempat teduh itu.
Sampai saat itu datang, tetaplah ada bagiku, karena kau sama seperti pemantik untuk menyalakan lilin dan warna pada hitam dan putih.
Semuanya tak akan lengkap.
Seperti itulah sekiranya.
Omong-omong, hingga saatnya kau pergi nanti, tetaplah dekat, sampai suatu saat kita bertemu kembali atau bahkan menjadi abadi?
nugs.obituari.lembarsebelas.300617