Obituari - "Penjuru" - Lembar Empat Belas
Di segala penjuru pasti memiliki ujung yang saru. Tak ada yang abadi, meski kau sangat ingin menggengam hingga akhir diri. Semua kan pergi suatu saat nanti, yang ada hanya diri sendiri, kecuali yang memang sejati karena ditempatkan di sini, di sisi.
Tapi apa yang sejati akan berakhir pergi?
iya atau tidaknya, aku selalu berharap tidak
karena pada akhir waktu, aku tahu sesuatu yang pantas untuk digenggam, bahkan bila itu merenggang nyawa sekalipun.
karena pada akhir waktu, disitulah semua aksara terlontar, untuk abadi atau untuk terakhir kali.
pada akhir waktu, disitulah aku sendiri merenung.
pada akhir waktu, berharaplah kita ada ditempat yang seharusnya kita berada.
pada akhir waktu, berjuanglah saat kita tidak lagi di penjuru yang sama.
pada akhir waktu, tetaplah di situ.
pada akhir waktu, aku kan tetap seperti dahulu.
dan pada akhir waktu, aku tetap akan disini, bila kembali.
jangan pergi, bukankah kita abadi?
atau hanya pikiranku saja?
nugs.obituari.lembarempatbelas.110717
Tapi apa yang sejati akan berakhir pergi?
iya atau tidaknya, aku selalu berharap tidak
karena pada akhir waktu, aku tahu sesuatu yang pantas untuk digenggam, bahkan bila itu merenggang nyawa sekalipun.
karena pada akhir waktu, disitulah semua aksara terlontar, untuk abadi atau untuk terakhir kali.
pada akhir waktu, disitulah aku sendiri merenung.
pada akhir waktu, berharaplah kita ada ditempat yang seharusnya kita berada.
pada akhir waktu, berjuanglah saat kita tidak lagi di penjuru yang sama.
pada akhir waktu, tetaplah di situ.
pada akhir waktu, aku kan tetap seperti dahulu.
dan pada akhir waktu, aku tetap akan disini, bila kembali.
jangan pergi, bukankah kita abadi?
atau hanya pikiranku saja?
nugs.obituari.lembarempatbelas.110717