Posts

hutan

Di bangku tunggu itu, jam demi jam Ada yang selalu silih berganti Tapi kenapa hanya kita yang terus menanti? Lorong matamu yang penuh keteduhan Menetaplah sebagai atapku

Orang-Orang Yang Beriman

"Dan Dialah yang telah menciptakan bagimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, tetapi sedikit sekali kamu bersyukur." (QS 23:78)

how the sons of anarchy lost their way

A note to self "Sorry, I didn't become the person you wanted me to be" "....." "Don't worry, as long as you're alive..." "We have time.."

Absolut

Kita membunuh waktu dan nasib yang sebentar lagi hangus Hidup jadi tidak hidup Jika melulu dibuntuti maut di tiap sudut Hidup memang fana Itu yang sulit aku terima Bencana dan keberuntungan Bencana adalah semacam kehilangan cintamu Dan keberuntungan menjadi kepakan sayap doa-doamu

prakarsa - lembar dua

Jangan sampai doa kita tertahan lalu tak sampai padamu Tempat badai menenggelamkan kapal Dalam sepenggal damai yang singkat Demikianlah aku dapat menyentuh sesuatu Tanpa khawatir akan dihantui riwayat setiap bekas luka Bersabdalah tuhan diantara rerintik hujan dan gemuruh ombak Tuhan yang baik akan selalu berkunjung di akhir tahun Di bulan desember, sesudah hujan menyingkirkan debu Aku akan pulang Bukankah seburuk-buruknya waktu adalah merenggut apa yang ia beri?

tiga titik hitam

Dan lagi,  akalmu tak mampu untuk mencerna Dan lagi,  ketidakseimbangan nurani dan pikiran akan membawamu pergi Menuju temaram

In the Bleak Midwinter

"Quoting " In the Bleak Mid-Winter " reminds him not to be angry at what he didn't accomplish, but to accept the extra time he had in the world and go into death willingly."  Setelah ribuan prolog dan epilog Apakah sudah kau terima takdirmu? Apakah gersangnya nasib telah ditelan karena cacatnya keseimbanganmu? Dan lagi, Untuk kesekian kalinya,  Logikamu tak mampu menjelaskan.

epilog

Takdir mungkin akan menjadi tulisan terakhir karena dunia saat ini bukan tentang lagi apa yang diinginkan tapi tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan. Keinginan adalah bias dari segala hal-hal yang terpancar dari berbagai sisi kehidupan, bukan berarti sesuatu yang dibutuhkan. Tak ingin hidup seribu tahun lagi seperti Chairil Anwar, hanya butuh untuk mensyukuri berbagai hal-hal yang datang sebagaimana mestinya. Sudah saatnya berhenti dalam menjalani kesamaran fatamorgana yang datang dan fokus menghadapi hal-hal yang jelas ada dihadapan, hal ini baik dan semua hal yang baik pantas diperjuangkan. Waktu sudah habis untuk bermain, kawan lambat laun pergi dan menjalani hidupnya masing-masing, memfokuskan dirinya meraih impian, dan orang tua di rumah berharap besar akan kehidupan di masa depan. Hari pembuktian telah tiba, hati yang gusar sudah disuntik matikan, dan akal menjadi belati, menikam segala nestapa dan merubahnya menjadi kedamaian. Aku harus berhenti menulis, aksara hanya berarti ke...

harakiri

Setelah Tuhan yang baik bertamu di penghujung tahun, Setelah satu siklus matahari selesai dan lembar per lembar kalender berakhir di tempat sampah Telah diturunkannya pesan untuk dicerna "Apabila kapal kecilmu gagal berlabuh di suatu dermaga maka kau hanya perlu mencari dermaga lain" di tengah lorong itu menyaksikan aksara yang melakukan harakiri diksi-diksi yang dipaksa mati

prakarsa

Tuhan yang baik selalu bertamu di penghujung tahun Apakah surga ada di tahun baru?

Pencarian - Lembar Tiga

Ada daun yang gugur di depan teras rumahku Yang telah lupa cara membaca harapan Dan warna kuningnya mengabarkan pecahnya dunia lewat gersangnya tanah Dalam pencarian,  aku berjanji dengan kesederhanaan Akan aku menangkan pertempuran dan mengatur takdir Beberapa hari kemudian, Ia ditemukan mati di tengah bait Di sudut jauh Di tempat bermula

Pencarian - Lembar Dua

Dalam pencarian Aku sedikit demi sedikit mendapat bisikan angin Di dalam kata pengantar dan daftar pustaka Aksara terampas dan dibuang dalam lembaran kertas Demi kepentingan dan tujuan pribadi Semua orang melakukan segala cara Ah! betapa munafiknya manusia Dulu aku hanya meminta untuk mati di tengah-tengah laut Diantar oleh ombak untuk dihancurkan gelombang dan tekanan Tapi kini aku berharap untuk tidur di ranjang rumah Tempat kuhabiskan sisa hidupku Lalu dikubur dalam timbunan tanah dengan namaku di atas nisan Ah! Kau tertawa Disetiap pengembaraanku dalam pencarian Aku bertanya, Bagaimana puisi menyelesaikan ini? Puisi menjawab, Tutuplah mata  Karena anjing-anjing bertebaran di beranda

Pencarian - Lembar Satu

Dari waktu ke waktu aku selalu dalam pencarian untuk memahami bahasa sunyi Yang tak dapat terbaca Yang tak dapat tercerna Yang tak dapat ditafsir Yang begitu sukar untuk dipahami Dari waktu ke waktu aku selalu dalam pencarian untuk memahami arti aksara Yang begitu naif Yang begitu bias Yang kadang berputar dalam ambiguitas Dari kata ke kata Dari frasa ke frasa Dari kalimat ke kalimat Dalam pencarian di tengah pikuk dunia yang tak pernah menawarkan kedamaian Dalam pencarian di tengah biadabnya rasa sepi Dalam pencarian yang tak pernah tahu dimana akhirnya Mungkin aku serupa Ahasveros Atau mungkin juga serupa Sisyphus Yang kudapati kematian mengikuti disetiap petang Namun angin mengajarkan rahasia langit Aku pun setia mengembara

anestesi

Suntik mati dan tak perlu sadar Katanya aku tidak terlahir untuk mengemis kepada manusia Apalagi menyembah berhala yang membutakan mata Tidak ada lagi kelam malam yang harus ditelan Tidak ada lagi detik yang jadi penyiksaan Gelap demi gelap Sebab maut sudah tidak lagi menggetarkan pikiran Setiap subuh tubuhku terjatuh Bisakah kita menginginkan untuk memiliki tanpa menderita?

pilihan

Maka biarkanlah segala perjalanan membesarkanmu Aku tubuh yang membasuh waktu Dan detak jantung yang memukul langit Begitu utuh dan bergemuruh Hingga hujan turun Dan tangan menadah tak sampai Lalu bertanya mengapa badai mengisyarakatkan amuknya

tragedi

Setiap aksara yang terukir memiliki arti Kadang menyejukkan hati pun kadang setajam belati Maka tertulislah segala peristiwa yang terjadi Entah sebagai sejarah atau sekedar menjadi pengingat diri Bahwa kenaifan dan tragedi dalam kehidupan memang benar terjadi Siapa sangka akan sejauh ini? Bait demi bait yang tak pernah tahu diri Yang terlahir tanpa kaidah dan komposisi Dan terlupakan di esok hari Bukankah kehidupan ini menarik? Dengan jutaan penyesalan, Ribuan waktu yang ingin kau putar, Namun kau masih mampu berdiri Binasalah segala kaum yang menilai Dan enyahlah segala penghakiman Karena tafsir adalah kebebasan Tanpa sadar

pekat benderang

Lelah adalah hal yang wajar Tapi menyerah bukanlah jalan keluar Resiko adalah ketidakpastian dalam mencapai tujuan Maka mitigasilah dengan baik Seperti pepatah berkata Jangan pernah berhenti belajar Karena hidup tak pernah berhenti mengajar

daftar pustaka

Riwayat dan sejarah tercatat Menjadi acuan bagi mereka yang tersesat Di dalamnya terkandung kebenaran mengenai asumsi dan presepsi Tempat dimana tak ada lagi praduga Lalu menjadi pemberhentian untuk mereka yang memenggal kata Untuk sekedar memakan tafsir ataupun meminum definisi Kesepadanan dan keseimbangan atas bahasan Dan akal akan saling menuduh siapa diantara keduanya Yang memberikan acuan dalam lekuk ingatan  atau hanya berakhir di dalam kertas dan panjangan kelas

kata pengantar

kata pengantar berawal dari kalimat-kalimat yang retoris terlalu bias dan penuh siasat pengenalan yang tak biasa dan cukup ambigu selayak menebak isi kepala dan kata yang dikeluarkan intuisi kata pengantar membawa sebuah pertemuan cukup singkat dan padat namun tak terlalu jelas waktu dan jarak menjadi tersangka yang memisahkan antara keberadaan dan kewajiban   lantas, siapa kita yang bercerita dan tertawa? yang bertukar isi kepala namun tak menambah beban yang bertukar kata namun tak bertukar kabar yang berbicara tentang masa depan namun tak terasa samar   lantas, apakah takdir akan memberi jawabnya? tentang hati yang mengeras, tentang kepala yang membatu, dan tentang pundak yang semakin lelah setelah kata pengantar, mungkin senyum akan memudar dan malam akan kembali dingin atau sebaliknya?

kelak

Kelak disana, akan dibuatnya rumah 2 lantai; dengan teras dan halaman yang singkat tanpa pengantar dan daftar pustaka  Disana, akan diwariskannya mobil juga motor mewah; dari kaleng atau botol plastik juga permata dan baling-baling ia pun sempat berjanji pada anak-anak; takkan mewariskan tongkat, belati, ataupun pedang agar tak akan pernah terjadi lagi perang

absolut

Pemaparan nilai absolut sangatlah kejam Mengingat bahwa waktu adalah satuan yang tak akan pernah bisa terulang Jika penghakiman adalah kesepadanan Maka tulang berulang tak akan retak dan berongga Lantas, mau kah kau untuk hidup seribu tahun lagi?

kesempatan

Manusia tak cukup hanya menerima satu kali kesempatan Manusia tak bisa tidak menerima permohonan maaf Jadilah seperti Tuhan Yang memberikan hambanya kesempatan Yang memberikan hambanya maaf Semua orang punya kesempatan Semua orang dapat berubah Bukankah seburuk-buruknya waktu adalah merenggut apa yang ia beri?

hujan, lembar dua

Hujan adalah doa-doa ibu Yang mengalir di muara paling dalam Yang membasahi tanah gersang di sepanjang jalan Yang menumbuhkan kehidupan disaat matahari terlalu lama tak terbenam Hujan akan senantiasa turun Dan bumi akan mengamini Hujan akan membesar Dan turun ke ujung hilir paling sempit Saat hujan reda, Bumi pun tersenyum dan kembali bersyukur

hujan, lembar satu

Aksara yang terbuang akan hanya mendapati ruang di sudut kamar paling gelap Jam dua pagi mata terpejam dan hawa mendingin Hujan membasahi loteng kamar yang usang dan penuh lubang Air yang menetes terasa dingin dan menusuk "Di jam 2 pagi ini turun hujan! Tanpa selimut dan semua terasa dingin!" Lampu mulai padam Hanya cahaya redup dari terang bulan dan kerlip bintang yang menyinari dinding yang bernoda Gravitasi sudah tiada dan dunia jatuh ke dasarnya Siapa sangka akan secepat ini terlelap dan terbangun disunyinya malam! Apakah ada yang ingin tertidur dan terbangun untuk seribu tahun lagi?

fate doesn't care about your plans

"In my shoes, just to see What it's like, to be me I'll be you, let's trade shoes Just to see what it'd be like to Feel your pain, you feel mine Go inside each other's minds Just to see what we find Look at shit through each other's eyes" Ambillah pensil dan rangkai tulisan ini di kertas Tak terbaca dan tak terbayang Penuh dengan coretan sebab gagalnya pilihan kata Siapa yang peduli dengan rima dan etika Sedari dulu harmoni hanya akan nampak saat adanya penghayatan Kata hanyalah tragedi Dan ia menjelma menjadi bencana Siapa yang peduli dengan luka tak bernoda? Ia hanya pulih bila keikhlasan datang Timur ini adalah arah tanpa jarum Idealisme hanya angan dan prinsip hanya pohon tanpa akar Lantas akal hanyalah penjara Serta manusia hanyalah binatang Buas dan berbahaya Baik dan penyayang Takdir adalah kutukan, Nasib adalah pilihan, Rencana adalah rawa, Pertanyaan dibenak adalah: Bagaimana ibu memejamkan mata?

seribu tahun lagi

Malam ini tidak ada perayaan! Kita mengubah rencana! Kita akan hidup untuk seribu tahun lagi! Dan kita akan membangun kerajaan untuk kalangan kita Kerajaan itu tersusun dari tulang dan tetesan darah Kerajaan itu akan kekal Disana kita akan membakar takdir yang gusar dan kutukan yang ada pada penglihatan kita "Fatum brutum, amor fati!" Pada akhirnya kita akan mencintai takdir Dan pada akhirnya kita akan pulang Tanpa pertanyaan pada pilihan Tanpa pertanyaan pada keberadaan

perayaan

"I wasted my time with these cigarettes And these ashes all I've got left Wash this old town Nothings left for me Washed down stream into the sea This big ol' river will kill us in time 'til then we'll drink it's weight In cheap beer and wine We can drink just as fast as the river is strong And we'll drink 'til we're gone. We'll drink 'til we're gone." - Lucero malam ini adalah puncak kemenangan, jadi jangan ada sedikitpun pertanyaan, mari bersulang!

kata terakhir

Apabila aku sudah tidak ada lagi Kenanglah prosa-prosa yang tercipta Ia lebih berharga Ia lahir dari perasaan dan kata-kata yang terpecah Ia dibesarkan dari perjuangan dan tangisan air mata Ia adalah riwayat dan tapak tilas yang tabah akan terpaan Ia akan selalu hidup dan menjadi pelajaran Suatu saat prosa-prosa itu akan menyatukan kembali orang-orang tercinta Suatu saat, di tempat dimana hukum waktu di dunia sudah tidak berlaku lagi

jam tua

"Aku akan mengejar waktu dan akan kupercepat kembali kehidupan yang lambat!" Terukir ambisi didalam nadi Berteriak diambang sekaratnya jiwa Jam tua di dinding sudah tak berputar lagi Di etalase baterai-baterai sudah usang dan tak lagi dapat dipakai Waktu melambat dan hidup mulai menusuk Detik demi detik Menit demi menit Jam demi jam Hari demi hari Minggu demi minggu Bulan demi bulan Tahun demi tahun Mata kembali terpejam dan waktu terasa cepat Terbukalah mata dan kembali melambat "Barangkali doaku terkabul Aku akan mempermainkan waktu! Hidup menusuk dan akan terus begini saja! Aku ingin kembali ke masa lalu! Dan aku ingin ke masa depan! Namun apabila masa depan menakutkan maka aku akan kembali ke masa sekarang Karena aku akan memperlambat waktu! Dan akan aku siasati kehidupan yang fana ini! Namun apabila masa depan begitu indah Maka aku akan mempercepat waktu! Karena aku tak ingin menikmati tajamnya belati!" Bukankah kau setiap saat berbicara tentang bagaimana waktu...

amarah, lembar dua

Esok, segalanya akan membatu dan penuh debu Dalam sujudmu hanya akan mendapati tubuh yang rubuh dan mudah terjatuh Namun akan ada yang terus mengalir ke hilir kebahagian Adalah doa-doa ibu Yang mengubah bencana menjadi keberuntungan Esok, tak akan ada lagi yang bertanya tentang silsilah atau asal muasal Di sisi kamar paling gelap Ia akan dibiarkan dan mematung di kedalaman kedinginan Namun, sesekali ia akan singgah di tengah gelapnya malam, gemuruh petir, dan air hujan Agar tak perlu lagi menahan seluruh tangisan Dan akhirnya ia membuka mata dan menatap segala yang menyangga

amarah, lembar satu

Semoga untuk kesekian kalinya dapat dimengerti Karna hidup terus meredup Dan tiap malam hanya jadi pertanyaan Mengapa begitu sulit untuk mengerti orang lain? Yang menyandarkan bahu Namun harus tertabrak ego yang membatu Amarah adalah jalan terakhir Dan jalan terakhir tak berbuah hasil Amarah pun padam Lalu membuka jalan yang baru Namun jalan baru masih berakhir buntu Tak apa, Itulah sebenarnya dirimu Yang selama ini terkubur Dan terbuka oleh waktu Amarah tak mau menampakan diri Ia sudah mati dan dikremasi Lalu bereinkarnasi menjadi kecewa Kecewa adalah luka Dan luka mencari obat Obat enggan untuk datang Obat tak akan datang Bila hidup ternyata hanya menawarkan dua jalan Tinggalkan atau ditinggalkan Hidup akan terus meredup Dan hidup akan begini saja

Obituari - "tanah" - Lembar Dua Puluh Satu

Hidup terasa terus meredup atau mungkin, Hidup akan terus begini saja Kau terjaga akan pikiranmu Ditidurkan oleh rasa lelah Kembali terbangun atas naluri Dipulihkan dahaga oleh air Dikenyangkan oleh makanan Tertawa atas kebahagiaan Disedihkan oleh duka Dan hidup akan terus begini saja, rasanya.

asal muasal

Tanpa nama Tanpa riwayat Tanpa sejarah Tanpa rumah Tanpa keluarga Kembalikanlah dirimu ke asal Ke hakikat alamiahmu Manusia yang penuh bencana dan keberuntungan

sesuatu yang selama ini salah

dahulu kala purnama menemukan seorang pemuda terlelap ia lelah atas pencariannya dalam mencari harta karun konon ia tersembunyi disuatu lembah di dasar dunia hanya yang mampu mencabut jiwanya sendirilah yang mampu ia masuk lewat kata dan tertanam dalam benak lewat hujan ia tumbuh dan menghasilkan buah yang berlimpah berabad-abad waktu terlampaui ribuan hara tanah banyak tergali namun dipenghujung pencariannya ia baru menyadari sesuatu yang selama ini salah ialah yang pertama, idealisme bahwa yang dianggap benar adalah absolut; yang kedua, mengorbankan segalanya untuk hal yang tak sepadan; yang ketiga, pernyataan bahwa intuisi adalah kenihilan. dalam dunia yang penuh kefanaan ini seseorang hanya beracuan pada kebutuhan untuk hidup maka kau harus liar dan bertahan untuk merdeka maka kau harus lari dari belenggu penjara untuk mengatur maka kau harus menjadi paling atas bahkan apabila itu berarti sampai kau naik ke singgasana tuhan duduk dikursinya dan membuat kitab keabadian yang baru unt...

amor fati

Tiga hal yang ternyata saya benci tanpa sadar 1. Penuntutan 2. Penilaian 3. Penghakiman Tapi saya harus mencintai takdir meksipun ia kadang datang secara bertubi-tubi, bukan? Seperti yang Nietzsche katakan Fatum brutum amor fati

jalan buntu

Rasa dari gelapnya malam tetaplah sama Lampu-lampu redup dikota dan segala gamanya Lorong berliku yang terlintas memaksa untuk dilintasi Membuka pagar yang tak terkunci Pembual dengan segala caranya Menawar apakah ia akan terjaga atau terlelap Mulut mengecap rasa yang hambar Dan kaki terbuka tuk bergegas Di pesimpangan jalan ia berhenti Membeli air yang melepas dahaga Lalu menyalakan tembakau dari saku celana Dalam hening asap keluar dan menusuk paru-parunya Menemui jalan buntu Loncat tembok dan berlari Pandangan putih dibelakang Menuju temaramnya cahaya fajar

esok

Ufuk barat telah menunjukan cahaya merahnya Petang tergambar dalam arloji hitam Semakin cepat detik kian berdetak Angin berbisik dalam keheningan ruang telinga Takdir adalah alamiah Dan nasib adalah peristiwa Mentaru itu fatamorgana Sedangkan purnama tetap pada tempatnya Setelah satu siklus matahari selesai Perjamuan sudah jadi tanah hara Air mata hanya jadi ampas perjuangan yang tersia Perlahan menyiksa setiap insan yang hendak mencari peruntungan Naas namun begitulah cara waktu bekerja Disisi lain, purnama tak diperbudak oleh kejamnya waktu Ia selalu menengok kesegala penjuru mata angin Memperhatikan lewat dinginnya ruang gelap Menyesuaikan tanpa ada kefanaan Menemani insan yang tak terlelap Barangkali memang kekhawatiran adalah hal yang alamiah Menghantui dari kepala ke kepala Mempertanyakan takdir dan nasib Purnama berbisik mengenai keyakinan Matahari menghempas setiap angannya Inilah kehidupan tuan! Dan sisi paling menarik dari keyakinan adalah dusta Hanya manusia yang mengkhianat...

esa hilang, dua terbilang

Peribahasa atau ungkapan perumpamaan atau pepatah bidal atau pameo Suatu yang alamiah tak perlu dihindari Alamiah adalah takdir Baik akan datang dan buruk tak bisa dihindar Hilang atau terbilang   Manusia hanya bisa berencana Namun alamiah tetaplah mutlak Kaki bolehlah cepat berlari Namun ia akan letih jua Bila hilang Nikmatilah cemas Telanlah pahit dan hiruplah segala asap kepedihanmu Walau tercabik di tangan dan kepala Jahitlah dengan benang amarahmu Minumlah segala air lautan yang sehambar sanubarimu Kelak kau tersadar dan tegar  Dan di kaki sendiri kau mampu berdiri Bila terbilang Nikmatilah suara alam yang syahdu Indah langit senja tak bernestapa Namun janganlah kau angkuh Kelak angin akan kencang berhembus Memunculkan hujan dari ufuk barat Kelak kau tertunduk dan tersadar Tersenyum meratapi hari di hilir

ego

Mungkin begitulah rotasi di semesta ini Antara kebenaran atau kesalahan yang berputar Pikiran manusia sangatlah naif Apalagi ketika berbagai sudut pandang bertabrakan Perjuangan demi perjuangan Manusia demi manusia Lembaran demi lembaran Akhirnya kita hanya berjuang demi orang yang berharga Naif tak dapat menyenangkan semua pihak Pemikiran yang ditelan oleh ego Hanya mengantarkan ke sisi lain dari muara Manusia memang tak pernah menang dari rasa kesepian

barangkali

Tuhan,  Barangkali ini doaku yang sekian Engkau kabulkan Izinkanlah hamba mengadu asa Tuhan, Perkara cinta Siapa jua yang pernah lelah Mengingat membahagiakan adalah tujuan yang mulia Tuhan,  Bilamana hamba berdoa Bantulah hamba untuk menjaganya Saat ia jauh dari genggaman Saat ia jauh dari penglihatan Saat ia jauh dari pengawasan Berikan ia selalu kebahagiaan Karena ia tak pantas bermurung Warnailah ia dengan segala keindahan Agar ceria selalu bersamanya Tuhan, Jadikanlah hamba manusia yang kuat Yang tak goyah bila tersambar petir Yang tak runtuh bila terpapar badai Agar hamba dapat menjaganya dengan sepenuh jiwa Mungkin sebatas menahan air mata yang rentan jatuh Hingga menghapus segala lara Tuhan, Tak lupa syukur terucap Karna sampailah hamba kepada dermaga Yang benar-benar menawarkan cinta

Nyatanya

Sejenak kita berhenti berharap, berhenti meratap, dan membiarkan Tuhan yang berkehendak.  Situasi baru, kondisi baru, toleransi baru, pandangan baru, dan jangkauan baru. Dalam analogi ukuran, tak pernah bisa kotak masuk dalam wadah segitiga, pun sebaliknya. Pikiran manusia memang rumit, atau memang sudah selayaknya? Atau memang keadaan yang merumitkan pikiran? Kehidupan kala pandemi, kaki-kaki dan tangan-tangan perkasa mendadak lumpuh, dan mulut-mulut mata pisau telah tumpul. Demi masa, izinkanlah aku bertanya, sampai dimanakah ini semua kembali seperti sedia kala?

Mewawas diri

Pemberontak, kau angkuh dan sedikit congkak serta lidahmu akan sejatam mata pisau yang di pakai berburu para hama di hutan kematian. Kelak akan datang padamu Sang Maut, ia akan menyeretmu dengan rantai berapi hitam.  Namun, sebelum itu akan datang bidadari yang cantik parasnya, berkerudung, dan anggun. Ia menawarkan air yang segar dari mata air pegunungan dalam perjalananmu di padang pasir di Timur sana. Bilamana kau meminumnya maka selamatlah engkau. Sang maut tidak akan datang secepat itu bersama bala tentaranya hanya untuk menyeret seorang pemberontak. "Nona, aku sudah tidak menenggak minuman sejak satu bulan kebelakang, tak ada satupun manusia di muka bumi ini yang peduli untuk memberikan sedikit saja kebaikan, lantas untuk apa aku meminum air yang kau tawarkan? Kau tak mengenal aku, juga kau tidak pernah bertemu dengan aku, mengapa engkau menawarkan aku?" Bidadari itu pun hanya terdiam, tidak ada satu katapun keluar selain senyuman cantiknya.  Tanpa kata, diminumlah air ...

sudut pandang

Tuan, aku sangat muak ketika manusia sudah melalukan penghakiman tentang salah dan benarnya suatu hal, yang mana hal tersebut tidak ada dasar, haluan, acuan ataupun aturan yang mengatur. Aku ingin hidup merdeka. Merdeka bukan berarti bebas melakukan sesuatu semaunya. Kemerdekaan bukanlah kebebasan, meksipun sekilas kedua kata tersebut identik adanya, tapi keduanya memiliki tujuan yang mana secara esensi berbeda. Jika bebas artinya tak terikat dengan nilai, maka merdeka memiliki arti bebas berbuat sesuai dengan dasar dan nilai yang berlaku.  Ibarat makan, kau boleh memakan apapun yang kau sukai, tapi kau tak bisa memaksa tubuhnya yang sudah kekenyayang, itulah merdeka, sadar akan batasan tanpa dibatasi atau dikendalikan oleh orang lain. Dan aku ingin merdeka, ku suarakan dengan gema disetiap sisi, dan aku bersedih, sebagian kecil dari kalian mengerti dan sebagian besar dari kalian menentang. Aku ingin merdeka, namun aku ternyata terbatasi dengan perbedatan benar d...

Dalam diam

Hening ini media kita bersua karena kata yang terucap sudah tak dapat lagi terdengar. Telinga sudah menolak suara yang terdengar dan akal sudah lupa arti aksara. Aman dalam diam karena tak perlu lagi khawatir akan penerimaan yang selalu manusia cari. Membuang jati diri demi derajat yang diagungkan, mengikuti arus karena yang berjuang akan mati, dihabisi keegoisan dan lenyap bersama kefanaan. Inginkan kebenaran sedangkan benaran tak pernah ada, Ia bersembunyi, nyaris musnah, tak terucap, tak terdengar, dan tak terjangkau. Kita semua aman dalam diam karena hanya itu yang absolut, kita semua menolak membuka mata dan memilih tertidur dalam mimpi. Realitas tak pernah ada, hanya mimpi yang nyata, halusinasi adalah satu, tak pernah ada takdir, tak pernah ada nasib, dalam diam kita nyaman.  Masalah tak pernah ada, selagi kita diam kita berada di surga, tanpa hujan dan tanpa  badai, hanya awan yang cerah dan angin yang damai. Diamlah kata-kata, tidurlah, manusia engga...

Pendosa

Aku ini pendosa, sebab aku menikam nurani demi kematangan jiwa, membakar mimpi demi meningkatkan keberanian, merobek intuisi demi mengendalikan akal. Kau pun pendosa, sebab kau menolak untuk menoleh peduli, menendang ikatan  demi derajat, membisukan bunyi untuk kenyamanan Lantas berdosakah aku bilamana tidak berjabat tangan dengan keegoisan sedang engkau menutup mata? Berdosakah aku bilamana tidak bersanding bahu meksipun kau memohon sedang engkau sendiri membiarkan aku diterkam buaya muara? Dan berdosakah aku bilamana berbincang dengan hening sedang engkau sibuk menyumbat telinga? Jikalau aku yang berselimut dosa ini keluar dari hutan dan pergi ke gua, masihkah aku berdosa atas persinggahanku? Dan aku membuat api untuk memasak butiran angan untuk kita santap lalu menolak kau makan, berdosa pulakah aku? Aku ini pendosa, maka bersujud aku dengan kerendahan, masih kah kau anggap hitamku ini pekat?Seolah daun gugur yang jatuh di tanah gersang, tak mau kah kau...

Pengabdian

Kelak sehabis pengabdianmu itu semua hal di dunia dapat menjadi milikmu, hal-hal yang tidak pernah orang lain sentuh pun akan kau dapatkan, dengan satu syarat, kau mengabdi dengan seluruh tumpah ragamu. Maka telah ku tumpahkan segala darah, ku singkirkan segala keluarga, ku bunuh hati dan rasa takut atas berbagai prasangka kehidupan hanya untuk pengabdianku. Sepadan kah? Kita membunuh diri untuk menjadi satu, kumpulan baru, keluarga baru, dan maksud tujuan baru. Kepada pengabdianku, maka aku tanamkanlah kepercayaan, bahwa pengabdianku tak akan sia-sia, karena aku merasakannya, hal yang berbeda, pengalaman yang berbeda, rasa yang berbeda yang mana apabila itu buruk mungkin sudahku tinggalkan sejak dari dulu. Tapi kau, apakah pengorbananmu sama dengan yang aku korbankan? Aku bunuh diriku dan yang ku kenal pun begitu dan ada juga yang lebih dari itu, lantas kau? Apa yang ingin kau korbankan untuk pengabdianmu? Pengabdianku, Tuhan sudah berjanji bahwa setiap perjalanan mahkluk ciptaan...

Untaian kata

Kata-kata adalah sebuah kehormatan yang tertinggi bagi ia yang memahami. Segala tipu daya, kebenaran, dan kebohongan menyelam dan berpadu didalamnya. Memahami adalah kunci untuk melihat kemurnian dari setiap aksara agar kita mengetahui setiap maksud dan tujuan yang tersirat. Kadang kala kata-kata menjadi senjata bagi kita untuk bertahan dan dengan kondisi seperti itu rasa-rasanya dunia ini tidak cocok bagi orang-orang yang mulia, semua adalah tentang muslihat, semua tentang bagaimana kita memainkan peran dan saling bertukar sumpah palsu. Pada dasarnya kebohongan dan kebenaran mempunyai rasa yang sama dan seiring manusia berkembang dengan meningkatkan kepadaian ia berkomunikasi. Pada akhirnya tidak akan ada yang tau kebenaran atau kebohongan kecuali diri kita sendiri. Kebanyakan manusia hanya berlomba untuk mendapatkan yang ia inginkan, hal ini bukanlah menjadi hal yang tabu lagi karena itu sudah menjadi sifat natural sebagai manusia. Kita tidak pernah puas dan sering kali lupa bersy...

Naif

Kita begitu naif Menjadikan berbagai angan di atas ranjang yang hangat Namun bertukar sepi dalam ruang yang hening Kita begitu naif Menemui jalan yang hilang namun terlelap dengan ketidaksadaran raga Hingga kita tenggelam ditelan angan dan membisu diiris janji Kita terlalu naif Meninjau berbagai hal dengan pikiran yang desulif Menipu sepi dengan pertemuan atau papasan semu Kita terlalu naif Namun kita dipaksa mengerti dengan berbagai lantunan birama yang terdengar Tapi kita harus mengerti bukan? Tak bisa kita kian tenggelam oleh kenaifan kita sendiri Barangkali semuanya sudah mengalir Maka mengalirlah deras hingga tumpah dari cawan netra Dan kita sama-sama membuka mata yang telah samar Menyingkirkan kenaifan yang kita buat dengan berkenan Memilih sisi dalam sisi yang tersisa 230119

Serendipiti

setiap asap yang terhembus mempunyai ceritanya masing-masing. mereka berbincang, berduka, dan tertawa. setiap pahit yang tercampur dalam hitamnya kopi punya ceritanya masing-masing. mereka melihat, mendengar, dan mengerti. yang indah adalah ketika malam menawarkan warna yang berbeda dari gelapnya. hingga larut malam tak menjadi kantuk lagi dan malah menjadi penantian yang selalu tak ingin untuk dilewatkan. sungguh, sejuta aksara pun tak akan bisa menulis lengkap hal yang telah terlewati. sungguh, momen-momen ini akan selamanya dalam memori bahkan ketika badan sudah lumpuh tak berdaya sekalipun. kepada kawan, semoga selamanya kita berjalan bersama, tetaplah saling merangkul bahu-bahu yang penuh dengan perjuangan. lelah yang kita jalani, debat yang kita alami, tawa yang kita buat, duka yang kita ratap, dan siang dan malam yang kita ukir, semua akan selalu membekas. karena kalian sudah berarti lebih dari sangat, memberikan pelajaran-pelajaran dan hal-hal yang mengikat di memori...

Mengembara

Jadi bagaimana? Apakah awan masih terlihat hitam dan bergemuruh? atau awan sudah terlihat indah dengan dipenuhi kicauan merdu burung-burung yang berterbangan? Mugkin akan aku kisahkan sedikit hal-hal pada saatku mengembara. karena aku tak tahu kisahmu, tak pernah sepenuhnya tahu, mungkin aku masih perlu waktu kepada doa untuk merefleksikan wujudnya. Kau tahu yang aku dapat selama ini adalah sebuah fakta bahwa hidup ini benar-benar berotasi. Hitam tak selamanya buruk dan putih tak selamanya baik. Atas tak selamanya diatas dan bawah tak selamanya dibawah. kelam tak selamanya kelam dan damai tak selamanya damai. Mungkin kau pikir aku ini manusia yang terlambat menyadari hal-hal itu. Tapi kenyataannya aku tidak terlambat sama sekali, hanya saja waktu yang baru menunjukan keberadaannya dalam pengembaraanku ini. kau mungkin sering mendengar atau melihat kalimat klasik seperti itu, tapi merasakannya secara langsung adalah hal yang berbeda, dan setidaknya aku sudah merasakan sebagian...

Obituari - "Masa" - lembar dua puluh

Waktu ini begitu singkat tuan Namun aku dituntut untuk membuat setiap detiknya berarti Baik atau buruknya siapa peduli? Bukankah kita memang selalu hidup dalam pendapat dan asumi? Dan sebelum waktu benar-benar habis Mungkin hanya akan ada satu pertanyaan Apa yang harus kukenang? Yang pernah kulakukan atau yang kukhayalkan? Sebab di sudut rumah kelabu kamar-kamar akan segera hilang Menyesap penyesalan dari bulir air mata Atau tersenyum malu melihat rangkaian aksara Kutampung semua pertimbangan di pundi-pundi sukma Sembari kuberi wewangian Sebagai pengiring keranda Karena waktu akan benar-benar usai Demi sebuah kehormatan Di pinggir surga Setengah jiwaku mengidungkan kematian Mengiringi dunia yang terseok-seok Membawa sandiwara raga Yang lama menjadi lakon Sebelum dimulai adegan surga yang elok Pada tiap-tiap bilah cahaya temaram yang sedang beristirahat Akan ada suka cita dan katarsis yang bisa kita rasakan sesaat sebelum kita benar-benar terlelap Semua bekas-bek...

Obituari - "Mungkin" - Lembar Sembilan Belas

Kepada sajak-sajak yang bergemuruh dibawah mega Akan ku coba menjelaskan seperti apa arti keikhlasan Semua bak labirin di tiap lirih syair yang bergeming Seperti gemericik hujan saat awan pun masih ragu mengugurkan anak-anaknya Di tepian sepiku Aku terus meragu Menerima impian dan kenyataan  yang bahkan kita masih tertatih-tatih untuk melupakan Di bawah purnama yang tak sempurna cahayanya Selembar kisah tetap terbuka di halaman yang sama Dalam pekat kopi hitamku kala terjaga Hening tak lagi berani membawa dahaga Samar-samar masih ku cari caranya Agar terbangun diantara garis harapan Sama-samar kabut melingkupi mata Terlihat di ujung jalan ia jelas masih ada Lepas namun sedikit sunyi sedikit harmoni Dalam diri yang diselimuti mimpi Karena waktu pun berjarak tak memihak Lambat laun warna muncul beranak pinak Naluri berkata kepada kepala untuk cepat sadar Bahwa tak selamanya kita selalu berjalan menyasar Bahwa masih ada kesempatan...

Obituari - "Temaram" - lembar delapan belas

Pikirannya kelam kabut Atas semua momen pasang surut Dihayatinya mengenai sebuah pengorbanan Yang lalu apakah hanya belaka sebagai lawakan? Atas kata yang terlontar Kemanakah dirinya? Dia yang ia relakan hilang Untuknya yang sekarang (mungkin) sudah hilang Ia yang menghidupkan kembali warna Dan yang mematikan warna Nyatanya warna hanya bualan Tak pernah ada warna Sekarang hanya sekarat dan menghitam Abu-abu yang ia tumpahkan Hanya menjadi pelampiasan akan amarah Emosinya mengalir dan membeku Menjadi batu atas larva merah merona Ia hanya inginkan damai Walau ia tak pernah tahu sebuah definisi Akhirnya ia akan dikoyak sepi kan? Yang ia inginkan sekarang hanya kapan terjawab dan berakhir Mungkin tak ada nugs.obituari.230817

Obituari - "Bahagia" - Lembar Tujuh Belas

Asap melambung dari goa jiwa-jiwa nelangsa. Sebuah euforia yang datang dari alam sadar Menggelitik bagian dalam diri hingga tertawa Hingga rindu yang datang mulai terbakar Aku suka saat tiap aksara yang terlontar tak menjadi baku Terasa seru bagi kita para pengelana waktu Meminggirkan kisah pilu yang menjadi benalu Seakan semua terasa cepat berlalu Hidup dan bahagia Hanya itulah yang aku rasa Jika hidup di dunia dapat selalu seperti ini Aku mau hidup seribu tahun lagi Hari-hari di kota istimewa Menikmati segalanya bersama senja Belajar tertawa dan bahagia Menghilangkan segala duka lara Terbuai dalam buih-buih kebahagiaan Menolak sirna dalam dekapan Usai sudah hari kita bergembira Singkat bagai fatamorgana di gurun sahara Kata terakhirku mungkin Terima kasih dan semoga ini bukan yang terakhir Mungkin tak semudah memandang cermin Tetapi tolong jangan berakhir nugs.obituari.lembartujuhbelas.230717

Obituari - "Damai" - Lembar Enam Belas

Duduklah disini bersamaku Menikmati langit yang bercampur rindu Membunuh sepi dari asap kesepianmu Sama seperti yang terucap di waktu itu Apa kau pernah membedakan? tentang para pemuja kedamaian dan yang bukan dari kata-kata yang lebih terbuka dan suara nyaman dalam telinga Apa kau pernah membedakan? Tentang sebuah hal yang mereka bilang berlebihan Dari mereka yang tak tau apa-apa dan hanya memaki aksara Aku menyukai perbincangan Dari segala macam pemikiran Dari berbagai macam kalangan Terutama orang-orang yang ku sebut kawan Yang aku rasa disini damai Ingin ku habiskan waktu hingga selesai Hingga tembakau yang kita hisap sudah usai Dan kita kembali diterpa badai Kau tahu sama seperi mereka Silakan temui aku dalam suatu perbincangan Niscaya akan selalu ku coba, membuat kopi yang kau pesan tak sepahit kehilangan Untuk tembakau terakhir kita Di saat terakhir kita di kota istimewa Menggabungkan semesta dan segala isinya Melupakan beban dan hingar untuk sementara...

Obituari - "Esensi" - Lembar Lima Belas

Mereka bilang pada akhir dunia kau akan mengerti, tentang semua hal-hal yang selalu menghampiri. Esensi, sebagai inti dari segala yang terjadi. Semakin lama aku semakin mengerti. Bukan tentang aku, tapi tentang kalian. Pernah mereka bertanya apa aku ingin hidup seribu tahu lagi, aku hanya menjawab tidak. Aku inginkan hidup yang singkat, aku ingin segera berakhir, mereka yang hidup disana sangat nyaman, sedangkan aku? aku kadang hanya merintih tanpa aman. Aku tak pernah mengerti sepenuhnya tentang aku, pikiranku kadang serumit salju yang turun di gunung merbabu, absurd. Bahkan tak pernah ada salju di gunung merbabu, lagi-lagi, rancu. Tetapi semakin lama aku di sini, aku semakin mengerti. Mengerti tentang kalian, dan aku mengerti tentang aku. Dan aku kadang mengerti betul tentang aku, yang aku inginkan hanya meretas surga dan hidup di sana selamanya. Untung saja, keinginan kejiku kadang dikabulkan Tuhan dan membuat aku sedikit bersyukur, tentang hari ini dan kemarin. P...

Obituari - "Penjuru" - Lembar Empat Belas

Di segala penjuru pasti memiliki ujung yang saru. Tak ada yang abadi, meski kau sangat ingin menggengam hingga akhir diri. Semua kan pergi suatu saat nanti, yang ada hanya diri sendiri, kecuali yang memang sejati karena ditempatkan di sini, di sisi. Tapi apa yang sejati akan berakhir pergi? iya atau tidaknya, aku selalu berharap tidak karena pada akhir waktu, aku tahu sesuatu yang pantas untuk digenggam, bahkan bila itu merenggang nyawa sekalipun. karena pada akhir waktu, disitulah semua aksara terlontar, untuk abadi atau untuk terakhir kali. pada akhir waktu, disitulah aku sendiri merenung. pada akhir waktu, berharaplah kita ada ditempat yang seharusnya kita berada. pada akhir waktu, berjuanglah saat kita tidak lagi di penjuru yang sama. pada akhir waktu, tetaplah di situ. pada akhir waktu, aku kan tetap seperti dahulu. dan pada akhir waktu, aku tetap akan disini, bila kembali. jangan pergi, bukankah kita abadi? atau hanya pikiranku saja? nugs.obituari.lembar...

Obituari - "Gama" - lembar tiga belas

Gama, mereka mengartikannya sebagai perjalanan yang tidak dapat dilalui secara acak. kau tahu? hidup ini tak seperti gama yang mereka katakan. hidup ini tak menentu, kita tak pernah tahu. dan kau tahu? kita selalu dapat memilih untuk melewati sebuah jalan dimana saja, kau pasti tahu, selalu ada pilihan disetiap jalan yang kita pilih. hanya saja kita tak pernah tahu konsekuensi yang ada. baik atau buruk, bukahkan itu kejutan saat hidup di dunia? dalam sebuah kotak para manusia berpesta di tengah malam. ada waktu dimana ramai mulai goyah dilanda bosan karena ramai tempat itu tak menjanjikan kenyamanan lagi. yang ku tunggupun sedang berbincang disana, ah tak butuh aku rupanya. lebih baik tak ku ganggu, tak enak hati disana merebut ramu. nanti ada saatnya untuk giliranku. keluarlah dari sebuah kotak ramai itu, mencari hening sementara waktu. dan sebagian dari mereka pun mulai gundah, dan mencari hening yang sama. berbincang kita diatas kabin gelap, melihat pemandangan lua...

Obituari - "Arah" - Lembar Duabelas

Atas ratusan lembaran polaroid yang ku biarkan melebur pada tepi jalan. Atas ribuan langkah yang tercetak abadi pada garis-garis khayal. Atas banyaknya tragedi yang termuat dalam lukisan aksara. Obituari sebagai coretan seorang pengelana waktu Tanpa atau dengan aksara duka, tetap menjadi kilasan makna yang tak terlupa. Akan fananya arah dalam hidup. Tetaplah menjadi tegap dari kesabaran Hingga suatu saat nanti, semuanya kembali  pada musi semi. nugs.obituari.lembarduabelas.010717

Obituari - "Analogi" - Lembar Sebelas

Ketika kali pertama matamu ku jadikan percaya bahwa kau memberiku tempat teduh dari lelah yang tak kunjung berkesudahan. Aku terus percaya tentang itu, tak ada keraguan yang pernah terselip didalamnya. Kau pikir kenapa aku mau terus bersamamu? karena aku percaya padamu dan aku ingin setiap langkah yang ku lewati terdapat dirimu didalamnya. Lantas kenapa aku tidak menyelam lebih dalam lagi? karena aku belum yakin. Kau pikir kenapa hanya sebagian orang saja yang berenang di laut lepas? karena mereka takut akan resikonya, sebab sejatinya hanya ada dua jawaban yang ada, yakni mereka berenang dengan tenang sambil menyelam dan menikmati indahnya terumbu karang dan segala macam-macam biota, atau tenggelam terseret arus dan dimangsa para hiu ganas dan berakhir naas. Kau tahu mereka yang cermat akan dua hal itu takkan mau menggambil resiko itu sampai mereka siap, jadilah mereka menghabiskan waktu di tepi pantai, menikmati deburan ombak yang jua tak kalah menyenangkan, dan mengagumi inda...

Obituari - "Menunggumu" - Lembar Sepuluh

Ada detik yang menembakan peluru logam hingga waktuku berlubang pada tengahnya Hingga jiwaku tak lagi tahu harus bersikap apa pada detik-detik yang jatuh Adakah sebuah kegaduhan yang tercipta berantai-rantai sebab kelalaianku dalam dimensi waktu? Jika memang ada, Kita harus bertemu, dan biarkan kuperbaiki kesalahan itu Wahai warna yang tercampur akan ragu, Aku akan menunggumu sampai kita bertemu nugs.obituari.lembarsepuluh.210617.

Obituari - "Pulih" - Lembar Sembilan

Di tengah keramaian aku terus merasa sepi, terasa asing walau banyak dikenal berbagai manusia. Terasa gulana walau hiburan didepan mata. Sial, apa tidak ada yang baik bagiku saat ini? Sesak pikiranku, memikirkan nasib yang kian merandu. Nasibku yang terasa terombang-ambing oleh orang lain. Mereka ingin itu. Tapi apa yang ku mau adalah hal yang bertentangan dengan mereka. Bimbang Mungkin ini sudah takdir Aku hanya berharap bahwa ini yang terbaik dan mereka bisa menerima itu. Ah, sudahlah aku sudah cukup gundah dibuatnya. Aku ingin segera pulih kembali!   nugs.obituari.lembarsembilan.200617

Obituari - "Mudita" - Lembar Delapan

Kau tahu? Malam itu aku begitu membatu dalam heningnya malam, semua yang aku takuti sekarang akhirnya terjadi. Mulai dari harapan tinggi diri sendiri yang belum bisa aku wujudkan dan harapan tinggi orang tua yang aku kecewakan. Sekarang apa? aku hanya berdiam menulis prosa ini, meratapi apa yang ada sekarang. Kau tahu? malam itu sungguh berat. Aku rasa usahaku rasanya sia-sia sekarang dan aku sudah kehilangan waktu. Sekarang apa? semua lampu sudah mati dan aku mati rasa. Kau tahu? Aku berawai karena semesta tidak memberiku kesempatan walau aku sudah sekarat. Kau tahu? Aku bingung Kau tahu? Aku tersenyum dan air mataku terjatuh sekali. Apa aku ini? senangkah atau sedihkah? Kau tahu? Aku bingung Kau tahu? Semua orang sedang berpesta sekarang, kecuali aku, aku hanya diam disini sambil meratap dan menulis prosa entah apa, karena yang ku tahu, menulislah yang membuat diriku lebih baik. Untuk sejenak menulis membuat aku sangat kecewa tetapi selanjutnya dapat ku lupakan. Kau tah...

Obituari - "Ibu" - Lembar Tujuh

Ibu, hal terindah yang pernah diberi oleh sang waktu seorang malaikat yang selalu memberi cinta dan restu seorang pelindung terpaan sang bayu Maaf ibu, nadi ciut ini tak pernah berani mengungkapnya secara langsung jadi tertulislah olehnya kata puitis oleh tinta hitam di Hari Ibu yang tak pernah tersampaikan dan memudar seiring waktu Maaf ibu, untuk kali ini belum berhasil diri memetik jambu walau sudah usaha diri menggebu dan engkau malah memberiku tebu Engkau pasti kecewa Tapi aku sudah berusaha Mungkin suatu saat nanti diksi kan berbeda Menjadi lebih indah penuh aksara Aku tahu karna ku sedang kecewa Sederhana, Ku kecewa kau pasti lebih kecewa Tapi beginilah adanya Tapi engkau sendiri berkata Hal yang kudapati hari ini bukanlah apa-apa Sejenak kau menyuruhku untuk santai saja bagaimana bisa? Wahai ibu, Suatu hari nanti pasti Langitkan berbeda dari hari ini Aku janji Terima kasih ibu, untuk yang kesekian kali. nugs.obituari.esok.lembartujuh.110617...

Obituari - "Belum Selesai" - Lembar Enam

Sepertiga malam terakhir ini. Aku masih menatap harap yang tiba-tiba muncul dalam kepala. Selalu berkata pada hati kecil bahwa tak semua harap menjelma nyata. Hanya saja, semua tahu logika tak pernah menemukan cara untuk mengalahkan angan. Hanya saja, apakah yang kita lakukan selama ini sia-sia? Mereka selalu berkata bahwa usaha tak akan mengkhianati hasil kalau sudah begini bagaimana? Ah sudahlah Sudah tertutuplah celah   Lebih baik aku mencari tempat berkeluh Tempat untukku mengaduh Tempat menghapus semua peluh Aku hanya ingin kembali utuh Untunglah sekarang waktu menuju subuh Tak bisa terus menerus kecewa Untuk apa? aku belum selesai. nugs.obituari.lembarenam.180617

Obituari - "Serendipiti" - Lembar Lima

Secangkir kopi menemaniku disaat gundah merasuk kedalam kalbu di antara hingar bingar kendaraan kota kembang. Dengan sejumlah puisi yang terbuang sia-sia di jalanan, menjadikan saksi atas catatan pinggir jalan yang melebur jatuh bersama aspal. Aku selalu senang akan jutaan aksara yang terlontar dalam perbincangan pinggir jalan bersama manusia-manusia yang mengerti akan setiap aspek jagat raya dengan kopi atau sebungkus tembakau karena memang, tak semua manusia dapat mengerti. Mungkin ulasan itu hanya membuat aku tampak kotor. Biarlah, aku memang bajingan. Paling tidak aku tidak berakhir menjadi bajingan yang mati dengan tanda tanya di kepala. Sebab, seringkali aku menemukan hal-hal yang membuatku berkaca atas obrolan singkat dengan manusia yang aku sebut kawan. Biarlah, akan ada waktunya kita semua berakhir. Berakhir untuk berbicara seperti itu dan mulai menyusuri sesuatu yang nyata, sesuatu yang membunuh kita perlahan, lebih dari aksara. Sampai kita menyadari bahwa kita hanyal...

Obituari - "Di belakangmu" - Lembar Empat

Aku selalu berdetak di detik yang tidak dapat berkutik. Untuk kesekian kalinya, aku tenang dan aku tertawa, di belakangmu. Kadang-kadang aku juga bosan dengan dunia, sehingga aku mencari sebuah pelarian, lagi. Ternyata bisa aku temukan disini, mungkin aku harus berterima kasih? Atas senyum seindah senja yang jauh dari mata, yang tak pernah berubah. Ah rasanya menyenangkan untuk menggapai yang tak terjankau dalam hal lain. Aku harap kau jangan mundur, maju pun rasanya tak perlu, hanya cukup selalu disitu, hingga aku merasa bahwa surga tak pernah jauh. nugs.obituari.lembarempat.dibelakangmu.081016

Obituari - "Renjana" - Lembar Tiga

Hariku tiada yang berubah. Masih terus terbayang-bayang akan suara nestapa masa depan. Berkutat dengan suara lantang acap kali pulang ke rumah bukanlah suatu hal yang mudah. Aku inginkan perubahan, aku inginkan hidup yang lain, hidup seperti ini tidak enak, terlalu ramai dan terlalu tegang. Aku butuh tenang, aku butuh damai, adakah seseorang yang bisa mematikan volume kehidupan ini? Tak ada lagi senyum yang ku lihat sekilas. Semua ini rancu dan aku mulai berpikir siapa yang patut disalahkan. Semua ini rumit, sehingga aku mulai hilang di antara andai dan jika. Aku keluar dan mencoba tertawa kepada lamunanku yang selalu berlari dengan nostalgia. Dimana aku sebagai seorang bocah bersama teman-temannya, melakoni hari seperti anak-anak pada umumnya. Tenang dan damai, bersenda bersama teman sebaya. Menolak mengingat berapa piring pecah yang pernah terjadi di dalam dapur berlantai abu. Pagiku tiada berubah, tetap menjalani rutinitas, bergelut dengan angka dan kata. Malamku tiada berubah...

Obituari - "Senandika" - Lembar Dua

Tak ada yang lebih egois dari berdialog dengan diri sendiri. Pura-pura tuli akan suara-suara semesta di sekitarnya, pula membuta saat kerumunan didekap ramai. Tetapi rasanya memang sudah seperti itulah adanya. Memenuhi lubang kognisi dengan dengan aksara imaji, berekonstruksi , memahami apa yang tidak dan harus dilakukan sendiri. Kepalaku beku saat tak bisa meraih inti, walau hangat mentari tetap menyinari. Bak mencari persamaan arti antara teh manis dan kopi pahit. Apakah mereka itu satu hal yang sama? Semua ini rasanya hanya masalah analogi dan perspektif, bukankah begitu puan? Lihatlah seruput nyaman lewat lembut bibirnya, terasa kuat manis yang puan rasakan saat meminum teh manis itu. Berbeda dengan tuan, pahit kopinya terasa hebat, tetapi ia tidak mengeluh tentangnya. Kenapa? Teh manis dan kopi pahit, apakah mereka itu sama? Apabila jawabannya adalah iya, apakah bisa aku samakan hal itu dengan kehidupan ini?  karena yang ku tahu, semua manusia itu selalu menjalani ha...

Obituari - "Aku" - Lembar Satu

Aku adalah rintikan malas yang menghujam langit, yang menjadikan pelangi abu sebagai seluncuran mimpi, yang menunggu datangnya garam-garam pencair uap dan jatuh melayang-layang di atas ribuan awan hingga aku terhempas oleh kupu-kupu biru, terjerat pada kail petani angan dan diam. Diam, karena menulis hanya menghabiskan tenaga juga degupan jantung yang terbuang sia-sia. Diam, karena waktu hanya merengek pada ksatria bukan pada pecundang sastra.   Aku adalah sang titik yang berada diantara ribuan kata. Kata yang  tidak akan pernah menjadi kisah hidup di dunia. Aku juga adalah sang rembulan yang berada diantara jutaan bintang. Walau mentari kalahkan sinarku, aku tetap tersenyum sepanjang malam. Aku adalah aku, hidupku yang penuh hal semu, walau nampak begitu nyata. Aku adalah lungkrah, yang bersembunyi di balik tawa. Sebuah peninggalan noda peperangan masa lampau, yang membuat melankolis kehidupan selalu muncul setiap saat. Dalam bias-bias yang samar, aku hanyala...

kopi

15 Juni lalu orang bijak pada malam itu berkata bahwa hidup bukanlah selalu tentang keinginan yang terpenuhi karena bagaimana bisa seseorang tahu rasanya bahagia kalau tak pernah merasakan pedih? kenapa orang hanya mengeluh ketika merasa pedih dan bukan ketika bahagia? ingat! pedih itu sekali, tapi sekalinya pedih, rasanya pedih sekali, padahal pedihnya sekali.  Ya mau gimana lagi? "udah ngopi aja, meh pait sakalian, manehna pedihkan boy? abdi oge sarua."

esok

"Love on the low, love everywhere I go And I can't face that all I need is right where I belong" sebelum terbunuh ragu untuk sejenak, rasanya surga tak pernah jauh terasa damai di antara gemuruh jua terasa nyaman dalam riuh atas ribuan langkah yang terhentak jua atas jutaan kata yang terlontar dijadikannya sebuah bayang abadi yang mengakar karena tak ada yang bisa lupa bagaimana manisnya nektar sayang, di dunia ini tak ada yang abadi bahkan hal terkuat yang kita sebut afeksi karena cepat atau lambat semua bingar akan menjadi sunyi dan disini kan tertulis pundi-pundi diksi dari berbagai asumsi kau tahu, aku selalu sering membatu dalam heningnya malam betapa sulitnya tertidur agar terbangun untuk bermimpi indah dikoyak-koyak sepi dibawah cahaya bohlam hingga sepertiga malam terakhir mata merendah jika esok tak datang lagi maka disini kan tertulis semua yang dunia takuti takut akan mutu takut akan waktu takut akan sendu dan rupanya aku sendiri yan...

Di ambang neraka

"I've dug two graves for us, my dear Can't pretend that I was perfect, leaving you in fear Oh man, what a world, the things I hear If I could act on my revenge, then oh, would I? Some kill, some steal, some break your heart And you thought that I would let it go, and let you walk Well, broken hearts break bones, so break up fast And I don't wanna let it go So in my grave I'll rot" ------- Menyayat nadi Pada malam tanpa sanubari Kepada hal yang berjarak hanya dua inci Dalam menafikan hasrat diri Tetaplah dia tuli Dan semakin menjadi-jadi Memaksa diri sendiri Melihat mimpi-mimpi yang tak kunjung di gapai Dilumat olehnya perkakas imaji Hingga pupus sudah nanti  Memaksa kehendak yang bertolak Dan dia tak bisa bergejolak Lalu siapa yang salah? Bukankah semua hakikat jalan adalah sah? Dan nanti aku mati Membusuk dalam relung mimpi Dan kalian tetap berdiri Menikmati segelas bir (jahseh onfroy, garrete's revenge)

dua puluh satu manusia

Atas nama sebuah tempat di pusat kota Dimana kita menapaki jejak pertama Hamparan pohon terbentang yang memanjakan mata Ditemani dengur hingar bingar kendaraan sapuan angin terus mengibaskan aksaranya Dalam degakap bait sajak dan baris prosa Menggapai hari di sebuah tempat yang sama Seonggok bunga tumbuh menumbuhkan mahkota Tentang waktu yang tak bisa terulangi Tentang luka yang selalu siap mengajari Tentang kehilangan yang selalu saja melukai Tentang tawa dan kehadiran yang selalu mengisi Tentang kesempatan yang datang silih berganti Tentang kegagalan dan pencapaian yang berarti Tentang kenangan yang akan selalu mengabadi dan tentang sebuah tanda tanya baru di esok hari apakah langit yang memilih senja agar memiliki arti ataukah senja hanya memasuki hari dengan apati? waktu bayang senja yang hampir sempurna membias di langit perhalan memerah laksana gelap dengan sengit hanya menandakan suatu langkah pasti yang cepat lambat akan berubah panti sudah dua tahun r...

Di belakangmu

"I hate to think that I been wasting anybody's time But I don't know no other way. It's hard to say what's right I never meant to cause you any kind of pain I wish I coulda made it work some other way" Melanglang jauh di dasar samudra jatuh dan tersungkur di langit ke tujuh apa arti dari histori? tanpa dia tau apa yang sebenarnya terjadi? maaf, terlalu takut karena terlalu tersesat membuat marah angin pasat karena tahu pikiran ini kelamkabut hal-hal yang terjadi akhir-akhir itu terlalu membuat kalut takut melihat sesuatu yang berharga dalam keadaan keruh takut merusak indah senyumnya yang sedang bergemuruh takut melihatnya dengan diri yang sedang menggeruh banyak yang harus dirinya tahu hari itu seharusnya menjadi akhir dari semua deru yang bisa berakhir dengan rindu atau yang bisa berakhir dengan sendu tapi dia sedang bersenda bersama teman-temannya teman-teman yang ia sayang tanpa tanya tak akan sudi diri merusak momennya yang berharga ...

numb

"Everything is backwards ever since the new beginning God has given me the vision so that I can see my fate Blind can't lead the blind and if we try then we'll be spinning In a cycle in position trying to find a better place" Tengah malam sebentar lagi malam tiba Dikelilingi gelap, ditemani nada Perihnya memaksa menutup mata Perlahan menggerogoti raga Suara samar memaksa tetap terjaga Perlahan hilang dikerumbuni gelap Jiwa memudar memaksa terlelap Mata terbuka lebar menatap Memutar kembali apa yang terlewat Dalam ribuan langkah penuh penat Mengenang indahnya berbagai warna Hingga mata terbuka seketika Sadar hanya sepercik indah dari realita Menatap hitam penuh tanya "Kau terlalu banyak berpikir, berhenti" Tapi bagaimana jika esok tak datang lagi? Bagaimana jika esok mentari enggan menunjukan sinarnya lagi? Bagaimana jika esok siang akan sedingin malam ini? Bagaimana jika esok tak ada lagi bintang dalam malam-malam yang semakin...

sod

"Life is like a race and we all tryna finish it Shit never fair, strays hitting the innocent The good die young where I'm from and it's sad to say That somebody gotta die today Tomorrow's never promised, but we living for the moment." Mengalir dalam kegaduhan Memaksa menghilangkan angan Melihat jauh penuh segan Lalu melihat kebelakang dengan senyuman Mengingat betapa emasnya Takut dituakan masa Bak air tanpa alir Tak tahu jalan ke muara akhir Aku ingin hidup seperti kupu-kupu Terbang bebas ke langit biru Jauh dari hal-hal saru Atau mungkin aku tidak tahu "As I reflect, I start realizing I wanna Make a way one day for me and my momma, family and friends This ain't the way my life bout to end So I'm quick to grab on my pen and Give them something my people sure to feel Give them something that I know is all the way real" (black hippy, shadow of death)

konon

"Lighting stog after stog, choke on the smoke They tell me to quit, don't listen to what I'm told Help me forget that this world is so cold I don't even know what I'm chasing no more" ----- "Konon" hening tercipta di setiap sisi duduk bersimpuh mengingat diri sunyi dan sepi meninggalkan sepi yang tak terbaca dan pergi manusia kala itu, datang di pagi hari dan meramu menangis dalam duduk sampai akhir yang sendu dan manusia kala itu, pergi untuk bertemu berjabat lisan menyambut tertidur dalam pekatnya kabut manusia kala itu juga percaya, konon anak domba mencari induknya karena rumput sudah tak tumbuh lagi disekitarnya hingga ia beralih memberitahu bahwa sudah saatnya pindah dan mencari bersama mentarinya selagi bisa, sebelum senja tiba ------ "Knowing all of this Just don't make a difference I'm just talking shit to the ones that will listen I come with the heat man, I swear I'm never m...

4/20 aku liar

Lembar jawaban dalam buku tak berguna Kadang terdapat salah cetak diantaranya Fucklah! Buku macam apa ini Ku tak mengerti Untuk apa ku beli Harus juga ku buka dunia maya Mencari lewat sebuah saluran pipa Agar aku tak sebodoh keledai Dan berjalan ke arah badai Aku, Rasanya aku ingin berkata kasar Kata kasar yang belum pernah aku ucap Tak kuasa menahan mulut bernanah Tapi itu dilarang mamah Kartiniku bilang itu perkataan setan Dan aku bukan setan Fuck buku terbitan the king eduka Pembahasan tak berguna Tak mengerti satu kata pun Hingga aku harus jatuh bangun Sebenarnya dua ratus ribu cukup tuk beli alkohol Tapi sayang aku tak minum Yasudah, tak apalah! Paling tidak dapat soal baru Bisa ku cari jawaban di langit biru Bukankah mereka bilang banyak jalan menuju roma? Sampai aku berakhir dalam suarga Fucklah! Lima belas soal ku butuh satu jam Andai saja pembahasannya lebih mudah Tak akan aku membuang waktu selama itu Aku gundah Fucklah! Internet ku mati nyal...

Empty Bottles

"Empty bottles on the table Black roses on the ground Silhouettes of people dancing To an unfamiliar sound Hello stranger, can I call you a friend? My friend, I'm going down With empty bottles on the table Black roses on the ground." ------ "filosofi" Bayangan samar ditemaram malam Mata tajam menatap angkasa legam Melihat jutaan angka kelam Bertanya kapan semuanya kan sirna dan tenggelam Mabuk tak bisa memuaskan semuanya Berharap hilang ingatan dan kembali semula Begadang dan mengadang cemas Menggenggam anarki yang menjadi filosofi Tak bisa hidup terus menerka Jerinx pernah berkata Semakin mengerti dunia, Semakin kau ingin membakarnya. Tetapi Jackson Teller juga pernah berkata Itulah bagaimana kau belajar menjadi seorang lelaki, Melawan hal yang paling menyakitkan di dunia Semuanya mengerti Rendah untuk tinggi Dan tinggi untuk kembali Mengingat tak ada yang abadi Bising, Gaduh, Riuh, Tak menentu Gelap menebar De...