Obituari - "Senandika" - Lembar Dua
Tak ada yang lebih egois dari berdialog dengan diri sendiri. Pura-pura tuli akan suara-suara semesta di sekitarnya, pula membuta saat kerumunan didekap ramai. Tetapi rasanya memang sudah seperti itulah adanya. Memenuhi lubang kognisi dengan dengan aksara imaji, berekonstruksi , memahami apa yang tidak dan harus dilakukan sendiri.
Kepalaku beku saat tak bisa meraih inti, walau hangat mentari tetap menyinari. Bak mencari persamaan arti antara teh manis dan kopi pahit. Apakah mereka itu satu hal yang sama?
Semua ini rasanya hanya masalah analogi dan perspektif, bukankah begitu puan?
Lihatlah seruput nyaman lewat lembut bibirnya, terasa kuat manis yang puan rasakan saat meminum teh manis itu. Berbeda dengan tuan, pahit kopinya terasa hebat, tetapi ia tidak mengeluh tentangnya. Kenapa?
Teh manis dan kopi pahit, apakah mereka itu sama?
Apabila jawabannya adalah iya, apakah bisa aku samakan hal itu dengan kehidupan ini? karena yang ku tahu, semua manusia itu selalu menjalani hal-hal yang berbeda, kadang mereka menginginkan manis tetapi nyatanya rutinitas harian itu ternyata sudah menjadi sesuatu bagi orang lain, sehingga sebagian dari mereka terpisah dari manisnya hari dan melakoni rutinitas yang pahit, dan mereka mengeluh tentang itu. Kenapa tidak ada satupun dari mereka yang menginginkan pahit? Aku mulai merasa bahwa itu dua hal yang berbeda. Kalau begitu, mengapa semua orang dapat menikmati teh manis dan kopi pahit tanpa mengeluh sedikitpun tentangnya?
Yang ku tahu, teh manis dan kopi pahit sama-sama berakhir dengan ampas yang ditinggalkan, saat manis dan pahit mereka bercampur dengan tirta.
Apakah manusia pun sama seperti halnya ampas teh manis dan kopi pahit? Mati dan ditinggalkan?
Apabila jawabannya adalah iya. Lalu untuk apa semua ini?
Untuk apa aku mengais kata yang tercecer diantara puing-puing sepi, bila aku hanya berakhir layaknya ampas.
Untuk apa aku bertahan dari tamparan jarak yang memisah antara impian dan sadar?
Untuk apa aku menyebar kata-kata yang dapat memperjelas keadaan dunia antara gelap dan terang?
Untuk apa aku mengenang rasa sakit dari kejauhan samudera?
Untuk apa?
Yang aku tahu, aku tak mau seperti nasib ampas teh dan kopi pahit. Hal itu fana, dan aku tidak.
Kelak akan aku sendiri yang akan temukan sebuah arti yang bersanding agung disana.
Aku hanya tak ingin berakhir dalam tanya, wahai teh manis dan kopi pahit.
nugs.obituari.lembardua.190816
Kepalaku beku saat tak bisa meraih inti, walau hangat mentari tetap menyinari. Bak mencari persamaan arti antara teh manis dan kopi pahit. Apakah mereka itu satu hal yang sama?
Semua ini rasanya hanya masalah analogi dan perspektif, bukankah begitu puan?
Lihatlah seruput nyaman lewat lembut bibirnya, terasa kuat manis yang puan rasakan saat meminum teh manis itu. Berbeda dengan tuan, pahit kopinya terasa hebat, tetapi ia tidak mengeluh tentangnya. Kenapa?
Teh manis dan kopi pahit, apakah mereka itu sama?
Apabila jawabannya adalah iya, apakah bisa aku samakan hal itu dengan kehidupan ini? karena yang ku tahu, semua manusia itu selalu menjalani hal-hal yang berbeda, kadang mereka menginginkan manis tetapi nyatanya rutinitas harian itu ternyata sudah menjadi sesuatu bagi orang lain, sehingga sebagian dari mereka terpisah dari manisnya hari dan melakoni rutinitas yang pahit, dan mereka mengeluh tentang itu. Kenapa tidak ada satupun dari mereka yang menginginkan pahit? Aku mulai merasa bahwa itu dua hal yang berbeda. Kalau begitu, mengapa semua orang dapat menikmati teh manis dan kopi pahit tanpa mengeluh sedikitpun tentangnya?
Yang ku tahu, teh manis dan kopi pahit sama-sama berakhir dengan ampas yang ditinggalkan, saat manis dan pahit mereka bercampur dengan tirta.
Apakah manusia pun sama seperti halnya ampas teh manis dan kopi pahit? Mati dan ditinggalkan?
Apabila jawabannya adalah iya. Lalu untuk apa semua ini?
Untuk apa aku mengais kata yang tercecer diantara puing-puing sepi, bila aku hanya berakhir layaknya ampas.
Untuk apa aku bertahan dari tamparan jarak yang memisah antara impian dan sadar?
Untuk apa aku menyebar kata-kata yang dapat memperjelas keadaan dunia antara gelap dan terang?
Untuk apa aku mengenang rasa sakit dari kejauhan samudera?
Untuk apa?
Yang aku tahu, aku tak mau seperti nasib ampas teh dan kopi pahit. Hal itu fana, dan aku tidak.
Kelak akan aku sendiri yang akan temukan sebuah arti yang bersanding agung disana.
Aku hanya tak ingin berakhir dalam tanya, wahai teh manis dan kopi pahit.
nugs.obituari.lembardua.190816