Posts

Showing posts from 2017

Obituari - "Temaram" - lembar delapan belas

Pikirannya kelam kabut Atas semua momen pasang surut Dihayatinya mengenai sebuah pengorbanan Yang lalu apakah hanya belaka sebagai lawakan? Atas kata yang terlontar Kemanakah dirinya? Dia yang ia relakan hilang Untuknya yang sekarang (mungkin) sudah hilang Ia yang menghidupkan kembali warna Dan yang mematikan warna Nyatanya warna hanya bualan Tak pernah ada warna Sekarang hanya sekarat dan menghitam Abu-abu yang ia tumpahkan Hanya menjadi pelampiasan akan amarah Emosinya mengalir dan membeku Menjadi batu atas larva merah merona Ia hanya inginkan damai Walau ia tak pernah tahu sebuah definisi Akhirnya ia akan dikoyak sepi kan? Yang ia inginkan sekarang hanya kapan terjawab dan berakhir Mungkin tak ada nugs.obituari.230817

Obituari - "Bahagia" - Lembar Tujuh Belas

Asap melambung dari goa jiwa-jiwa nelangsa. Sebuah euforia yang datang dari alam sadar Menggelitik bagian dalam diri hingga tertawa Hingga rindu yang datang mulai terbakar Aku suka saat tiap aksara yang terlontar tak menjadi baku Terasa seru bagi kita para pengelana waktu Meminggirkan kisah pilu yang menjadi benalu Seakan semua terasa cepat berlalu Hidup dan bahagia Hanya itulah yang aku rasa Jika hidup di dunia dapat selalu seperti ini Aku mau hidup seribu tahun lagi Hari-hari di kota istimewa Menikmati segalanya bersama senja Belajar tertawa dan bahagia Menghilangkan segala duka lara Terbuai dalam buih-buih kebahagiaan Menolak sirna dalam dekapan Usai sudah hari kita bergembira Singkat bagai fatamorgana di gurun sahara Kata terakhirku mungkin Terima kasih dan semoga ini bukan yang terakhir Mungkin tak semudah memandang cermin Tetapi tolong jangan berakhir nugs.obituari.lembartujuhbelas.230717

Obituari - "Damai" - Lembar Enam Belas

Duduklah disini bersamaku Menikmati langit yang bercampur rindu Membunuh sepi dari asap kesepianmu Sama seperti yang terucap di waktu itu Apa kau pernah membedakan? tentang para pemuja kedamaian dan yang bukan dari kata-kata yang lebih terbuka dan suara nyaman dalam telinga Apa kau pernah membedakan? Tentang sebuah hal yang mereka bilang berlebihan Dari mereka yang tak tau apa-apa dan hanya memaki aksara Aku menyukai perbincangan Dari segala macam pemikiran Dari berbagai macam kalangan Terutama orang-orang yang ku sebut kawan Yang aku rasa disini damai Ingin ku habiskan waktu hingga selesai Hingga tembakau yang kita hisap sudah usai Dan kita kembali diterpa badai Kau tahu sama seperi mereka Silakan temui aku dalam suatu perbincangan Niscaya akan selalu ku coba, membuat kopi yang kau pesan tak sepahit kehilangan Untuk tembakau terakhir kita Di saat terakhir kita di kota istimewa Menggabungkan semesta dan segala isinya Melupakan beban dan hingar untuk sementara...

Obituari - "Esensi" - Lembar Lima Belas

Mereka bilang pada akhir dunia kau akan mengerti, tentang semua hal-hal yang selalu menghampiri. Esensi, sebagai inti dari segala yang terjadi. Semakin lama aku semakin mengerti. Bukan tentang aku, tapi tentang kalian. Pernah mereka bertanya apa aku ingin hidup seribu tahu lagi, aku hanya menjawab tidak. Aku inginkan hidup yang singkat, aku ingin segera berakhir, mereka yang hidup disana sangat nyaman, sedangkan aku? aku kadang hanya merintih tanpa aman. Aku tak pernah mengerti sepenuhnya tentang aku, pikiranku kadang serumit salju yang turun di gunung merbabu, absurd. Bahkan tak pernah ada salju di gunung merbabu, lagi-lagi, rancu. Tetapi semakin lama aku di sini, aku semakin mengerti. Mengerti tentang kalian, dan aku mengerti tentang aku. Dan aku kadang mengerti betul tentang aku, yang aku inginkan hanya meretas surga dan hidup di sana selamanya. Untung saja, keinginan kejiku kadang dikabulkan Tuhan dan membuat aku sedikit bersyukur, tentang hari ini dan kemarin. P...

Obituari - "Penjuru" - Lembar Empat Belas

Di segala penjuru pasti memiliki ujung yang saru. Tak ada yang abadi, meski kau sangat ingin menggengam hingga akhir diri. Semua kan pergi suatu saat nanti, yang ada hanya diri sendiri, kecuali yang memang sejati karena ditempatkan di sini, di sisi. Tapi apa yang sejati akan berakhir pergi? iya atau tidaknya, aku selalu berharap tidak karena pada akhir waktu, aku tahu sesuatu yang pantas untuk digenggam, bahkan bila itu merenggang nyawa sekalipun. karena pada akhir waktu, disitulah semua aksara terlontar, untuk abadi atau untuk terakhir kali. pada akhir waktu, disitulah aku sendiri merenung. pada akhir waktu, berharaplah kita ada ditempat yang seharusnya kita berada. pada akhir waktu, berjuanglah saat kita tidak lagi di penjuru yang sama. pada akhir waktu, tetaplah di situ. pada akhir waktu, aku kan tetap seperti dahulu. dan pada akhir waktu, aku tetap akan disini, bila kembali. jangan pergi, bukankah kita abadi? atau hanya pikiranku saja? nugs.obituari.lembar...

Obituari - "Gama" - lembar tiga belas

Gama, mereka mengartikannya sebagai perjalanan yang tidak dapat dilalui secara acak. kau tahu? hidup ini tak seperti gama yang mereka katakan. hidup ini tak menentu, kita tak pernah tahu. dan kau tahu? kita selalu dapat memilih untuk melewati sebuah jalan dimana saja, kau pasti tahu, selalu ada pilihan disetiap jalan yang kita pilih. hanya saja kita tak pernah tahu konsekuensi yang ada. baik atau buruk, bukahkan itu kejutan saat hidup di dunia? dalam sebuah kotak para manusia berpesta di tengah malam. ada waktu dimana ramai mulai goyah dilanda bosan karena ramai tempat itu tak menjanjikan kenyamanan lagi. yang ku tunggupun sedang berbincang disana, ah tak butuh aku rupanya. lebih baik tak ku ganggu, tak enak hati disana merebut ramu. nanti ada saatnya untuk giliranku. keluarlah dari sebuah kotak ramai itu, mencari hening sementara waktu. dan sebagian dari mereka pun mulai gundah, dan mencari hening yang sama. berbincang kita diatas kabin gelap, melihat pemandangan lua...

Obituari - "Arah" - Lembar Duabelas

Atas ratusan lembaran polaroid yang ku biarkan melebur pada tepi jalan. Atas ribuan langkah yang tercetak abadi pada garis-garis khayal. Atas banyaknya tragedi yang termuat dalam lukisan aksara. Obituari sebagai coretan seorang pengelana waktu Tanpa atau dengan aksara duka, tetap menjadi kilasan makna yang tak terlupa. Akan fananya arah dalam hidup. Tetaplah menjadi tegap dari kesabaran Hingga suatu saat nanti, semuanya kembali  pada musi semi. nugs.obituari.lembarduabelas.010717

Obituari - "Analogi" - Lembar Sebelas

Ketika kali pertama matamu ku jadikan percaya bahwa kau memberiku tempat teduh dari lelah yang tak kunjung berkesudahan. Aku terus percaya tentang itu, tak ada keraguan yang pernah terselip didalamnya. Kau pikir kenapa aku mau terus bersamamu? karena aku percaya padamu dan aku ingin setiap langkah yang ku lewati terdapat dirimu didalamnya. Lantas kenapa aku tidak menyelam lebih dalam lagi? karena aku belum yakin. Kau pikir kenapa hanya sebagian orang saja yang berenang di laut lepas? karena mereka takut akan resikonya, sebab sejatinya hanya ada dua jawaban yang ada, yakni mereka berenang dengan tenang sambil menyelam dan menikmati indahnya terumbu karang dan segala macam-macam biota, atau tenggelam terseret arus dan dimangsa para hiu ganas dan berakhir naas. Kau tahu mereka yang cermat akan dua hal itu takkan mau menggambil resiko itu sampai mereka siap, jadilah mereka menghabiskan waktu di tepi pantai, menikmati deburan ombak yang jua tak kalah menyenangkan, dan mengagumi inda...

Obituari - "Menunggumu" - Lembar Sepuluh

Ada detik yang menembakan peluru logam hingga waktuku berlubang pada tengahnya Hingga jiwaku tak lagi tahu harus bersikap apa pada detik-detik yang jatuh Adakah sebuah kegaduhan yang tercipta berantai-rantai sebab kelalaianku dalam dimensi waktu? Jika memang ada, Kita harus bertemu, dan biarkan kuperbaiki kesalahan itu Wahai warna yang tercampur akan ragu, Aku akan menunggumu sampai kita bertemu nugs.obituari.lembarsepuluh.210617.

Obituari - "Pulih" - Lembar Sembilan

Di tengah keramaian aku terus merasa sepi, terasa asing walau banyak dikenal berbagai manusia. Terasa gulana walau hiburan didepan mata. Sial, apa tidak ada yang baik bagiku saat ini? Sesak pikiranku, memikirkan nasib yang kian merandu. Nasibku yang terasa terombang-ambing oleh orang lain. Mereka ingin itu. Tapi apa yang ku mau adalah hal yang bertentangan dengan mereka. Bimbang Mungkin ini sudah takdir Aku hanya berharap bahwa ini yang terbaik dan mereka bisa menerima itu. Ah, sudahlah aku sudah cukup gundah dibuatnya. Aku ingin segera pulih kembali!   nugs.obituari.lembarsembilan.200617

Obituari - "Mudita" - Lembar Delapan

Kau tahu? Malam itu aku begitu membatu dalam heningnya malam, semua yang aku takuti sekarang akhirnya terjadi. Mulai dari harapan tinggi diri sendiri yang belum bisa aku wujudkan dan harapan tinggi orang tua yang aku kecewakan. Sekarang apa? aku hanya berdiam menulis prosa ini, meratapi apa yang ada sekarang. Kau tahu? malam itu sungguh berat. Aku rasa usahaku rasanya sia-sia sekarang dan aku sudah kehilangan waktu. Sekarang apa? semua lampu sudah mati dan aku mati rasa. Kau tahu? Aku berawai karena semesta tidak memberiku kesempatan walau aku sudah sekarat. Kau tahu? Aku bingung Kau tahu? Aku tersenyum dan air mataku terjatuh sekali. Apa aku ini? senangkah atau sedihkah? Kau tahu? Aku bingung Kau tahu? Semua orang sedang berpesta sekarang, kecuali aku, aku hanya diam disini sambil meratap dan menulis prosa entah apa, karena yang ku tahu, menulislah yang membuat diriku lebih baik. Untuk sejenak menulis membuat aku sangat kecewa tetapi selanjutnya dapat ku lupakan. Kau tah...

Obituari - "Ibu" - Lembar Tujuh

Ibu, hal terindah yang pernah diberi oleh sang waktu seorang malaikat yang selalu memberi cinta dan restu seorang pelindung terpaan sang bayu Maaf ibu, nadi ciut ini tak pernah berani mengungkapnya secara langsung jadi tertulislah olehnya kata puitis oleh tinta hitam di Hari Ibu yang tak pernah tersampaikan dan memudar seiring waktu Maaf ibu, untuk kali ini belum berhasil diri memetik jambu walau sudah usaha diri menggebu dan engkau malah memberiku tebu Engkau pasti kecewa Tapi aku sudah berusaha Mungkin suatu saat nanti diksi kan berbeda Menjadi lebih indah penuh aksara Aku tahu karna ku sedang kecewa Sederhana, Ku kecewa kau pasti lebih kecewa Tapi beginilah adanya Tapi engkau sendiri berkata Hal yang kudapati hari ini bukanlah apa-apa Sejenak kau menyuruhku untuk santai saja bagaimana bisa? Wahai ibu, Suatu hari nanti pasti Langitkan berbeda dari hari ini Aku janji Terima kasih ibu, untuk yang kesekian kali. nugs.obituari.esok.lembartujuh.110617...

Obituari - "Belum Selesai" - Lembar Enam

Sepertiga malam terakhir ini. Aku masih menatap harap yang tiba-tiba muncul dalam kepala. Selalu berkata pada hati kecil bahwa tak semua harap menjelma nyata. Hanya saja, semua tahu logika tak pernah menemukan cara untuk mengalahkan angan. Hanya saja, apakah yang kita lakukan selama ini sia-sia? Mereka selalu berkata bahwa usaha tak akan mengkhianati hasil kalau sudah begini bagaimana? Ah sudahlah Sudah tertutuplah celah   Lebih baik aku mencari tempat berkeluh Tempat untukku mengaduh Tempat menghapus semua peluh Aku hanya ingin kembali utuh Untunglah sekarang waktu menuju subuh Tak bisa terus menerus kecewa Untuk apa? aku belum selesai. nugs.obituari.lembarenam.180617

Obituari - "Serendipiti" - Lembar Lima

Secangkir kopi menemaniku disaat gundah merasuk kedalam kalbu di antara hingar bingar kendaraan kota kembang. Dengan sejumlah puisi yang terbuang sia-sia di jalanan, menjadikan saksi atas catatan pinggir jalan yang melebur jatuh bersama aspal. Aku selalu senang akan jutaan aksara yang terlontar dalam perbincangan pinggir jalan bersama manusia-manusia yang mengerti akan setiap aspek jagat raya dengan kopi atau sebungkus tembakau karena memang, tak semua manusia dapat mengerti. Mungkin ulasan itu hanya membuat aku tampak kotor. Biarlah, aku memang bajingan. Paling tidak aku tidak berakhir menjadi bajingan yang mati dengan tanda tanya di kepala. Sebab, seringkali aku menemukan hal-hal yang membuatku berkaca atas obrolan singkat dengan manusia yang aku sebut kawan. Biarlah, akan ada waktunya kita semua berakhir. Berakhir untuk berbicara seperti itu dan mulai menyusuri sesuatu yang nyata, sesuatu yang membunuh kita perlahan, lebih dari aksara. Sampai kita menyadari bahwa kita hanyal...

Obituari - "Di belakangmu" - Lembar Empat

Aku selalu berdetak di detik yang tidak dapat berkutik. Untuk kesekian kalinya, aku tenang dan aku tertawa, di belakangmu. Kadang-kadang aku juga bosan dengan dunia, sehingga aku mencari sebuah pelarian, lagi. Ternyata bisa aku temukan disini, mungkin aku harus berterima kasih? Atas senyum seindah senja yang jauh dari mata, yang tak pernah berubah. Ah rasanya menyenangkan untuk menggapai yang tak terjankau dalam hal lain. Aku harap kau jangan mundur, maju pun rasanya tak perlu, hanya cukup selalu disitu, hingga aku merasa bahwa surga tak pernah jauh. nugs.obituari.lembarempat.dibelakangmu.081016

Obituari - "Renjana" - Lembar Tiga

Hariku tiada yang berubah. Masih terus terbayang-bayang akan suara nestapa masa depan. Berkutat dengan suara lantang acap kali pulang ke rumah bukanlah suatu hal yang mudah. Aku inginkan perubahan, aku inginkan hidup yang lain, hidup seperti ini tidak enak, terlalu ramai dan terlalu tegang. Aku butuh tenang, aku butuh damai, adakah seseorang yang bisa mematikan volume kehidupan ini? Tak ada lagi senyum yang ku lihat sekilas. Semua ini rancu dan aku mulai berpikir siapa yang patut disalahkan. Semua ini rumit, sehingga aku mulai hilang di antara andai dan jika. Aku keluar dan mencoba tertawa kepada lamunanku yang selalu berlari dengan nostalgia. Dimana aku sebagai seorang bocah bersama teman-temannya, melakoni hari seperti anak-anak pada umumnya. Tenang dan damai, bersenda bersama teman sebaya. Menolak mengingat berapa piring pecah yang pernah terjadi di dalam dapur berlantai abu. Pagiku tiada berubah, tetap menjalani rutinitas, bergelut dengan angka dan kata. Malamku tiada berubah...

Obituari - "Senandika" - Lembar Dua

Tak ada yang lebih egois dari berdialog dengan diri sendiri. Pura-pura tuli akan suara-suara semesta di sekitarnya, pula membuta saat kerumunan didekap ramai. Tetapi rasanya memang sudah seperti itulah adanya. Memenuhi lubang kognisi dengan dengan aksara imaji, berekonstruksi , memahami apa yang tidak dan harus dilakukan sendiri. Kepalaku beku saat tak bisa meraih inti, walau hangat mentari tetap menyinari. Bak mencari persamaan arti antara teh manis dan kopi pahit. Apakah mereka itu satu hal yang sama? Semua ini rasanya hanya masalah analogi dan perspektif, bukankah begitu puan? Lihatlah seruput nyaman lewat lembut bibirnya, terasa kuat manis yang puan rasakan saat meminum teh manis itu. Berbeda dengan tuan, pahit kopinya terasa hebat, tetapi ia tidak mengeluh tentangnya. Kenapa? Teh manis dan kopi pahit, apakah mereka itu sama? Apabila jawabannya adalah iya, apakah bisa aku samakan hal itu dengan kehidupan ini?  karena yang ku tahu, semua manusia itu selalu menjalani ha...

Obituari - "Aku" - Lembar Satu

Aku adalah rintikan malas yang menghujam langit, yang menjadikan pelangi abu sebagai seluncuran mimpi, yang menunggu datangnya garam-garam pencair uap dan jatuh melayang-layang di atas ribuan awan hingga aku terhempas oleh kupu-kupu biru, terjerat pada kail petani angan dan diam. Diam, karena menulis hanya menghabiskan tenaga juga degupan jantung yang terbuang sia-sia. Diam, karena waktu hanya merengek pada ksatria bukan pada pecundang sastra.   Aku adalah sang titik yang berada diantara ribuan kata. Kata yang  tidak akan pernah menjadi kisah hidup di dunia. Aku juga adalah sang rembulan yang berada diantara jutaan bintang. Walau mentari kalahkan sinarku, aku tetap tersenyum sepanjang malam. Aku adalah aku, hidupku yang penuh hal semu, walau nampak begitu nyata. Aku adalah lungkrah, yang bersembunyi di balik tawa. Sebuah peninggalan noda peperangan masa lampau, yang membuat melankolis kehidupan selalu muncul setiap saat. Dalam bias-bias yang samar, aku hanyala...

kopi

15 Juni lalu orang bijak pada malam itu berkata bahwa hidup bukanlah selalu tentang keinginan yang terpenuhi karena bagaimana bisa seseorang tahu rasanya bahagia kalau tak pernah merasakan pedih? kenapa orang hanya mengeluh ketika merasa pedih dan bukan ketika bahagia? ingat! pedih itu sekali, tapi sekalinya pedih, rasanya pedih sekali, padahal pedihnya sekali.  Ya mau gimana lagi? "udah ngopi aja, meh pait sakalian, manehna pedihkan boy? abdi oge sarua."

esok

"Love on the low, love everywhere I go And I can't face that all I need is right where I belong" sebelum terbunuh ragu untuk sejenak, rasanya surga tak pernah jauh terasa damai di antara gemuruh jua terasa nyaman dalam riuh atas ribuan langkah yang terhentak jua atas jutaan kata yang terlontar dijadikannya sebuah bayang abadi yang mengakar karena tak ada yang bisa lupa bagaimana manisnya nektar sayang, di dunia ini tak ada yang abadi bahkan hal terkuat yang kita sebut afeksi karena cepat atau lambat semua bingar akan menjadi sunyi dan disini kan tertulis pundi-pundi diksi dari berbagai asumsi kau tahu, aku selalu sering membatu dalam heningnya malam betapa sulitnya tertidur agar terbangun untuk bermimpi indah dikoyak-koyak sepi dibawah cahaya bohlam hingga sepertiga malam terakhir mata merendah jika esok tak datang lagi maka disini kan tertulis semua yang dunia takuti takut akan mutu takut akan waktu takut akan sendu dan rupanya aku sendiri yan...

Di ambang neraka

"I've dug two graves for us, my dear Can't pretend that I was perfect, leaving you in fear Oh man, what a world, the things I hear If I could act on my revenge, then oh, would I? Some kill, some steal, some break your heart And you thought that I would let it go, and let you walk Well, broken hearts break bones, so break up fast And I don't wanna let it go So in my grave I'll rot" ------- Menyayat nadi Pada malam tanpa sanubari Kepada hal yang berjarak hanya dua inci Dalam menafikan hasrat diri Tetaplah dia tuli Dan semakin menjadi-jadi Memaksa diri sendiri Melihat mimpi-mimpi yang tak kunjung di gapai Dilumat olehnya perkakas imaji Hingga pupus sudah nanti  Memaksa kehendak yang bertolak Dan dia tak bisa bergejolak Lalu siapa yang salah? Bukankah semua hakikat jalan adalah sah? Dan nanti aku mati Membusuk dalam relung mimpi Dan kalian tetap berdiri Menikmati segelas bir (jahseh onfroy, garrete's revenge)

dua puluh satu manusia

Atas nama sebuah tempat di pusat kota Dimana kita menapaki jejak pertama Hamparan pohon terbentang yang memanjakan mata Ditemani dengur hingar bingar kendaraan sapuan angin terus mengibaskan aksaranya Dalam degakap bait sajak dan baris prosa Menggapai hari di sebuah tempat yang sama Seonggok bunga tumbuh menumbuhkan mahkota Tentang waktu yang tak bisa terulangi Tentang luka yang selalu siap mengajari Tentang kehilangan yang selalu saja melukai Tentang tawa dan kehadiran yang selalu mengisi Tentang kesempatan yang datang silih berganti Tentang kegagalan dan pencapaian yang berarti Tentang kenangan yang akan selalu mengabadi dan tentang sebuah tanda tanya baru di esok hari apakah langit yang memilih senja agar memiliki arti ataukah senja hanya memasuki hari dengan apati? waktu bayang senja yang hampir sempurna membias di langit perhalan memerah laksana gelap dengan sengit hanya menandakan suatu langkah pasti yang cepat lambat akan berubah panti sudah dua tahun r...

Di belakangmu

"I hate to think that I been wasting anybody's time But I don't know no other way. It's hard to say what's right I never meant to cause you any kind of pain I wish I coulda made it work some other way" Melanglang jauh di dasar samudra jatuh dan tersungkur di langit ke tujuh apa arti dari histori? tanpa dia tau apa yang sebenarnya terjadi? maaf, terlalu takut karena terlalu tersesat membuat marah angin pasat karena tahu pikiran ini kelamkabut hal-hal yang terjadi akhir-akhir itu terlalu membuat kalut takut melihat sesuatu yang berharga dalam keadaan keruh takut merusak indah senyumnya yang sedang bergemuruh takut melihatnya dengan diri yang sedang menggeruh banyak yang harus dirinya tahu hari itu seharusnya menjadi akhir dari semua deru yang bisa berakhir dengan rindu atau yang bisa berakhir dengan sendu tapi dia sedang bersenda bersama teman-temannya teman-teman yang ia sayang tanpa tanya tak akan sudi diri merusak momennya yang berharga ...

numb

"Everything is backwards ever since the new beginning God has given me the vision so that I can see my fate Blind can't lead the blind and if we try then we'll be spinning In a cycle in position trying to find a better place" Tengah malam sebentar lagi malam tiba Dikelilingi gelap, ditemani nada Perihnya memaksa menutup mata Perlahan menggerogoti raga Suara samar memaksa tetap terjaga Perlahan hilang dikerumbuni gelap Jiwa memudar memaksa terlelap Mata terbuka lebar menatap Memutar kembali apa yang terlewat Dalam ribuan langkah penuh penat Mengenang indahnya berbagai warna Hingga mata terbuka seketika Sadar hanya sepercik indah dari realita Menatap hitam penuh tanya "Kau terlalu banyak berpikir, berhenti" Tapi bagaimana jika esok tak datang lagi? Bagaimana jika esok mentari enggan menunjukan sinarnya lagi? Bagaimana jika esok siang akan sedingin malam ini? Bagaimana jika esok tak ada lagi bintang dalam malam-malam yang semakin...

sod

"Life is like a race and we all tryna finish it Shit never fair, strays hitting the innocent The good die young where I'm from and it's sad to say That somebody gotta die today Tomorrow's never promised, but we living for the moment." Mengalir dalam kegaduhan Memaksa menghilangkan angan Melihat jauh penuh segan Lalu melihat kebelakang dengan senyuman Mengingat betapa emasnya Takut dituakan masa Bak air tanpa alir Tak tahu jalan ke muara akhir Aku ingin hidup seperti kupu-kupu Terbang bebas ke langit biru Jauh dari hal-hal saru Atau mungkin aku tidak tahu "As I reflect, I start realizing I wanna Make a way one day for me and my momma, family and friends This ain't the way my life bout to end So I'm quick to grab on my pen and Give them something my people sure to feel Give them something that I know is all the way real" (black hippy, shadow of death)

konon

"Lighting stog after stog, choke on the smoke They tell me to quit, don't listen to what I'm told Help me forget that this world is so cold I don't even know what I'm chasing no more" ----- "Konon" hening tercipta di setiap sisi duduk bersimpuh mengingat diri sunyi dan sepi meninggalkan sepi yang tak terbaca dan pergi manusia kala itu, datang di pagi hari dan meramu menangis dalam duduk sampai akhir yang sendu dan manusia kala itu, pergi untuk bertemu berjabat lisan menyambut tertidur dalam pekatnya kabut manusia kala itu juga percaya, konon anak domba mencari induknya karena rumput sudah tak tumbuh lagi disekitarnya hingga ia beralih memberitahu bahwa sudah saatnya pindah dan mencari bersama mentarinya selagi bisa, sebelum senja tiba ------ "Knowing all of this Just don't make a difference I'm just talking shit to the ones that will listen I come with the heat man, I swear I'm never m...

4/20 aku liar

Lembar jawaban dalam buku tak berguna Kadang terdapat salah cetak diantaranya Fucklah! Buku macam apa ini Ku tak mengerti Untuk apa ku beli Harus juga ku buka dunia maya Mencari lewat sebuah saluran pipa Agar aku tak sebodoh keledai Dan berjalan ke arah badai Aku, Rasanya aku ingin berkata kasar Kata kasar yang belum pernah aku ucap Tak kuasa menahan mulut bernanah Tapi itu dilarang mamah Kartiniku bilang itu perkataan setan Dan aku bukan setan Fuck buku terbitan the king eduka Pembahasan tak berguna Tak mengerti satu kata pun Hingga aku harus jatuh bangun Sebenarnya dua ratus ribu cukup tuk beli alkohol Tapi sayang aku tak minum Yasudah, tak apalah! Paling tidak dapat soal baru Bisa ku cari jawaban di langit biru Bukankah mereka bilang banyak jalan menuju roma? Sampai aku berakhir dalam suarga Fucklah! Lima belas soal ku butuh satu jam Andai saja pembahasannya lebih mudah Tak akan aku membuang waktu selama itu Aku gundah Fucklah! Internet ku mati nyal...

Empty Bottles

"Empty bottles on the table Black roses on the ground Silhouettes of people dancing To an unfamiliar sound Hello stranger, can I call you a friend? My friend, I'm going down With empty bottles on the table Black roses on the ground." ------ "filosofi" Bayangan samar ditemaram malam Mata tajam menatap angkasa legam Melihat jutaan angka kelam Bertanya kapan semuanya kan sirna dan tenggelam Mabuk tak bisa memuaskan semuanya Berharap hilang ingatan dan kembali semula Begadang dan mengadang cemas Menggenggam anarki yang menjadi filosofi Tak bisa hidup terus menerka Jerinx pernah berkata Semakin mengerti dunia, Semakin kau ingin membakarnya. Tetapi Jackson Teller juga pernah berkata Itulah bagaimana kau belajar menjadi seorang lelaki, Melawan hal yang paling menyakitkan di dunia Semuanya mengerti Rendah untuk tinggi Dan tinggi untuk kembali Mengingat tak ada yang abadi Bising, Gaduh, Riuh, Tak menentu Gelap menebar De...

-200

Kepakan sayap albatros perlahan goyah Mengikis tebalnya angkasa megah Terbang tinggi berharap akhir Hingga malam dan terus mengukir Ia terbang tak tentu arah Merelakan apa yang ada dibawah Menggapai apa yang ia inginkan karena hidup hanya persoalan menggapai tujuan Hujan, deras menerpa sang albatros hingga tak bisa ia lolos jatuh, ditemaninya eros hingga jatuh tulang keropos "tak apa, nikmati saja, ini semua sementara" eros berbisik lembut kepada sang albatros "panas" balasnya sambil menahan api dibawahnya Nyala api tak lebih dari gejala jelaga Merasa panas kurang lebihnya Sekarang hangus sudah isi kepala Sang albatros hilang dimakan bara Ia membuka mata berjalan ke arah merah ia menginjak neraka dan dicambuknya seketika "hina! aku ingin bersama pecipta, selamanya" ia berlari keluar dari merah masuknya ia ke arah hijau damai, terang, terbang. hilang. "belum saatnya hijau, kau berhutang dua ratus, waktu mu...

1740

Sudah cukup menikmati Tapi belum cukup kan? Kau tak sadar, Atau pura-pura tak sadar dunia membantunya Untuk kalah. Sial, Lihat indah pelangi setelahnya Dua belas tiga puluh tiga Teruskan di hari esok yang kan tiba Atau tiada Dan kita sia-sia Terakhir, Sudah larut malam Tetap bergelut dengannya Karena dari sana muncul Sebuah hal tak terduga Atau tiada Semuanya hilang Dan enam ratus jam kita sia-sia.

Akhir adalah awal

Akhir adalah awal? Tertera apik layaknya cerita klasik Dalam goresan api sang pemantik Membakar kantuk dua pelupuk mata Membekuk lelah hingga tak berasa Menikmati dalam badan yang goyah Memaksa jeda menghilangkah lemah Menyerap ilmu dalam jutaan bayang Hingga insomnia datang meradang Menggapai jutaan makna dan arti Akan banyak hal datang dan pergi silih berganti Akan banyak warna bercampur dalam hitam dan putih Hingga membuat kau hidup dalam kontradiksi Hingga kau terjebak dalam dimensi dan mimpi Hingga akhirnya kau berserah dan memahi intuisi Liku dalam mencapai akhir Senantiasa ada hujan dan hantaman petir Liku dalam mencapai akhir Hingga kau duduk di puncak dan mereguk  segarnya air Sampai saatnya kau terbang tinggi Janganlah lupa untuk mendarat kembali Dunia layaknya bola pejal Dalam akhir hanya akan ada sebuah awal Hingga saat nanti kau menemukan makna dan arti Hingga saat nanti kau hidup dalam dekapan warna pelangi Janganlah berhenti untuk mencari In...

23.56

Kepada deretan hitam yang masih tersidang Takkan dapat keluar asa yang ada Bak dinginnya es di kutub utara Sangat sulit tuk berjalan melangkah Jatuh, selalu saja tersandung bongkahan Bermuram di sini pantas Tapi bersenda mustahil dilalukan Tanpa cahaya yang terang benderang Rindu akan sinar yang sering dimainkan Sekarang redup rasanya Berjalan melewati bayang Akan kenang semua masa Wahai sinar yang berlalu Semua, yang hanya lewat Kesini, mampir dan melihat Lalu pergi tanpa jejak Wahai sajak yang sementara

pesan untuk Izrail

-lembar satu- "sudah belajar buat UN saja dulu." saut Izrail dalam mimpinya Empat hari kemudian. "Hei bangun, sudah selesaikan urusanmu? Sekarang saatnya, sudah tiba" saut Izrail "Belum, bisa tunggu beberapa waktu lagi?" Balas si bocah pikun "Kenapa? Bukannya ini yang kau mau dari awal?" "Tidak, karena aku sudah menemukan sesuatu" "Apa maksudmu?" "Ah sudah, intinya sebelum aku mati dan berakhir, aku ingin hidup dengan yang terakhir!" "Apa itu yang paling kau inginkan?" Izrail pergi dan keluar dari kamar mimpi tanpa sepatah kata lagi.

gold soul theory

"A rebel, who went searching for treasures in his soul. Fishing for gold, I found the key to unlock the door to my mind's gate, hidden with some hieroglyphs. Told me about my future and my past and that I should get, I should get." ------- "teori" Hari itu aku bertanya dalam kalbu Dan aku pun hari itu tak tahu Yang ku tahu saat itu hanya hujan ketika manusia berlindung dari jalanan Menepi menghalau dingingnya kristal air Bak seorang hamba berharap suatu takdir Mengubah hidup nan sepi Menjadi gemuruh ripah berapi "ayo berhenti saja, mereka itu bersenda, apa yang kamu lakui tak akan jadi histori" saut setan sang kawan abadi Hingga nanti seluruh kota terbakar mati Kemudian terdengarlah kata sang bayu "ah apalah, setan itu berbohong, semu, yang kau lakui bagus, kan jadi histori bagi yang memahami" aku terbaring dalam bayang tinggi aku masih tak mengerti aku masih tak paham jika ada kata yang mampu menjelaskan itu semua hanya...

Akhir adalah awal

Akhir adalah awal? Tertera apik layaknya cerita klasik Dalam goresan api sang pemantik Membakar kantuk dua pelupuk mata Membekuk lelah hingga tak berasa Menikmati dalam badan yang goyah Memaksa jeda menghilangkah lemah Menyerap ilmu dalam jutaan bayang Hingga insomnia datang meradang Menggapai jutaan makna dan arti Akan banyak hal datang dan pergi silih berganti Akan banyak warna bercampur dalam hitam dan putih Hingga membuat kau hidup dalam kontradiksi Hingga kau terjebak dalam dimensi dan mimpi Hingga akhirnya kau berserah dan memahi intuisi Liku dalam mencapai akhir Senantiasa ada hujan dan hantaman petir Liku dalam mencapai akhir Hingga kau duduk di puncak dan mereguk  segarnya air Sampai saatnya kau terbang tinggi Janganlah lupa untuk mendarat kembali Dunia layaknya bola pejal Dalam akhir hanya akan ada sebuah awal Hingga saat nanti kau menemukan makna dan arti Hingga saat nanti kau hidup dalam dekapan warna pelangi Janganlah berhenti untuk mencari In...

Lamunan di ujung teluk

"lamunan di ujung teluk" 05.33 WIB - sebuah prolog singkat dalam lorong sepi bangunan itu, berjalanlah ia seorang diri ke tempatnya menenun waktu. Sudah tiga tahun lebih kiranya ia disini, pergi pagi mengharapkan sendu untuk menjadi sesuatu yang abadi, hingga nanti mencapai titik tertinggi. merangkai kata dalam degapan saru pena dalam buku tulis bersampul kuning. Sampai ia teringat bahwa waktunya tinggal beberapa minggu lagi, waktu yang kan terasa singkat untuk mencapai ujung garis, semuanya akan segera berakhir. Usai sudah lelah, untuk sesaat, hingga nanti ia bersulang di bawah awan biru sumringah. sebelumnya dalam sekoci kecil ia terombang ambing, merasa bingung karena disini semakin lama hanya tersisa masamnya buah belimbing. Mau tidak mau, menjadi alasannya hidup karena tak ada jalan keluar dalam dekapan laut. Memang bukan rahasia umum bahwasannya semua insan tahu, tidak ada yang mudah dalam mengarungi ombak yang terus menggebu. walau begitu teruslah ia hidup karen...

warna hari ini

2014, pertama kalinya aku tahu Perihal cara mengubah hitam menjadi biru Atau merah mejadi hijau Dengan sebuah cara yang tabu Lampu redup, satu bola pingpong, layar merah Serta suara statik memanah Kau mungkin sudah bisa menebak Hal gila untuk menerbak Tiga puluh menit Bersabar, diam dengan nikmat Berharap semua sirna dengan cepat Hingga akhirnya aku berada di mobil berkarat Aku hilang Di tengah kelinci bercorak belang Dan seorang gadis cantik tajam memandang Mengajak berdansa dalam tenang Semua rumit dan sederhana Aku tenggelam di lautan kata Dengan cepat berubah menjadi cokelat Dan kupu-kupu berubah menjadi lalat Semuanya bergoyang Menyuruhku untuk berpesta Hingga aku tak ingat ada dimana Semuanya sepeti realita saja Aku meminum vodka Dengan rasa coca-cola Aku melihat pemandangan Dengan awan berwarna merah muda Hingga aku bertemu dua wanita Dan aku terjun ke dalam gua Semuanya berwarna warni Hingga aku melayang tanpa gravitasi Lama aku disana Hingga ak...

let it go

"This that Fergenstein and I be down to let it go The semi or the tech, spray it at him then reload This that Fergenstein and I be down to let it go The semi or the tech, spray it at him then reload" Aku dengar setiap hari kata-kata semu itu, Kepadanya tentu Sebagian lewat perantara temanmu Karena kau merasa malu Nanti saja katanya Salah satu hal klise untuk menyembunyikan lara Dia saja sudah cukupku rasa Beban bertambah hingga dia hilang tiada Aku, mau itu Aku mau Aku yang dari awal sudah ada dijalan itu Dan kau baru datang ingin mengambil biru Aku.. Aku mau... Ah sudahlah... Aku bisa apa? Hal itu bahkan tak ada Aku yang hidup dalan ilusi ku Mengingkan hal semu Untuk dijadikan kenyataan Perlahan "The limb's never been so relaxed, ever It's lonely at the top; all this shrimp, nobody to share it with We ain't tripping though You all walking around with wrinkled silks, looking crazy Pay your dry-cleaning bill and a...

aku mati

aku mati. dalam jiwa dingin tak bernadi. rintik tajam hujan pisau belati. hitam legam gelap hati. aku mati. merah mata hingar kini, semakin sayu dan perih. pukul dua belas malam ini. aku mati. tak ada lagi puisi. yang ku cabik dalam inti. suara tangis wanita merintih. aku mati. tak ada histori. semua orang pahami. pemimpi tak pantas berlari. aku mati. sampai disini. tunggu, mungkin belum. aku mati. tunggu aku dilain hari. pasti. aku mati. siapa yang peduli? hilang suara lewat telinga kiri. sirna dengan nestapa ditelan bumi.

belum

Aku yang membebaskan jutaan kata dalam puisi tak bermakna yang harus terpaksa kembali bertebaran di ambang laut. Dengan hujan paku yang datang dari langit biru. Rintik air atau paku, semua tak tahu. Tapi yang aku tahu dengab hal yang terjadi sebelumnya bahwa ada langkah yang tak lagi biasa ku dekati saat menjauh, ada ribuan kata tak bermakna yang ku biarkan lusuh. Tapi sampai hari itu datang, aku belum selesai, karena semua sudah terlalu jauh. Bak jalan buntu di terowongan haru, sudah terlalu jauh untuk kembali ke belakang tapi aku bisa lewati tebing didepan yang menghadang, entah bagaimana caranya.

sembilan puluh menit

Aku tenggelam, dalam relung curam tak berdasar. Mataku merah dan berkantung lebar, terjaga hingga sepertiga malam datang. Tanganku perih, dipakai berkali-kali, menulis angka tak pasti. Tulangku retak, bersandar pada dinding besi berkarat. Sudah dua hari aku terjaga hingga pagi. Aku tak tidur, sungguh. Ketika aku memejamkan mata, aku seperti melihat angkasa dari kelopak mata yang tertutup rapat. Aku terlalu "paranoid", aku terlalu memaksakan, padahal semua tahu bahwa ini tak akan pernah mudah, tak pernah sedikit pun. Sembilan puluh menit, semua yang ditunggunya sirna. Melihat sulitnya sebuah perkara. Dusta, percuma, insomnia, tak berguna. Aku selesai, aku pulang dan menghilang dibawah awan gelap gulita. Lalu, untuk sekian kalinya hujan mengguyur semua. Aku hanya diam saja, menikmati suara dunia lewat media perantara biasa. Kala itu deras, membuat sunyi semakin mengeras. Dalam guyuran hujan deras, semakin nyaring sunyi merampas. Sepertinya dunia mendengar perihal k...

terjaga sampai malam

Tadi pagi aku kehilangan sebuah hal Sebuah hal penting yang tak masuk diakal Atau mungkin juga tidak penting Analogi kubangan air dalam tanah kering Dalam perang tiga jalan abadi Menyiksa sepuluh jari para jiwa yang mati Tapi perang ini tak akan selesai Sampai tuhan gusar melerai Semua ini karena dua lima Jariku lemas memperebutkan permata Walau cuman dota Tapi bisa membuat aku terjaga Inilah kegiatan para jiwa yang hampa Saat tak ada kerjaan memperebutkan angka Bukan angka pada nilai ujian Tapi angka pada permainan Memang harusnya aku berhenti Bermain dan memantapkan diri Tapi rasa tak tereduksi Ingin aku main bersama na'vi Ah sudah, sudah, sudah Lidahku kering tak berludah Mataku mulai pekat memerah Kantukku sudah mulai melangkah Aku mulai hilang merendah Aku KETIDURAN Akukan lagi main dota Ah persetan!!! hilang sudah dua lima Ku benci kau fana Anjing tanah menggonggong sukma Harusnya ku berhenti Rasa lelah tadi siang tak bisa dipungk...

free bird

"If I leave here tomorrow Would you still remember me? For I must be traveling on, now Cause there's too many places I've got to see But, if I stayed here with you, girl Things just couldn't be the same Cause I'm as free as a bird now And this bird you can not change" -------- "nestapa" Deru mega dari mesin motor tua Membawa badan tanpa jiwa Pergi jauh ke luar jagat raya Berharap menemukan sesuatu yang berharga Jiwa angkara muda petualang  Mengokohkan jiwa yang berlalulalang Menjauh dari dua gelas bahagia yang saling bersulang Bersama pekat yang amat panjang Walau, apa yang ku liat semua semakin tabu Tiap kata terlontar berwarna abu Semakin sendu, Ambigu sebagai petualang waktu Tahu bahwa semua tak akan cepat berlalu Bak kisah-kisah lama nan pilu Batinku ringkih dipaksa bergembira Meminum sedikit air jernih digunung sahara Atau mungkin hanya fatamorgana Terbuai dalam buih-buih nestapa Lama-lama akukan hancurkan se...

dingin, hangat, fajar, purnama.

dingin beku enggan menerima hangat dari tebalnya jaket hijau tua kemelam. Dingin memasuki rongga jaket kumal kelabu. Pejamkan mata saja, katanya. Kalau kau terlelap nanti semua rasa kan sirna. Tapi dingin kian menusuk ditambah dengan kosongnya ruang gelap mencekam. Kerumunan datang membawa kabar. Baginda yang ditunggu tak kunjung datang. Hari ini semakin dingin, setiap detik menjelang sebongkah cahaya datang mendesak. Terlihat cahaya semakin kuat diluar sana. Dingin pun kalah, hangat kiat panas. Membakar wajar sang pujangga merana. Mehilangkan dingin ambang sirna. Menghilangkan kantup mata mengelak. Mendaki batu tinggi diantara semesta dan jagat raya. Dari atas sini, dari atas sini elok. Aku bisa melihat malaikat dan setan berlalu lalang, indah gemulai bidadari menari yang membuat lamunan dalam indah yang bergejolak ditemani hangatnya fajar. Ah, lagi-lagi terjadi. Mungkin sebelum seribu kata terucap nanti, sebelum suatu hari saat aku menziarahi tanah khayal dengan menyanding wan...

mengajar, diajar.

Tertera apik layaknya cerita klasik Dalam goresan api pemantik Membakar kantuk dipelupuk mata Rasa lelah menjalar keseluruh tubuh Ingin istirahat sejenak agar kembali utuh 22.24 malam kembali dari kota Mencari sebongkah ilmu untuk dicerna Badan sudah goyah Tapi masih banyak hal yang harus dikunyah Sebenarnya aku ngantuk Tapi gabut jadi akut Hilang semangat dikoyak laut Menerjang ombak deras wajah meraut "Sudahlah tidur saja." Kata setan hitam melara "Iya, kamu benar, aku juga sudah lelah, ditambah lagi menulis sampah ini membuat waktuku terbuang, kamu memang hebat, setan." Kata ku sambil merana Menyadari bahwa beberapa menit dihabiskan sia-sia Padahal ingin belajar menggapai cita-cita Percuma banyak jalan menuju roma Tapi tujuan hidup tak ada Banyak pilihan di dunia Tapi aku pilih tidur saja Sudahlah.

sebuah lagu, jam 20.02, malam ini

"Karma police, arrest this man He talks in maths He buzzes like a fridge He's like a detuned radio Karma police, arrest this girl Her Hitler hairdo is Making me feel ill And we have crashed her party This is what you get This is what you get This is what you get when you mess with us" Angkara manusia dalam derajat hampa Sendu diantara api dan murka Dua tiga empat singa bertebaran Pujangga hampa menghampiri kerumunan Dari malaikat tak bersayap hingga setan kecil merangkak Satu dan beberapa tikus kecil lari meninggalkan mereka Di belakang mereka berlari kencang Meninggalkan yang lain dalam amukan si raja hutan Orang itu lari ketakutan dan tak mempedulikan yang lain Tikus-tikus kecil mengikuti dibelakangnya Memuji langkah hebatnya yang dilakukannya Mengunjing kerumunan orang yang diam ditempat bersama "Tenang semua, diam, jangan ada yang lari, siapkan batu atau dahan" saut lantang sang pujangga yang datang kekerumunan itu "Bodo...

pagi, malam.

Air yang mendidih dikelamnya langit pagi Menyergap angan penuh pedih Yang kulinangkan dalam angan di ujung mata Menari indah dipelupuk tangan Sendiri di sebuah tempat penuh ramai Karena yang lain masih tertidur pulas di kamar pemimpi Menjadi kebiasaan pemalas hipokrit Selalu dalam angan indah menjerit Tak apa, Demi indah sang bidadari semua berarti Demi indah raut manja wajah yang menyita hari Yang senantiasa menerpa disudut hati yang sepi  Yang suara manisnya selalu menggema dalam bilik hati Maka laut kan menari Lalu perahu kecil kemari Dari sini lewat laut dan malam Matahari berhenti bermuram Meringkuk dibalik gemerlapnya dunia kelam

sedikit hal yang tidak ingin kamu ketahui tentang harapan

21.10 harusnya aku belajar, sebentar lagi berbagai ujian akademik datang, harusnya aku berhenti menulis, tapi sayangnya aku tidak bisa fokus kalau masih ada benalu yang hinggap di angan. meluapkan emosi dalam bentuk kata adalah salah satu caraku melawan sendu. walau akhirnya aku hanya berakhir tidur bukan mempelajari pelajaran yang seharusnya aku lakui saat ini. suatu waktu ada sesuatu yang tiba di antara fajar dan sunyi. semacam kasih rengkuh tiada ragu. erat, memantapkan jiwa. semacam setitik cahaya yang rela jatuh dari mega-mega langit. menyelinap di antara kekata, berharap aku akan menemui paragraf baru. sesuatu yang kalian dan mungkin aku sebut dengan harapan. dulu aku juga orang yang sama layaknya orang normal kebanyakan, percaya bahwa takdir itu pasti sudah ditentukan dan cita-cita dengan tekad yang kuat pasti akan terwujud, menjadi suatu hal yang lebih dari kata harap. berbagai motivasi yang ada membuat tekad lebih bulat lagi, seakan percaya bahwa semua pasti akan dapat...

fake plastic trees

Aku adalah sendu akan kematian dan duka cita Jiwaku lahir dari lubang gelap tak berdasar, yang kan kau temukan di dalamnya separuh iblis dan separuh malaikat Atau mungkin aku salah, aku bukanlah kelam Yang senantiasa mengarungi dinginnya angin malam Jelagad indah paradigma yang bermuram Mungkin juga aku tak tahu Aku hanya putuskan asal-usul daku yang senantiasa berubah di setiap tetes air hujan yang jatuh perlahan  Aku, Aku adalah apa yang ku mau Prinsip luka dalam membiru Lepas dari kotak hijau mimpi Menentapkan diri dalam bualan imaji  Tak peduli kata-kata fiksi Terlontar dari mulut berkaporit Orang-orang hipokrit Tapi tenang, Aku sudah ceritakan diriku Budi akan kubalas Setan akan kulibas Aku tak akan pernah menjadi penghianat lungkrah  Saat orang lain berbalik arah Aku bukan kalian Aku memang mengejar angan Tapi tak melupakan kawan Saat ku lompat dari gedung ini nanti Yakinlah kalian tak akan ada dibelakang Untuk sebentar saja ucapkan ...

ain't no grave

"There ain't no grave, can hold my body down. There ain't no grave, can hold my body down When I hear that trumpet sound. I'm gonna rise right out of the ground. ain't no grave, can hold my body down." ------ "hening" Kelas yang kosong, Jadikan hari ini sebagai saksi akan hari yang terbuang Dengung lagu Johnny Cash, Jadikan telinga ini sebagai saksi akan bingarnya keadaan Dan hujan yang turun dengan deras, Jadikan hari ini sebagai hari penuh malas Jadikan sebagai bukti Kecewanya tuhan Melihat satu dari begitu banyaknya insan Melalaikan hari, Ku tutup buku Ku berhenti membaca Ku berhenti menulis Aku mulai mencoret, Seluruh permukaan meja dengan mata elang guru sejarah Tenggelam pada samudera hitam yang berdarah Karbon yang ku goreskan semakin lebar Layaknya pergi ke angkasa dan tersasar Melalaikan hari, Toh di rumah pun aku hanya akan tertidur Menggunakan dunia maya sebagai pelipur lara Membuka buku sepersekian sekon D...

queen anne's revenge

"you can't see the demons till the demons come calling for you. you're deaf to them screaming till they're standing right behind you. blind to flames glowingtill they're growing all around you. numb to fangs gripping until they're ripping into you" ----- "sang anarki" dalam sebuah beranda arus utama, catatan pinggir jalan sangat patut diacungi apresiasi berlebih. kata-kata eksplisit, kritik dari seseorang sebagai penentangan untuk kaum yang tertindas oleh raksasa ibu kota. juga sebagai jurnal seseorang yang diabadikan di sejaring kertas dan tembok bangunan, citra akan seni yang disalah artikan walau dengan maksud suci para malaikat karena terkadang pemberontakan akan jalan awal munculnya surga dunia. dan memang benar kata para aktivis yang bersorak-sorak kencang "jangan mau dibungkam". karena neraka kadang merupakan jalan awal menuju surga dan dosa menjadi jalan awal untuk merasakan segarnya air kelapa di gerbang putih. menginjak ne...

Hanya angka

"Aku terbang, diatas sini elok dan tak mau pulang. Kembali ke dunia gamang, lebih baik disini hidup berbayang, bak berada diatas pelukan bidadari pembawa tenang"   2013 silam, tentu sudah lama berlalu namun tak bisa dilupakan begitu saja. Saat awal kali menemukan sesuatu yang mereka sebut komunitas. Berawal dari situ juga semua hal menyibukkan yang menyita waktu dimulai, walau tak berguna untuk hidup tapi rasa sungguh membuat adrenalin terguncang. 4 tahun sudah mengarungi dunia itu, tak berguna tapi acap kali dilakukan tetapi itu pula yang menyadarkan bahwa sesungguhnya yang tak berguna kadang kala bisa berguna, terutama untuk gudang pikiran ini, otak. Ratusan jam tersita di dunia gamang itu, hijau dan merah acap kali dilewati sehingga memiliki rasio yang nyaris hampir sama. Di mulai dari kasta paling rendah bermain, empat tahun sudah tak ada peningkatan. Memang tidak berguna tapi, entahlah, semua ini memang tak bisa dijelaskan akal. Dua lima, kurang, tambah. Dua...

I am god

"how did you know? it's what i've always wanted could never have too many of these will you quit kicking me under the table? i'm trying, will somebody make us shut up about it? can we settle down please? this world, i've been.. bite tongue deep breaths " - I'm God (Clams Casino) Sebuah hal sensitif untuk dibahas, meyakini bahwasannya semua orang pasti punya keyakinan. Walau akhir-akhir ini, banyak dari mereka sendiri yang termakan oleh keyakinan mereka. Terlalu berlebihan menanggapi semuanya, sehingga mendadak berhenti sebagai manusia, menjadi seekor binatang tak bernalar. Layaknya hewan peliharaan yang mengikuti segala suruhan tuannya, bertindak membabi buta atas nama "keyakinan". Tentu bukan salah keyakinannya, melainkan kesalahan dari mereka sendiri dengan mengartikan sesuatu dengan hal yang berbeda, sehingga melenceng dari konsep awal keyakinan mereka. Rentetan peristiwa bejajar sejak satu tahun kebelakang, atas nama "keyak...

Sedikit penjabaran waktu

"Ada yang tiba di antara fajar dan sunyi. Semacam kasih rengkuh tiada ragu. Erat, menenangkan. Semacam setitik cahaya yang rela jatuh dari mega-mega langit. Menyelinap di antara kekata, berharap ia akan menemui paragraf baru." Jam 8.32 malam, disaat orang lain mungkin sedang belajar, mempelajari materi agar mereka menguasai saat-saat penting yang akan datang beberapa bulan lagi. Bahkan seseorang yang mempunyai otak jenius itu pun saat ini sedang mempelajari sesuatu, berlatih soal baru, berharap berhasil dalam ujian nanti. Sementara itu, seorang lelaki angkuh itu hanya berbaring di kamarnya dengan berbagai buku tebal disampingnya, tanpa dibukanya, dia pun hanya memejamkan mata dan menyalakan lagu lewat ponselnya. Jam 9.05 malam, mata lelaki ini terbuka dan mulai meraih ponselnya. Dibukalah sebuah aplikasi olehnya dan mulailah ia menulis tulisan ini, tanpa menyadari bahwa ia sudah kalah selangkah dengan teman-temannya. Padahal nyatanya dia mempunyai banyak sekali waktu l...