Obituari - "Aku" - Lembar Satu
Aku adalah rintikan malas yang menghujam langit, yang menjadikan
pelangi abu sebagai seluncuran mimpi, yang menunggu datangnya
garam-garam pencair uap dan jatuh melayang-layang di atas ribuan awan hingga aku terhempas oleh kupu-kupu biru, terjerat pada kail petani angan dan diam.
Diam, karena menulis hanya menghabiskan tenaga juga degupan jantung yang terbuang sia-sia.
Diam, karena waktu hanya merengek pada ksatria bukan pada pecundang sastra.
Aku adalah sang titik yang berada diantara ribuan kata. Kata yang tidak akan pernah menjadi kisah hidup di dunia. Aku juga adalah sang rembulan yang berada diantara jutaan bintang. Walau mentari kalahkan sinarku, aku tetap tersenyum sepanjang malam. Aku adalah aku, hidupku yang penuh hal semu, walau nampak begitu nyata.
Aku adalah lungkrah, yang bersembunyi di balik tawa. Sebuah peninggalan noda peperangan masa lampau, yang membuat melankolis kehidupan selalu muncul setiap saat. Dalam bias-bias yang samar, aku hanyalah kias-kias yang nanar.
Dalam dekapan malam yang sunyi, disitulah aku berada. Akulah sang hati yang menggerutu, yang sering kali dirundung pilu, akibat teringat semua yang terjadi di masa lalu.
Demikianlah adanya, aku hanyalah bayang yang terkurung dalam bait ketidakpastian di setiap aksara yang datang secara tiba-tiba. Atas ribuan kata, akulah jeda yang tertahan lebih lama untuk menyapa mimpi dan harapan.
Atas ini dan itu yang sengaja aku lupakan jua, berdiri aku yang sekarang. Aku hanya seorang pencari makna dalam sebuah tanya.
nugs.obituari.lembarsatu.150816
Diam, karena menulis hanya menghabiskan tenaga juga degupan jantung yang terbuang sia-sia.
Diam, karena waktu hanya merengek pada ksatria bukan pada pecundang sastra.
Aku adalah sang titik yang berada diantara ribuan kata. Kata yang tidak akan pernah menjadi kisah hidup di dunia. Aku juga adalah sang rembulan yang berada diantara jutaan bintang. Walau mentari kalahkan sinarku, aku tetap tersenyum sepanjang malam. Aku adalah aku, hidupku yang penuh hal semu, walau nampak begitu nyata.
Aku adalah lungkrah, yang bersembunyi di balik tawa. Sebuah peninggalan noda peperangan masa lampau, yang membuat melankolis kehidupan selalu muncul setiap saat. Dalam bias-bias yang samar, aku hanyalah kias-kias yang nanar.
Dalam dekapan malam yang sunyi, disitulah aku berada. Akulah sang hati yang menggerutu, yang sering kali dirundung pilu, akibat teringat semua yang terjadi di masa lalu.
Demikianlah adanya, aku hanyalah bayang yang terkurung dalam bait ketidakpastian di setiap aksara yang datang secara tiba-tiba. Atas ribuan kata, akulah jeda yang tertahan lebih lama untuk menyapa mimpi dan harapan.
Atas ini dan itu yang sengaja aku lupakan jua, berdiri aku yang sekarang. Aku hanya seorang pencari makna dalam sebuah tanya.
nugs.obituari.lembarsatu.150816