Obituari - "Gama" - lembar tiga belas

Gama, mereka mengartikannya sebagai perjalanan yang tidak dapat dilalui secara acak.

kau tahu? hidup ini tak seperti gama yang mereka katakan.

hidup ini tak menentu, kita tak pernah tahu.
dan kau tahu? kita selalu dapat memilih untuk melewati sebuah jalan dimana saja,
kau pasti tahu, selalu ada pilihan disetiap jalan yang kita pilih.
hanya saja kita tak pernah tahu konsekuensi yang ada.
baik atau buruk, bukahkan itu kejutan saat hidup di dunia?

dalam sebuah kotak para manusia berpesta di tengah malam.
ada waktu dimana ramai mulai goyah dilanda bosan karena ramai tempat itu tak menjanjikan kenyamanan lagi.
yang ku tunggupun sedang berbincang disana, ah tak butuh aku rupanya.
lebih baik tak ku ganggu, tak enak hati disana merebut ramu.
nanti ada saatnya untuk giliranku.

keluarlah dari sebuah kotak ramai itu, mencari hening sementara waktu.
dan sebagian dari mereka pun mulai gundah, dan mencari hening yang sama.
berbincang kita diatas kabin gelap, melihat pemandangan luar.

diucap mereka pertanyaan-pertanyaan dan pernyataan yang sukar.
kau tahu? tak ada yang baru di bawah sinar rembulan, semua ada disini, ku kira hanya aku saja yang mengalami.
mereka mulai bercerita tentang sukarnya keadaan ketika orang lain disana berpesta pora.

rokok mereka, perempuan itu, dan aku mulai habis.
walau sudah lama berhenti, tapi tak ada salahnya menikmati lagi sesekali.
tak heran hanya dengan tembakau kita bisa jadi berbincang lama.
dan acara utama sudah mau dimulai, lebih baik kita saksikan daripada disini dikoyak sunyi.

tapi dari perbincangan tadi, ada beberapa hal yang terdiam dalam benak, sampai ramainya keadaan tidak bisa menyingkirkan senak.
kau tahu sendiri, yang ku tahu semuanya pasti memiliki arti.
tapi tak semua dapat mengerti.
kau sudah tahu sendiri
kadang lebih mudah jadi diri sendiri, tak peduli kata yang lain.
suara kan terus terdengar, walau kita menerima atau menolak.

dalam dunia, cukup sederhana.
yang sejati kan tinggal,
yang fana kan tanggal.

ah dan kau tahu? jalan pulang selalu sepi, sambil memacu kuda besi ini, entah kenapa semuanya jadi terpikirkan kembali.
bukan mereka,
tapi aku.

nugs.obituari.lembartigabelas.100717

Popular posts from this blog

hutan

Obituari - "Di belakangmu" - Lembar Empat