Obituari - "Renjana" - Lembar Tiga

Hariku tiada yang berubah. Masih terus terbayang-bayang akan suara nestapa masa depan. Berkutat dengan suara lantang acap kali pulang ke rumah bukanlah suatu hal yang mudah. Aku inginkan perubahan, aku inginkan hidup yang lain, hidup seperti ini tidak enak, terlalu ramai dan terlalu tegang. Aku butuh tenang, aku butuh damai, adakah seseorang yang bisa mematikan volume kehidupan ini?

Tak ada lagi senyum yang ku lihat sekilas. Semua ini rancu dan aku mulai berpikir siapa yang patut disalahkan. Semua ini rumit, sehingga aku mulai hilang di antara andai dan jika. Aku keluar dan mencoba tertawa kepada lamunanku yang selalu berlari dengan nostalgia. Dimana aku sebagai seorang bocah bersama teman-temannya, melakoni hari seperti anak-anak pada umumnya. Tenang dan damai, bersenda bersama teman sebaya. Menolak mengingat berapa piring pecah yang pernah terjadi di dalam dapur berlantai abu.

Pagiku tiada berubah, tetap menjalani rutinitas, bergelut dengan angka dan kata.

Malamku tiada berubah, tetap terjaga hingga sepertiga malam walau mata sudah tertutup rapat.

Segalanya seperti lingkaran, tidak maju, tidak juga mundur, aku hanya berputar.

Kekesalan tak berarti apa-apa, kata-kata juga tak berarti apa-apa.

Kembali aku mempertanyakan perihal keadilan, yang mana mereka bilang semua orang mempunyai hak untuk mendapatkannya. Tetapi dimana? Ah sudahlah, persetan dengan keadilan, tak ada yang adil di dunia ini. Sudah juga ku biasakan tentang itu.

Atas renjana yang bergebu-gebu tertanam, suatu hari akan ada hal yang lebih baik, bukan sepertinya tetapi tetaplah sebagai aku. Aku tak mau berakhir percuma dengan sandang yang mereka dewa-dewakan. Tak ada satupun dari mereka yang menjanjikan kebagiaan.

Aku tak mau seperti orang lain. Mereka kadang berbohong akan kehidupan. Suara-suara itu kadang tidak nyata, suara-suara itu kadang hanya tong kosong yang nyatanya kalah dengan mereka yang bersandang sama. Aku bingung sekaligus kesal, siapa yang dapat dipercaya dan diikuti? diri sendiri atau suara bajingan itu? sampai aku hafal akan setiap aksara yang terucap.

Atas renjana yang tertancap dalam. Aku tunggu kepadanya yang acap kali berucap mudah tanpa melihatkan taringnya. Hingga nanti kita membuka mata dan bertatapan. dan aku bahagia?

nugs.obituari.lembartiga.020916

Popular posts from this blog

hutan

Obituari - "Di belakangmu" - Lembar Empat