Obituari - "Mudita" - Lembar Delapan
Kau tahu? Malam itu aku begitu membatu dalam heningnya malam, semua yang aku takuti sekarang akhirnya terjadi. Mulai dari harapan tinggi diri sendiri yang belum bisa aku wujudkan dan harapan tinggi orang tua yang aku kecewakan. Sekarang apa? aku hanya berdiam menulis prosa ini, meratapi apa yang ada sekarang.
Kau tahu? malam itu sungguh berat. Aku rasa usahaku rasanya sia-sia sekarang dan aku sudah kehilangan waktu. Sekarang apa? semua lampu sudah mati dan aku mati rasa.
Kau tahu? Aku berawai karena semesta tidak memberiku kesempatan walau aku sudah sekarat.
Kau tahu? Aku bingung
Kau tahu? Aku tersenyum dan air mataku terjatuh sekali. Apa aku ini? senangkah atau sedihkah?
Kau tahu? Aku bingung
Kau tahu? Semua orang sedang berpesta sekarang, kecuali aku, aku hanya diam disini sambil meratap dan menulis prosa entah apa, karena yang ku tahu, menulislah yang membuat diriku lebih baik. Untuk sejenak menulis membuat aku sangat kecewa tetapi selanjutnya dapat ku lupakan.
Kau tahu? Aku pikir, aku tak perlu lagi menulis sekarang. Ketika semua orang berpesta, dia malah datang kesini, menanyakan kabar si pecundang, menyemangatinya saat si pecundang sedang benar-benar dipecundangi dunia, lagi.
Kau tahu? Aku bisa saja berbisik pada hujan, berteriak pada bulan, bertengkar dengan lautan, dan menghilang dalam ingatan, atau bahkan kembali pada masa dimana aku begulat dengan autan, hingga mulut berbusa dan dimakamkan.
Kau tahu? Aku kagum padanya, saat itu dia datang juga, di momen yang sama.
Kau tahu? Untuk sementara aku bisa tenang, karena aku senang ada orang yang peduli.
Kau tahu? Aku tenang untuk sementara, sosok dalam puisiku datang saat aku dikerubungi sepi.
Kau tahu? Tidak ada yang tahu, betapa besar ketulusan seseorang, tapi aku yakin dia benar-benar tulus.
Kau tahu? Sekarang aku seperti berbicara pada tiap titik hempasan air, aku masih berpikir. Semua ini sulit, ingin ku segera menuju akhir, tanpa perlu menunggu untuk terukir.
Kau tahu? Sungguh, aku ingin menjadi dirinya, hidupnya sempurna, semua yang ia jalani seperti dilindungi para dewa. Pantas saja ia tak pernah tajuh, itulah sebabnya ia selalu ku tulis dalam aksara bodohku.
Kau tahu? Hidupnya ternyata tak sesempurna itu. Aku yang meratap akan kesedihanku sendiri seketika hilang.
Kau tahu? Dia menceritakan masalahnya dan aku mengerti sekarang.
Kau tahu? Sempurna adalah kata yang dilarang di muka bumi ini, tak ada yang sempurna. Bahkan lebih buruk dan aku lemah karena terjatuh hanya karena masalah yang kuhadapi sekarang, walau perih tapi lukanya lebih dalam.
Kau tahu? Aku mendengarkannya selalu.
Kau tahu? Seketika aku ingin menjadi payung baginya, tak akan aku biarkan hujan membasahinya, dan tak akan juga ku biarkan terik matahari tidak membakar kulitnya.
Kau tahu? Aku mau dia tetap disitu.
Kau tahu? Aku menyayanginya, sayang sekali.
Tapi kau tahu? belum saatnya dia tahu, biarkan dia tetap disitu, bersamaku.
nugs.obituari.lembardelapan.170617
Kau tahu? malam itu sungguh berat. Aku rasa usahaku rasanya sia-sia sekarang dan aku sudah kehilangan waktu. Sekarang apa? semua lampu sudah mati dan aku mati rasa.
Kau tahu? Aku berawai karena semesta tidak memberiku kesempatan walau aku sudah sekarat.
Kau tahu? Aku bingung
Kau tahu? Aku tersenyum dan air mataku terjatuh sekali. Apa aku ini? senangkah atau sedihkah?
Kau tahu? Aku bingung
Kau tahu? Semua orang sedang berpesta sekarang, kecuali aku, aku hanya diam disini sambil meratap dan menulis prosa entah apa, karena yang ku tahu, menulislah yang membuat diriku lebih baik. Untuk sejenak menulis membuat aku sangat kecewa tetapi selanjutnya dapat ku lupakan.
Kau tahu? Aku pikir, aku tak perlu lagi menulis sekarang. Ketika semua orang berpesta, dia malah datang kesini, menanyakan kabar si pecundang, menyemangatinya saat si pecundang sedang benar-benar dipecundangi dunia, lagi.
Kau tahu? Aku bisa saja berbisik pada hujan, berteriak pada bulan, bertengkar dengan lautan, dan menghilang dalam ingatan, atau bahkan kembali pada masa dimana aku begulat dengan autan, hingga mulut berbusa dan dimakamkan.
Kau tahu? Aku kagum padanya, saat itu dia datang juga, di momen yang sama.
Kau tahu? Untuk sementara aku bisa tenang, karena aku senang ada orang yang peduli.
Kau tahu? Aku tenang untuk sementara, sosok dalam puisiku datang saat aku dikerubungi sepi.
Kau tahu? Tidak ada yang tahu, betapa besar ketulusan seseorang, tapi aku yakin dia benar-benar tulus.
Kau tahu? Sekarang aku seperti berbicara pada tiap titik hempasan air, aku masih berpikir. Semua ini sulit, ingin ku segera menuju akhir, tanpa perlu menunggu untuk terukir.
Kau tahu? Sungguh, aku ingin menjadi dirinya, hidupnya sempurna, semua yang ia jalani seperti dilindungi para dewa. Pantas saja ia tak pernah tajuh, itulah sebabnya ia selalu ku tulis dalam aksara bodohku.
Kau tahu? Hidupnya ternyata tak sesempurna itu. Aku yang meratap akan kesedihanku sendiri seketika hilang.
Kau tahu? Dia menceritakan masalahnya dan aku mengerti sekarang.
Kau tahu? Sempurna adalah kata yang dilarang di muka bumi ini, tak ada yang sempurna. Bahkan lebih buruk dan aku lemah karena terjatuh hanya karena masalah yang kuhadapi sekarang, walau perih tapi lukanya lebih dalam.
Kau tahu? Aku mendengarkannya selalu.
Kau tahu? Seketika aku ingin menjadi payung baginya, tak akan aku biarkan hujan membasahinya, dan tak akan juga ku biarkan terik matahari tidak membakar kulitnya.
Kau tahu? Aku mau dia tetap disitu.
Kau tahu? Aku menyayanginya, sayang sekali.
Tapi kau tahu? belum saatnya dia tahu, biarkan dia tetap disitu, bersamaku.
nugs.obituari.lembardelapan.170617