Obituari - "Serendipiti" - Lembar Lima
Secangkir kopi menemaniku disaat gundah merasuk kedalam kalbu di antara hingar bingar kendaraan kota kembang. Dengan sejumlah puisi yang terbuang sia-sia di jalanan, menjadikan saksi atas catatan pinggir jalan yang melebur jatuh bersama aspal.
Aku selalu senang akan jutaan aksara yang terlontar dalam perbincangan pinggir jalan bersama manusia-manusia yang mengerti akan setiap aspek jagat raya dengan kopi atau sebungkus tembakau karena memang, tak semua manusia dapat mengerti.
Mungkin ulasan itu hanya membuat aku tampak kotor. Biarlah, aku memang bajingan. Paling tidak aku tidak berakhir menjadi bajingan yang mati dengan tanda tanya di kepala. Sebab, seringkali aku menemukan hal-hal yang membuatku berkaca atas obrolan singkat dengan manusia yang aku sebut kawan.
Biarlah, akan ada waktunya kita semua berakhir. Berakhir untuk berbicara seperti itu dan mulai menyusuri sesuatu yang nyata, sesuatu yang membunuh kita perlahan, lebih dari aksara.
Sampai kita menyadari bahwa kita hanyalah tulang lunak dalam sudut kecil pikiran kebebasan.
Sampai kita menyadari pikiran kita tidak sedalam yang kita kira.
Dan Sampai saat itu datang, tetap seperti itu, kawan.
nugs.obituari.lembarlima.121216
Aku selalu senang akan jutaan aksara yang terlontar dalam perbincangan pinggir jalan bersama manusia-manusia yang mengerti akan setiap aspek jagat raya dengan kopi atau sebungkus tembakau karena memang, tak semua manusia dapat mengerti.
Mungkin ulasan itu hanya membuat aku tampak kotor. Biarlah, aku memang bajingan. Paling tidak aku tidak berakhir menjadi bajingan yang mati dengan tanda tanya di kepala. Sebab, seringkali aku menemukan hal-hal yang membuatku berkaca atas obrolan singkat dengan manusia yang aku sebut kawan.
Biarlah, akan ada waktunya kita semua berakhir. Berakhir untuk berbicara seperti itu dan mulai menyusuri sesuatu yang nyata, sesuatu yang membunuh kita perlahan, lebih dari aksara.
Sampai kita menyadari bahwa kita hanyalah tulang lunak dalam sudut kecil pikiran kebebasan.
Sampai kita menyadari pikiran kita tidak sedalam yang kita kira.
Dan Sampai saat itu datang, tetap seperti itu, kawan.
nugs.obituari.lembarlima.121216